Ribuan Burung dari Rusia dan China “Mengungsi” ke Tulungagung

Ribuan burung migran dari Rusia dan China datang ke Tulungagung saat musim dingin ekstrem melanda wilayah asalnya. Simak penjelasan lengkap tentang fenomena migrasi burung, jalur internasional, dan dampaknya bagi Indonesia.

Feb 21, 2026 - 23:19
 0  1
Ribuan Burung dari Rusia dan China “Mengungsi” ke Tulungagung
sumber foto : suara jatim

Eksplora.id - Kalau biasanya kita mendengar kabar tentang turis asing datang berlibur ke Indonesia, kali ini Tulungagung kedatangan tamu yang jauh lebih unik. Bukan wisatawan dengan koper besar atau kamera mahal, melainkan ribuan burung migran dari Rusia dan China yang terbang ribuan kilometer demi bertahan hidup.

Fenomena ini bukan sekadar cerita musiman. Ini adalah bagian dari siklus alam yang luar biasa. Saat wilayah Rusia dan sebagian China memasuki musim dingin ekstrem, suhu bisa turun jauh di bawah nol derajat. Dan bagi burung-burung liar, musim dingin bukan hanya soal udara dingin, tetapi juga tentang krisis makanan. Permukaan tanah membeku, danau tertutup es, serangga menghilang, serta tanaman mati sementara.

Di tengah kondisi itulah insting purba mereka bekerja. Mereka terbang meninggalkan habitat asal menuju wilayah yang lebih hangat, termasuk Indonesia. Salah satu titik persinggahan pentingnya? Tulungagung, Jawa Timur.

Mengapa Tulungagung Jadi Tujuan?

Tulungagung bukan dipilih secara kebetulan. Wilayah ini memiliki kombinasi ekosistem yang ideal bagi burung migran, mulai dari area persawahan, sungai, rawa, hingga kawasan pesisir selatan. Lingkungan seperti ini menyediakan sumber makanan melimpah, seperti ikan kecil, serangga, dan organisme air lainnya.

Secara geografis, Indonesia memang berada di jalur migrasi burung internasional yang dikenal sebagai East Asian–Australasian Flyway. Jalur ini menghubungkan wilayah Arktik Rusia hingga Australia dan Selandia Baru. Artinya, Indonesia menjadi “rest area alami” bagi jutaan burung setiap tahunnya.

Tulungagung menjadi salah satu titik aman karena ketersediaan habitat yang masih cukup terjaga. Di saat wilayah asal mereka tertutup salju, di sini mereka menemukan air yang tidak membeku dan makanan yang relatif stabil.

Perjalanan Ribuan Kilometer yang Tidak Mudah

Bayangkan seekor burung kecil dengan berat hanya beberapa ratus gram harus terbang ribuan kilometer melintasi negara, lautan, dan badai. Migrasi burung adalah salah satu keajaiban biologis paling menakjubkan di dunia.

Burung-burung ini tidak memiliki GPS atau peta digital. Mereka mengandalkan medan magnet bumi, posisi matahari, dan bahkan pola bintang di langit malam untuk menentukan arah. Ketepatan navigasi mereka sering kali luar biasa. Tahun demi tahun, mereka bisa kembali ke lokasi yang sama.

Namun perjalanan ini penuh risiko. Banyak yang kelelahan, tersesat, atau menjadi mangsa predator. Karena itu, lokasi persinggahan seperti Tulungagung memiliki peran sangat vital dalam keberlangsungan hidup mereka.

Bukan Sekadar “Mengungsi”, Tapi Strategi Bertahan Hidup

Istilah “mengungsi” mungkin terdengar dramatis, tetapi secara ilmiah ini adalah strategi bertahan hidup yang telah berlangsung ribuan tahun. Migrasi memungkinkan burung untuk tetap mendapatkan makanan, berkembang biak dengan aman, dan menjaga populasi mereka tetap stabil.

Saat musim semi kembali tiba di Rusia dan China, burung-burung ini akan terbang pulang ke utara untuk berkembang biak. Mereka memilih wilayah utara saat musim hangat karena hari lebih panjang, makanan melimpah, dan predator relatif lebih sedikit bagi anak-anak burung.

Siklus ini terus berulang setiap tahun, menjadi bagian dari keseimbangan ekosistem global.

Dampak Positif bagi Tulungagung

Kehadiran ribuan burung migran bukan hanya fenomena alam biasa. Ini juga menjadi potensi besar bagi pengembangan ekowisata dan edukasi lingkungan di Tulungagung.

Birdwatching atau wisata pengamatan burung kini semakin diminati. Banyak fotografer dan pecinta alam rela datang jauh-jauh untuk menyaksikan langsung spesies langka yang hanya muncul pada musim tertentu. Jika dikelola dengan baik, fenomena migrasi ini bisa menjadi daya tarik wisata berbasis konservasi.

Namun ada tanggung jawab besar yang menyertainya. Habitat harus dijaga. Perburuan liar harus dicegah. Ekosistem perairan dan persawahan harus tetap lestari. Jika lingkungan rusak, burung-burung ini akan kehilangan tempat singgah, dan siklus migrasi bisa terganggu.

Alam Mengajarkan tentang Keterhubungan

Fenomena ribuan burung dari Rusia dan China yang datang ke Tulungagung menunjukkan bahwa dunia ini saling terhubung. Apa yang terjadi di belahan bumi utara berdampak langsung pada wilayah tropis seperti Indonesia.

Musim dingin di Rusia bisa berarti langit Tulungagung dipenuhi kawanan burung. Perubahan iklim global pun dapat memengaruhi pola migrasi mereka. Jika suhu berubah terlalu drastis atau habitat rusak, jalur migrasi bisa bergeser bahkan hilang.

Karena itu, menjaga lingkungan lokal sejatinya juga berkontribusi pada keseimbangan ekosistem global.

Ketika Langit Tulungagung Jadi Saksi Perjalanan Dunia

Mungkin banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa setiap tahun, langit Tulungagung menjadi saksi perjalanan panjang makhluk-makhluk kecil yang menembus batas negara tanpa paspor. Mereka datang bukan untuk berlibur, melainkan untuk bertahan hidup.

Fenomena ini mengingatkan kita bahwa alam selalu punya caranya sendiri untuk bertahan. Dan Indonesia, termasuk Tulungagung, memiliki peran penting dalam rantai kehidupan global tersebut.

Jadi, ketika Anda melihat kawanan burung melintas di langit, mungkin itu bukan sekadar burung biasa. Bisa jadi, mereka adalah tamu jauh dari Rusia dan China yang sedang singgah, mengisi tenaga, sebelum melanjutkan perjalanan panjangnya.**DS

Baca juga artikel lainnya :

enggang-burung-ikonik-penjaga-hutan-asia-tenggara