“Dilarang Miskin” di Negara Bhutan

Bhutan dikenal sebagai negara yang seolah “melarang kemiskinan” dengan sistem sosial yang melindungi warganya. Bagaimana rasanya hidup di negara yang mengutamakan kebahagiaan, bukan kekayaan?

Feb 4, 2026 - 09:22
 0  0
“Dilarang Miskin” di Negara Bhutan
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Bayangkan hidup di sebuah negara di mana kemiskinan bukan sesuatu yang dibiarkan tumbuh, bukan pula dijadikan stigma. Di Bhutan, sebuah negara kecil di kawasan Himalaya, tidak ada istilah resmi “dilarang miskin” dalam undang-undang. Namun dalam praktik bernegara, kemiskinan benar-benar tidak diberi ruang untuk bertahan lama.

Bhutan dikenal dunia bukan karena kekuatan militernya atau kekayaan alamnya, melainkan karena satu filosofi unik: kebahagiaan rakyat lebih penting daripada pertumbuhan ekonomi. Dari sinilah muncul konsep Kebahagiaan Nasional Bruto, sebuah ukuran kesejahteraan yang menempatkan manusia, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan di atas angka pendapatan.

Negara yang Tidak Membiarkan Warganya Jatuh Terlalu Dalam

Di Bhutan, jika seseorang kehilangan pekerjaan, sakit, atau mengalami kesulitan ekonomi berat, negara hadir lebih cepat dibandingkan mekanisme pasar. Pendidikan dan layanan kesehatan diberikan secara gratis. Kebutuhan dasar warga dijaga agar tetap terpenuhi, terutama di wilayah pedesaan.

Kemiskinan ekstrem ditekan bukan dengan hukuman, melainkan dengan perlindungan. Negara berupaya memastikan bahwa tidak ada warga yang hidup tanpa akses makanan, tempat tinggal layak, dan perawatan medis. Dalam konteks inilah muncul anggapan bahwa “miskin” seolah tidak diperbolehkan, karena sistemnya tidak membiarkan seseorang jatuh terlalu lama dalam kondisi tersebut.

Tidak Kaya Raya, Tapi Tidak Ditinggalkan

Bhutan bukan negara kaya. Pendapatan per kapita mereka tidak setinggi negara maju. Namun perbedaannya terletak pada cara negara memandang warganya. Warga tidak dituntut untuk kaya, tetapi dijaga agar tidak menderita.

Bagi masyarakat Bhutan, hidup sederhana bukanlah aib. Yang dianggap bermasalah justru ketika seseorang kehilangan martabat karena tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya. Negara berperan sebagai penyangga, bukan penonton.

Bagaimana Rasanya Tinggal di Negara Seperti Itu?

Hidup di Bhutan berarti tumbuh dengan rasa aman sosial. Bukan aman karena harta, tetapi aman karena tahu bahwa negara tidak akan membiarkan warganya terlupakan. Tekanan hidup tetap ada, namun tidak dibarengi kecemasan ekstrem akan biaya rumah sakit, pendidikan anak, atau kelaparan.

Bagi banyak orang, konsep ini terasa asing. Di banyak negara lain, miskin sering kali dianggap kegagalan pribadi. Di Bhutan, kemiskinan dipandang sebagai masalah bersama yang harus diselesaikan secara kolektif.

Bahagia Bukan Soal Banyaknya Uang

Bhutan mengajarkan dunia bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari gaji besar atau pertumbuhan ekonomi tinggi. Kebahagiaan juga datang dari rasa cukup, rasa aman, dan rasa dihargai sebagai manusia.

Konsep ini memang tidak sempurna dan tidak bisa langsung diterapkan di semua negara. Namun Bhutan memberi pelajaran penting: negara bisa memilih untuk tidak membiarkan kemiskinan menjadi nasib yang diwariskan.

Refleksi untuk Dunia Modern

Di tengah dunia yang sering mengukur kesuksesan dari angka dan kepemilikan, Bhutan mengajukan pertanyaan sederhana namun dalam: apa arti hidup yang layak bagi warganya?

Mungkin “dilarang miskin” bukan tentang melarang orang menjadi miskin, melainkan tentang keberanian negara untuk berkata, tidak boleh ada warganya yang ditinggalkan sendirian.**DS

Baca juga artikel lainnya :

egg-coffee-vietnam-perpaduan-unik-kopi-dan-telur-yang-menggugah-selera