Takut Makan Melinjo karena Rematik? Saatnya Bedakan Mitos dan Fakta
Takut makan melinjo karena dianggap penyebab rematik? Ketahui perbedaan rematik dan asam urat, fakta kandungan purin biji melinjo, serta manfaat antioksidan pada daun dan kulitnya.
Eksplora.id - Banyak orang langsung menghindari melinjo begitu mendengar kata “rematik” atau “asam urat”. Rasanya sudah terlanjur dicap sebagai biang keladi encok. Padahal, sebelum ikut-ikutan takut, ada satu hal penting yang perlu diluruskan: rematik dan asam urat itu bukan penyakit yang sama.
Rematik adalah istilah umum untuk berbagai gangguan sendi, termasuk rheumatoid arthritis yang bersifat autoimun. Sementara asam urat adalah kondisi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat dan membentuk kristal di sendi sehingga menimbulkan nyeri hebat. Jadi, menyalahkan melinjo atas semua jenis nyeri sendi jelas tidak tepat.
Namun bagaimana dengan asam urat? Di sinilah cerita melinjo menjadi lebih menarik.
Melinjo dan Kandungan Purin: Kenapa Sering Disalahkan?
Melinjo, terutama bagian bijinya yang sering diolah menjadi emping, memang mengandung purin cukup tinggi. Purin adalah senyawa alami yang ketika dipecah tubuh akan menghasilkan asam urat. Jika dikonsumsi berlebihan, terutama pada orang dengan riwayat hiperurisemia, kadar asam urat bisa meningkat dan memicu serangan nyeri sendi.
Karena fakta inilah melinjo sering “divonis bersalah”.
Padahal, persoalannya bukan pada melinjonya semata, melainkan pada jumlah konsumsi dan kondisi tubuh masing-masing. Sama seperti jeroan, seafood tertentu, atau daging merah, konsumsi berlebihan bisa meningkatkan risiko asam urat. Tetapi bukan berarti harus diharamkan sepenuhnya bagi semua orang.
Yang jarang dibahas justru sisi lain dari tanaman unik ini.
Racun dan Penawar dalam Satu Tanaman?
Melinjo sering disebut sebagai tanaman unik karena di dalam satu pohon terdapat bagian yang berpotensi meningkatkan asam urat sekaligus bagian yang justru mengandung zat penurun asam urat.
Bagian bijinya memang tinggi purin. Tetapi kulit dan daunnya mengandung antioksidan kuat, termasuk senyawa resveratrol dan flavonoid, yang dikenal memiliki efek antiinflamasi dan membantu mengontrol kadar asam urat dalam tubuh.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak melinjo, terutama dari kulit dan daunnya, memiliki potensi menghambat enzim xanthine oxidase. Enzim ini berperan dalam pembentukan asam urat. Dengan kata lain, senyawa aktif pada bagian tertentu dari melinjo dapat membantu mengurangi produksi asam urat.
Di sinilah muncul analogi menarik: dalam satu tanaman, terdapat “pemicu” sekaligus “penyeimbang”. Tentu ini bukan berarti kita bebas makan emping tanpa batas, tetapi menunjukkan bahwa melinjo tidak sesederhana stigma yang beredar.
Bijak Konsumsi, Bukan Takut Berlebihan
Masalah terbesar bukan pada melinjo, tetapi pada pola makan keseluruhan. Seseorang yang jarang minum air putih, gemar makanan tinggi purin lain, kurang aktivitas fisik, dan memiliki faktor genetik, tetap bisa mengalami asam urat meski tidak pernah menyentuh emping.
Sebaliknya, orang dengan metabolisme baik dan pola makan seimbang bisa saja mengonsumsi melinjo dalam jumlah wajar tanpa masalah berarti.
Kuncinya ada pada moderasi.
Jika Anda memiliki riwayat asam urat tinggi, sebaiknya memang membatasi konsumsi biji melinjo dan emping. Namun bagian daun dan kulitnya justru bisa diolah menjadi sayur atau bahan herbal yang bermanfaat. Beberapa orang bahkan mengolah daun melinjo sebagai lalapan atau campuran sayur karena kandungan antioksidannya.
Yang perlu dihindari adalah konsumsi berlebihan dan gaya hidup yang memperburuk metabolisme.
Rematik Bukan Asam Urat
Perlu ditekankan kembali bahwa rematik dalam arti rheumatoid arthritis bukan disebabkan oleh makanan tinggi purin. Itu adalah penyakit autoimun yang melibatkan sistem kekebalan tubuh. Mengaitkan semua nyeri sendi dengan melinjo adalah penyederhanaan yang keliru.
Maka, sebelum menyalahkan satu jenis makanan, penting memahami diagnosis yang tepat. Banyak orang merasa “rematik” padahal sebenarnya mengalami osteoarthritis, asam urat, atau sekadar pegal biasa.
Jadi, Masih Takut Makan Melinjo?
Takut boleh, tapi harus berdasarkan ilmu, bukan mitos.
Melinjo bukan musuh. Ia hanya tanaman dengan karakteristik unik. Bijinya memang perlu dibatasi pada kondisi tertentu, tetapi daun dan kulitnya menyimpan potensi manfaat kesehatan.
Alih-alih menghindari sepenuhnya karena stigma, lebih baik memahami cara konsumsi yang bijak. Tubuh kita tidak hanya ditentukan oleh satu jenis makanan, melainkan oleh keseluruhan pola hidup.
Karena sering kali, yang perlu diperbaiki bukan makanannya, tetapi cara kita memakainya.**DS
Baca juga artikel lainnya :

