Kenapa Nyamuk Seperti “Pilih-Pilih” Orang? Ternyata Ini Penjelasan Ilmiahnya
Kenapa ada orang yang lebih sering digigit nyamuk dibanding lainnya? Simak penjelasan ilmiah tentang peran karbon dioksida, suhu tubuh, keringat, hingga golongan darah dalam menarik nyamuk.
Eksplora.id - Pernah nggak sih kamu duduk santai di satu ruangan bersama beberapa orang, tapi yang pulang dengan kaki penuh bentol cuma kamu? Sementara yang lain terlihat aman tanpa satu pun gigitan? Banyak orang mengira ini soal “nasib apes”. Padahal, secara ilmiah, nyamuk memang punya preferensi.
Nyamuk bukan serangga yang asal hinggap. Mereka menggunakan kombinasi sensor kimia dan suhu untuk memilih target. Jadi kalau kamu sering jadi “korban”, bisa jadi tubuhmu memang lebih menarik bagi mereka.
Karbon Dioksida: Sinyal Utama yang Tak Terlihat
Faktor pertama yang paling kuat adalah karbon dioksida (CO₂). Setiap kali kita bernapas, kita mengeluarkan gas ini. Nyamuk betina—yang memang menggigit manusia untuk mendapatkan protein dari darah—mampu mendeteksi karbon dioksida dari jarak cukup jauh.
Semakin banyak karbon dioksida yang dikeluarkan, semakin mudah nyamuk menemukan targetnya. Orang dengan metabolisme lebih tinggi, tubuh lebih besar, atau yang sedang aktif berbicara dan bergerak biasanya menghasilkan CO₂ lebih banyak. Itu sebabnya orang dewasa cenderung lebih sering digigit dibanding anak kecil.
Suhu Tubuh dan Panas Kulit
Nyamuk juga tertarik pada panas. Tubuh manusia memancarkan panas, terutama di area pembuluh darah yang dekat permukaan kulit. Orang dengan suhu tubuh sedikit lebih tinggi, atau yang baru selesai beraktivitas fisik, cenderung lebih menarik bagi nyamuk.
Ibu hamil, misalnya, dalam beberapa studi diketahui lebih sering digigit nyamuk karena suhu tubuh dan produksi karbon dioksidanya meningkat dibandingkan rata-rata orang lain.
Bau Tubuh dan Keringat
Menariknya, nyamuk tidak tertarik pada keringat “baru”, melainkan pada senyawa kimia yang dihasilkan ketika keringat bercampur dengan bakteri di kulit. Asam laktat, amonia, dan beberapa senyawa volatil lainnya menjadi sinyal kuat bagi nyamuk.
Setiap orang memiliki komposisi bakteri kulit yang berbeda. Itulah sebabnya dua orang yang duduk berdampingan bisa mengalami jumlah gigitan yang sangat berbeda. Secara sederhana, “aroma alami” tubuh kita memang unik—dan bagi nyamuk, itu seperti menu pilihan.
Golongan Darah: Benarkah O Lebih Sering Digigit?
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang dengan golongan darah O cenderung lebih sering digigit nyamuk dibanding golongan darah A atau B. Meski perbedaannya tidak selalu ekstrem, kecenderungan ini cukup konsisten dalam beberapa studi laboratorium.
Menariknya lagi, sekitar 80 persen manusia secara alami mengeluarkan sinyal kimia melalui kulit yang memberi “petunjuk” tentang golongan darahnya. Jika kamu termasuk yang mengeluarkan sinyal ini, nyamuk lebih mudah “memutuskan” untuk hinggap.
Jadi, kalau kamu bergolongan darah O dan sering jadi sasaran, mungkin memang bukan kebetulan.
Faktor Tambahan yang Sering Tak Disadari
Warna pakaian juga bisa berpengaruh. Nyamuk lebih tertarik pada warna gelap seperti hitam, biru tua, atau merah karena lebih mudah terlihat secara visual. Alkohol pun disebut-sebut dapat meningkatkan risiko gigitan, kemungkinan karena pengaruhnya terhadap metabolisme dan suhu tubuh.
Selain itu, genetika berperan besar. Sekitar 85 persen variasi daya tarik seseorang terhadap nyamuk dipengaruhi faktor genetik. Artinya, kecenderungan sering digigit bisa jadi “warisan biologis”.
Jadi, Bukan Soal Apes
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa nyamuk tidak memilih secara acak. Mereka menggunakan kombinasi sinyal kimia, panas, dan bahkan faktor genetik untuk menentukan target. Jadi ketika kamu merasa selalu jadi korban di antara teman-temanmu, bisa jadi tubuhmu memang lebih “terdeteksi” oleh sistem sensor alami mereka.
Memahami hal sederhana seperti ini membantu kita mengenali tubuh sendiri lebih baik. Dari cara kita bernapas, suhu tubuh, hingga komposisi kulit, semuanya memberi sinyal pada lingkungan sekitar—bahkan pada makhluk sekecil nyamuk.
Lain kali kalau pulang dengan bentol lebih banyak dari yang lain, mungkin kamu bisa tersenyum dan berkata, “Bukan aku yang apes. Nyamuk memang punya selera sendiri.”**DS
Baca juga artikel lainnya :

