Anxious Attachment Style: Kenapa Kita Selalu Takut Ditinggalkan?

Anxious attachment style adalah pola keterikatan cemas yang membuat seseorang takut ditinggalkan dalam hubungan. Kenali penyebab, tanda-tanda, dan cara mengatasinya di sini.

Feb 24, 2026 - 00:48
 0  2
Anxious Attachment Style: Kenapa Kita Selalu Takut Ditinggalkan?
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Pernah merasa gelisah saat pesan belum dibalas? Pikiran langsung berkelana ke kemungkinan terburuk. Takut diabaikan. Takut tidak lagi dicintai. Takut ditinggalkan. Padahal belum tentu ada masalah.

Jika pola ini terasa akrab, bisa jadi itu bukan sekadar “terlalu perasa”. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai anxious attachment style atau gaya keterikatan cemas.

Istilah ini merujuk pada pola hubungan emosional yang membuat seseorang sangat membutuhkan kepastian, validasi, dan kedekatan dalam hubungan. Di balik kebutuhan itu, ada ketakutan mendalam: ditinggalkan atau dianggap tidak cukup berharga.


Apa Itu Anxious Attachment Style?

Konsep attachment style berasal dari teori keterikatan yang dikembangkan oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth. Teori ini menjelaskan bagaimana pola hubungan kita dengan orang tua atau pengasuh di masa kecil membentuk cara kita menjalin hubungan saat dewasa.

Anxious attachment biasanya berkembang ketika anak mengalami pola pengasuhan yang tidak konsisten. Kadang diberikan perhatian penuh, kadang diabaikan. Kadang dipeluk hangat, kadang dimarahi tanpa penjelasan.

Akibatnya, anak tumbuh dengan perasaan tidak aman. Ia belajar bahwa cinta itu tidak selalu stabil. Dan ketika dewasa, ketidakamanan itu terbawa ke hubungan romantis, persahabatan, bahkan relasi kerja.


Tanda-Tanda Anxious Attachment

Orang dengan anxious attachment sering kali terlihat sangat peduli dan penuh perhatian. Namun di balik itu, ada kecemasan yang konstan.

Mereka cenderung:

Merasa cemas jika pasangan tidak responsif.
Membutuhkan kepastian berulang bahwa mereka dicintai.
Takut konflik karena khawatir akan ditinggalkan.
Overthinking terhadap perubahan kecil dalam sikap pasangan.
Sulit merasa cukup, meski sudah mendapat perhatian.

Bukan karena mereka manja. Bukan karena lemah. Tetapi karena sistem emosionalnya selalu siaga terhadap ancaman kehilangan.


Kenapa Rasa Takut Itu Begitu Kuat?

Bagi seseorang dengan anxious attachment, hubungan bukan sekadar kebersamaan. Hubungan adalah sumber rasa aman.

Ketika ada jarak, meski kecil, tubuh bereaksi seperti sedang menghadapi ancaman nyata. Detak jantung meningkat. Pikiran menjadi negatif. Imajinasi dipenuhi skenario terburuk.

Secara neurologis, otak memproses potensi penolakan seperti rasa sakit fisik. Itulah sebabnya “dibaca tapi tidak dibalas” bisa terasa menyakitkan secara nyata.

Masalahnya, ketakutan ini sering memicu perilaku yang justru membuat hubungan menjadi tegang. Terlalu sering menuntut kepastian bisa membuat pasangan merasa tertekan. Terlalu sering overthinking bisa menciptakan konflik yang sebenarnya tidak ada.


Apakah Anxious Attachment Bisa Berubah?

Kabar baiknya: ya, bisa.

Attachment style bukan vonis seumur hidup. Ia adalah pola yang bisa dipahami dan diubah melalui kesadaran diri.

Langkah pertama adalah menyadari bahwa rasa takut ditinggalkan bukan selalu tentang pasangan saat ini, melainkan tentang luka lama yang belum sembuh.

Belajar menenangkan diri tanpa selalu mencari validasi eksternal adalah kunci. Teknik seperti journaling, terapi, atau latihan regulasi emosi bisa membantu memperkuat rasa aman dari dalam.

Selain itu, berada dalam hubungan yang sehat dan konsisten juga sangat membantu. Pasangan yang komunikatif dan stabil dapat perlahan mengubah pola lama menjadi lebih aman (secure attachment).


Bukan Lemah, Tapi Sensitif

Orang dengan anxious attachment sering dicap terlalu sensitif atau terlalu posesif. Padahal, di sisi lain, mereka biasanya sangat empatik, perhatian, dan setia.

Mereka peduli secara mendalam. Mereka mencintai dengan sungguh-sungguh. Hanya saja, mereka perlu belajar bahwa cinta tidak selalu berarti ancaman kehilangan.

Memahami gaya keterikatan ini membantu kita lebih empati—baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Daripada menyalahkan diri karena “terlalu butuh”, lebih baik memahami bahwa itu adalah mekanisme bertahan yang terbentuk sejak lama.


Mencintai Tanpa Takut

Takut ditinggalkan adalah ketakutan yang sangat manusiawi. Namun hubungan yang sehat seharusnya tidak dibangun di atas kecemasan konstan.

Anxious attachment bukan tentang kelemahan, melainkan tentang kebutuhan akan rasa aman yang belum sepenuhnya terpenuhi.

Dan kabar baiknya, rasa aman itu bisa dibangun. Perlahan. Sadar. Konsisten.

Karena pada akhirnya, cinta yang sehat bukan tentang menggenggam erat karena takut kehilangan, tetapi tentang percaya bahwa kita cukup berharga untuk dicintai—tanpa harus terus-menerus merasa terancam.**DS

Baca juga artikel lainnya :

kenapa-kita-lebih-mudah-marah-ke-orang-terdekat-ini-penjelasan-psikologinya