Bunyi Jangkrik di Malam Hari Bukan Sekadar “Krik-Krik”, Ini Bahasa Alam dan Termometer Alami
Bunyi jangkrik di malam hari bukan sekadar suara alam. “Krik-krik” jangkrik adalah bentuk komunikasi serangga sekaligus indikator suhu udara alami yang menarik untuk dipahami.
Eksplora.id - Suara jangkrik di malam hari sering dianggap sekadar latar alami—pengantar tidur atau penanda suasana pedesaan. Namun di balik bunyi “krik-krik” yang terdengar sederhana itu, tersimpan sistem komunikasi biologis yang kompleks dan menakjubkan. Lebih dari itu, bunyi jangkrik bahkan bisa digunakan sebagai penunjuk suhu udara alami, sebuah fenomena yang jarang disadari banyak orang.
Dalam dunia biologi, jangkrik bukan hanya serangga malam biasa. Mereka adalah contoh nyata bagaimana alam menciptakan mekanisme komunikasi yang efisien tanpa teknologi modern.
Bagaimana Jangkrik Menghasilkan Bunyi?
Bunyi jangkrik dihasilkan hampir sepenuhnya oleh jangkrik jantan melalui proses yang disebut stridulasi. Proses ini terjadi ketika jangkrik menggesekkan kedua sayap depannya.
Satu sayap memiliki struktur menyerupai penggaruk, sementara sayap lainnya memiliki deretan seperti gerigi. Saat kedua bagian ini digesekkan, timbul getaran yang kemudian diperkuat oleh rongga sayap, menghasilkan suara khas yang kita dengar.
Menariknya, setiap spesies jangkrik memiliki pola bunyi yang berbeda. Perbedaan ini mencakup:
-
Kecepatan bunyi
-
Ritme dan jeda
-
Nada dan intensitas suara
Pola ini berfungsi layaknya identitas akustik, sehingga jangkrik betina dapat membedakan jantan dari spesies yang sama.
Fungsi Bunyi Jangkrik dalam Kehidupan Alami
Bunyi jangkrik bukanlah aktivitas tanpa tujuan. Setidaknya ada tiga fungsi utama di balik suara malam ini.
1. Panggilan Kawin
Fungsi paling utama adalah menarik jangkrik betina. Betina memiliki kemampuan untuk melacak arah suara jantan melalui perilaku yang disebut phonotaxis. Dengan mengikuti sumber suara, betina dapat menemukan pasangan yang sesuai.
Uniknya, betina tidak asal datang. Mereka peka terhadap kualitas bunyi, termasuk ritme dan kekuatan suara, yang menjadi indikator kesehatan jantan.
2. Penanda Wilayah
Selain untuk menarik pasangan, bunyi juga berfungsi sebagai peringatan wilayah. Jangkrik jantan menggunakan suara untuk memberi sinyal kepada jantan lain agar tidak memasuki area kekuasaannya. Jika ada jantan lain yang tetap mendekat, konflik fisik bisa terjadi.
3. Indikator Suhu Udara
Inilah bagian paling menarik: kecepatan bunyi jangkrik dipengaruhi oleh suhu udara. Semakin hangat lingkungan, semakin cepat jangkrik berbunyi. Sebaliknya, saat udara dingin, irama bunyi menjadi lebih lambat.
Hal ini terjadi karena suhu memengaruhi metabolisme dan kerja otot jangkrik. Pada suhu tinggi, reaksi biokimia dalam tubuh berlangsung lebih cepat, sehingga gerakan sayap pun meningkat.
Rumus Dolbear: Mengukur Suhu dari Bunyi Jangkrik
Fenomena ini pertama kali dijelaskan oleh Amos Dolbear, seorang fisikawan Amerika. Ia merumuskan hubungan antara frekuensi bunyi jangkrik dan suhu udara, yang kemudian dikenal sebagai Hukum Dolbear.
Cara sederhana memperkirakan suhu udara (dalam °C):
-
Hitung jumlah bunyi jangkrik selama 25 detik
-
Bagi 3
-
Tambahkan 4
Hasil perhitungan tersebut memberikan perkiraan suhu udara dalam derajat Celsius.
Rumus ini paling akurat jika diterapkan pada snowy tree cricket, namun pada spesies lain tetap memberikan perkiraan yang cukup mendekati.
Faktor yang Mempengaruhi Akurasi Bunyi Jangkrik
Meski terdengar akurat, bunyi jangkrik tidak selalu “patuh” pada rumus. Beberapa faktor yang memengaruhi hasil antara lain:
-
Jenis dan spesies jangkrik
-
Usia dan kondisi fisik jangkrik
-
Kelembapan udara
-
Intensitas cahaya lingkungan
Akibatnya, hasil pengukuran bisa meleset beberapa derajat. Namun, untuk ukuran sistem alami tanpa alat, akurasi ini tetap mengesankan.
Bunyi Malam yang Penuh Makna
Suara jangkrik mengajarkan bahwa alam memiliki bahasa sendiri—bahasa yang bekerja pelan, konsisten, dan penuh fungsi. Bunyi yang sering kita anggap sepele ternyata menyimpan informasi tentang reproduksi, interaksi sosial, dan kondisi lingkungan.
Jadi, lain kali ketika malam terasa sunyi dan jangkrik mulai bernyanyi, dengarkan lebih saksama. Itu bukan sekadar suara alam, melainkan sinyal biologis yang telah berevolusi selama jutaan tahun.
Di balik “krik-krik” yang sederhana, alam sedang berbicara.**DS
Baca juga artikel lainnya :
dari-batang-pohon-ke-permen-perjalanan-resin-serangga-bernama-shellac

