Indonesia Catat Kasus Penipuan Lowongan Kerja Tertinggi di Asia Pasifik
Indonesia mencatat kasus penipuan lowongan kerja tertinggi di Asia Pasifik menurut Jobstreet–Seek. Modusnya mulai dari lowongan palsu, permintaan deposit, hingga penyamaran sebagai lembaga penempatan kerja. Ketahui sektor rawan dan cara menghindarinya.
Eksplora.id - Fenomena penipuan lowongan kerja di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Temuan terbaru dari SEEK, perusahaan induk Jobstreet dan JobsDB, menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kasus penipuan lowongan kerja tertinggi di Asia Pasifik. Laporan ini dirilis dalam rangka International Fraud Awareness Week 2025, yang menyoroti tren penipuan digital dan rekrutmen palsu yang terus meningkat di kawasan.
Menurut SEEK, 38 persen kasus yang dilaporkan terjadi di Indonesia, dan jika melihat skala Asia, angka tersebut merepresentasikan 62 persen dari total kasus penipuan lowongan kerja di wilayah Asia. Tingginya angka ini menunjukkan bahwa pencari kerja Indonesia kini menjadi target empuk bagi sindikat penipuan yang beroperasi secara digital maupun offline.
Modus Penipuan yang Paling Dominan: Komisi Cepat dan Deposit Uang
Operations Director Jobstreet by Seek Indonesia, Willem Najoan, menjelaskan bahwa bentuk penipuan kini semakin canggih, menyasar masyarakat yang membutuhkan pekerjaan cepat dengan janji penghasilan tinggi. Modus paling sering melibatkan pekerjaan palsu di bidang marketing dan paruh waktu. Pelaku menawarkan tugas sederhana, misalnya memberi rating produk atau mengikuti aktivitas pemasaran ringan, lalu menjanjikan komisi besar dalam hitungan menit.
Setelah beberapa komisi kecil diberikan untuk membangun kepercayaan, korban diminta menyetor deposit yang diklaim sebagai syarat aktivasi akun. Begitu dana ditransfer, pelaku langsung memblokir kontak dan menghilang.
Modus ini marak ditemukan di WhatsApp, Telegram, hingga iklan media sosial yang tampak profesional.
Sindikat Lowongan Palsu Berkedok LPTKS
Investigasi yang dilakukan SEEK juga menemukan jaringan penipuan di Jakarta yang menyamar sebagai LPTKS (Lembaga Penempatan Tenaga Kerja Swasta). Sindikat ini membuat website palsu dengan tampilan resmi, lengkap dengan logo hingga struktur organisasi fiktif.
Mereka menawarkan pekerjaan bergaji tinggi, termasuk penempatan luar negeri, dan meminta korban membayar biaya registrasi, uang seragam, atau dokumen keberangkatan. Banyak korban tidak menyadari bahwa lowongan tersebut tidak pernah ada dan perusahaan yang tercantum pun fiktif.
Lowongan yang dipalsukan kebanyakan berada di sektor yang paling banyak diminati pencari kerja, yaitu:
-
Administrasi
-
Manufaktur
-
Logistik
-
Ritel
Sektor-sektor tersebut dipilih karena tidak memerlukan keahlian teknis tinggi, sehingga mudah menarik korban dari berbagai latar belakang pendidikan.
Dampak Penipuan: Dari Kerugian Finansial hingga TPPO
Menurut Willem Najoan, fenomena penipuan lowongan kerja tidak lagi bisa dianggap kejahatan kecil. Modus ini kini terkait dengan risiko tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Banyak korban yang menyerahkan data pribadi berupa KTP, nomor rekening, hingga dokumen keluarga, yang kemudian digunakan untuk membuka akun ilegal atau aktivitas kriminal lain.
Secara finansial, kerugian korban bervariasi dari ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah karena deposit dilakukan bertahap. Bahkan ada korban yang dipaksa mengikuti skema penugasan yang semakin mahal dengan dalih “membuka level pekerjaan”.
Cara Mengenali dan Menghindari Penipuan Lowongan Kerja
Untuk melindungi masyarakat, Jobstreet–Seek mengimbau pencari kerja melakukan beberapa langkah penting:
-
Jangan percaya gaji tidak wajar, terutama untuk pekerjaan pemula.
-
Perusahaan resmi tidak pernah meminta uang untuk proses rekrutmen.
-
Cek legalitas perusahaan, mulai dari NIB, alamat kantor, hingga nomor telepon.
-
Gunakan platform resmi yang melakukan verifikasi perusahaan seperti Jobstreet dan JobsDB.
-
Waspada lowongan yang meminta data pribadi terlalu lengkap di awal.
-
Laporkan lowongan mencurigakan ke platform terkait atau aparat berwenang.
SEEK juga mendorong perusahaan untuk lebih aktif mengedukasi publik dan melakukan verifikasi lowongan agar tidak dimanfaatkan oleh oknum.
Tingkatkan Literasi, Cegah Jadi Korban
Tingginya kasus penipuan lowongan kerja di Indonesia menandakan urgensi literasi digital dan kehati-hatian dalam menerima tawaran pekerjaan. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah tergiur janji komisi cepat, proses instan, atau gaji tidak masuk akal.
Dengan meningkatnya modus baru dan keterlibatan sindikat terorganisir, pencari kerja harus lebih kritis sebelum menyerahkan uang maupun data pribadi. Semakin banyak masyarakat melek informasi, semakin kecil peluang pelaku penipuan menjalankan aksinya.**
Baca juga artikel lainnya :

