Rahasia Kolam Garam Sakral di Kurulu, Papua Pegunungan
Kolam garam sakral Kurulu di Lembah Baliem, Papua Pegunungan, menyimpan tradisi kuno pengolahan air garam alami bernama iluge yang dijaga turun-temurun hingga kini.
Eksplora.id - Di balik bentang alam Lembah Baliem yang megah dan sejuk, tersimpan sebuah warisan budaya yang jarang diketahui publik luas. Di wilayah Kurulu, Papua Pegunungan, terdapat kolam air garam sakral yang telah dimanfaatkan masyarakat setempat sejak zaman kuno. Kolam ini bukan sekadar sumber rasa asin, melainkan bagian dari sistem pengetahuan, ritual, dan kearifan lokal yang bertahan lintas generasi.
Bagi masyarakat Kurulu, kolam garam ini adalah ruang yang hidup—tempat alam, manusia, dan kepercayaan saling terhubung.
Kurulu dan Perjalanan Menuju Kolam Sakral
Kurulu berada di kawasan Lembah Baliem, wilayah yang dikenal sebagai jantung budaya masyarakat pegunungan Papua. Untuk mencapai kolam garam sakral, warga maupun pendatang harus menempuh perjalanan sekitar 1 hingga 2 jam, menyusuri jalur alam dengan kontur khas pegunungan.
Perjalanan ini bukan sekadar jarak fisik, melainkan juga perjalanan simbolik menuju ruang yang dianggap suci. Karena itulah, setiap langkah menuju kolam dilakukan dengan sikap hormat terhadap alam dan adat setempat.
Ritual Penyucian bagi Pendatang
Tidak semua orang bisa langsung mencicipi air dari kolam garam Kurulu. Setiap orang luar yang datang wajib menjalani ritual penyucian terlebih dahulu. Biasanya, tubuh pendatang akan disiram dengan air dari kolam, sebagai tanda pembersihan diri dan penghormatan terhadap tempat sakral.
Ritual ini menjadi bentuk penerimaan secara adat, sekaligus pengingat bahwa kolam tersebut bukan sekadar sumber daya alam, melainkan warisan spiritual yang dijaga bersama.
Iluge, Air Garam Kehidupan
Air garam dari kolam ini disebut iluge oleh masyarakat setempat. Iluge bukan hanya soal rasa asin, tetapi simbol kehidupan dan keberlanjutan.
Masyarakat Kurulu biasanya membawa jerigen atau pelepah pisang untuk mengambil iluge. Penggunaan pelepah pisang bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari teknik tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Proses Tradisional dengan Pelepah Pisang
Pelepah pisang terlebih dahulu dikupas hingga tersisa bagian tengahnya saja. Setelah itu, serat-seratnya dihancurkan hingga lembut. Pelepah yang telah diolah ini kemudian direndam ke dalam kolam iluge.
Proses perendaman berlangsung hingga serat pelepah menyerap air garam dan berubah warna menjadi keunguan, tanda bahwa kandungan garam telah meresap sempurna. Teknik ini menunjukkan pemahaman lokal yang mendalam terhadap sifat bahan alami tanpa alat modern.
Cara Mengonsumsi Iluge
Sesampainya di rumah, iluge dimanfaatkan dengan berbagai cara. Beberapa orang meminum air garam langsung, terutama dalam jumlah kecil, sebagai bagian dari kebiasaan tradisional.
Cara lain yang lebih umum adalah mengonsumsi rendaman pelepah pisang bersama daging atau sayuran. Rasa asin alami dari pelepah tersebut berfungsi seperti bumbu, memperkaya cita rasa masakan tanpa tambahan garam buatan.
Ada pula metode lanjutan yang unik. Pelepah pisang yang telah menyerap iluge dibakar hingga menjadi arang, kemudian digunakan layaknya garam dapur tradisional. Cara ini memungkinkan penyimpanan lebih lama dan pemakaian bertahap.
Garam sebagai Simbol Sosial dan Budaya
Di masyarakat Kurulu, iluge tidak hanya bernilai konsumsi. Garam memiliki fungsi sosial yang penting, mulai dari jamuan adat hingga simbol kebersamaan. Keberadaan kolam garam menjadi penopang kehidupan komunitas di wilayah yang jauh dari akses garam laut.
Tradisi ini membuktikan bahwa masyarakat Papua Pegunungan telah lama memiliki sistem pangan mandiri yang selaras dengan lingkungan sekitarnya.
Pengetahuan Lokal yang Terancam Zaman
Di tengah modernisasi dan masuknya produk industri, praktik pengolahan iluge menghadapi tantangan. Generasi muda mulai mengenal garam kemasan, sementara pengetahuan tradisional berisiko terpinggirkan jika tidak didokumentasikan dan dilestarikan.
Padahal, kolam garam Kurulu menyimpan nilai penting, tidak hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai identitas budaya dan bukti kecerdasan ekologis masyarakat adat Papua.
Menjaga Warisan dari Lembah Baliem
Kolam garam sakral Kurulu adalah pengingat bahwa Indonesia menyimpan banyak peradaban kecil yang hidup jauh sebelum konsep industri modern dikenal. Dari pelepah pisang hingga ritual penyucian, semua proses mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Melestarikan kolam iluge bukan sekadar menjaga tradisi lokal, tetapi juga menghormati cara hidup yang telah menopang masyarakat Lembah Baliem selama berabad-abad.
Di Kurulu, garam bukan sekadar bumbu—ia adalah cerita, ritual, dan warisan yang terus mengalir dari masa lalu ke masa depan.**DS
Baca juga artikel lainnya :
garam-rebus-aceh-warisan-emas-putih-sejak-zaman-kesultanan-samudra-pasai

