Tarawih Rasa “Open Gate”: Tradisi Amplop di Masjid Agung Sumenep yang Selalu Ditunggu Jamaah
Tradisi tarawih di Sumenep jadi sorotan setelah jamaah menerima amplop Rp300.000 pada 18 Februari 2026. Dalam satu malam, Rp3–4,5 miliar beredar di delapan masjid dan mushala. Simak fenomena “Tarawih rasa open gate” yang menggerakkan ekonomi lokal.
Eksplora.id - Ramadan di Madura selalu punya cerita. Tapi Ramadan tahun ini di Sumenep terasa berbeda. Bukan hanya karena saf tarawih yang penuh, bukan hanya karena gema doa yang panjang, tetapi karena satu faktor yang sulit diabaikan: Rp300.000 per kepala. Tunai. Cash. Amplop putih polos. Tanpa logo. Tanpa watermark. Tanpa embel-embel politik.
Distribusi dilakukan usai tarawih malam pertama, Jumat (18/02/2026). Delapan titik menjadi pusat pembagian: Musala Wakaf Abdullah Kepanjen, Masjid Laju, Masjid Fathimah binti Said Gauzan Manding, Masjid Naqsabandiyah, Mushala Habib Muhsin, Mushala Zainab, Mushala Ba’antar, dan Mushala Bahrez. Di sanalah jamaah yang sejak siang sudah “standby” akhirnya pulang bukan hanya dengan hati tenang, tetapi juga dengan amplop di tangan.
Dari Ibadah ke Injeksi Ekonomi
Estimasi jamaah malam itu mencapai 10.000 hingga 15.000 orang. Jika masing-masing menerima Rp300.000, berarti dalam satu malam beredar sekitar Rp3 miliar sampai Rp4,5 miliar. Satu malam, cak.
Itu bukan lagi sedekah skala RT. Itu injeksi ekonomi setara event daerah. Uang tunai berpindah tangan, langsung ke masyarakat, tanpa birokrasi panjang. Jika dibayangkan secara visual, nominal itu bukan recehan. Kalau ditumpuk mungkin bisa jadi “menara uang” baru di halaman Masjid Agung Sumenep.
Namun yang membuat fenomena ini menarik bukan sekadar jumlahnya, melainkan momentum dan caranya. Dibagikan setelah ibadah, di bulan suci, dalam suasana religius yang penuh kebersamaan.
Amplop Putih Tanpa Identitas
Tidak ada atribut mencolok. Tidak ada pesan terselip. Amplopnya polos. Sederhana. Yang ditunggu jamaah bukan desainnya, tapi nominalnya.
Fakta ini membuat peristiwa tersebut menjadi bahan perbincangan luas. Ada yang melihatnya sebagai sedekah besar di bulan Ramadan. Ada yang menilainya sebagai fenomena sosial unik. Ada pula yang memandangnya sebagai dinamika politik lokal yang tak bisa dilepaskan dari konteks lebih luas.
Namun di lapangan, suasananya sederhana: jamaah salat, berdoa, lalu antre tertib menerima amplop.
Sosok di Balik Layar
Nama yang disebut berada di balik kegiatan ini adalah MH Said Abdullah, anggota DPR RI sekaligus Ketua Badan Anggaran DPR. Sosok yang sehari-hari berkutat dengan angka triliunan rupiah APBN, malam itu justru dikenal lewat angka enam digit: 300.000.
Di tengah rutinitas politik nasional yang kerap terasa jauh dari masyarakat, pembagian tunai dalam jumlah besar seperti ini tentu menghadirkan sensasi berbeda. Langsung. Nyata. Terasa.
Namun terlepas dari siapa pun tokohnya, yang paling mencolok adalah skala dan dampaknya. Tidak setiap hari ada miliaran rupiah beredar langsung di lingkungan masjid dalam satu malam.
Antara Spiritualitas dan Realitas Sosial
Fenomena ini menghidupkan kembali istilah yang ramai diperbincangkan: “Tarawih rasa open gate.” Datang lebih awal. Ikut ibadah. Ending-nya pulang bawa amplop.
Sebagian orang mungkin mempertanyakan motif jamaah yang hadir. Tapi realitas sosial di lapangan sering kali lebih kompleks. Banyak warga yang memang rutin beribadah. Banyak pula yang tentu merasa terbantu dengan tambahan uang tunai di awal Ramadan.
Dalam kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil, Rp300.000 bukan angka kecil. Bisa untuk belanja kebutuhan pokok, membayar listrik, atau menambah modal kecil-kecilan. Dalam hitungan jam, uang itu berputar lagi di pasar, warung, dan toko sekitar.
Wajah Ramadan Nusantara
Tradisi berbagi di bulan suci bukan hal baru di Indonesia. Ada yang membagikan takjil, sembako, atau santunan yatim. Namun skala miliaran dalam satu malam membuat Sumenep menjadi sorotan.
Masjid bukan hanya ruang spiritual, tetapi juga ruang sosial dan ekonomi. Ramadan mempertemukan doa dan daya beli dalam satu momentum.
Pada akhirnya, peristiwa ini menunjukkan satu hal: ibadah di Nusantara sering kali tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan budaya, solidaritas, bahkan dinamika kekuasaan.
Dan malam itu di Sumenep, orang pulang dengan dua hal sekaligus—hati yang selesai menunaikan tarawih, dan amplop putih berisi uang.
Kombo langka yang hanya muncul di bulan suci.**DS
Baca juga artikel lainnya :
salat-tarawih-di-times-square-ribuan-muslim-ramaikan-jantung-kota-new-york

