Inovasi Anak Muda Indonesia: Paving Blok dari Sampah Plastik Tertolak

Dalam upaya mengatasi permasalahan sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan, dua anak muda Indonesia, Ovy Sabrina dan Tan Novita, menciptakan inovasi luar biasa dengan mengubah sampah plastik tertolak menjadi paving blok ramah lingkungan.

Feb 9, 2025 - 13:20
 0  110
Inovasi Anak Muda Indonesia: Paving Blok dari Sampah Plastik Tertolak

Eksplora.id - Dalam upaya mengatasi permasalahan sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan, dua anak muda Indonesia, Ovy Sabrina dan Tan Novita, menciptakan inovasi luar biasa dengan mengubah sampah plastik tertolak menjadi paving blok ramah lingkungan. Inovasi ini tidak hanya memberikan solusi terhadap limbah plastik yang sulit terurai, tetapi juga membuka peluang baru dalam pengelolaan sampah dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan.

Mengapa Disebut Sampah Plastik Tertolak?

Sampah plastik tertolak merujuk pada jenis limbah plastik yang biasanya tidak diterima oleh bank sampah maupun pemulung karena rendahnya nilai ekonomis dan sulitnya proses daur ulang. Contoh sampah plastik tertolak meliputi kemasan sachet, kantong plastik, dan bubble wrap. Jenis sampah ini berbeda dengan botol plastik yang memiliki nilai jual tinggi dan lebih mudah didaur ulang.

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 7,8 juta ton sampah plastik per tahun, dengan sebagian besar tidak terkelola dengan baik. Sampah plastik tertolak berkontribusi besar terhadap pencemaran lingkungan karena sulit terurai dan sering kali berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau mencemari laut.

Transformasi Sampah Menjadi Material Kuat dan Berdaya Guna

Dengan pendekatan inovatif, Ovy dan Tan berhasil mengolah limbah plastik tertolak menjadi paving blok berkualitas tinggi. Material paving blok ini mengandung sekitar 20-22% sampah plastik tertolak, yang berfungsi sebagai bahan pengikat dalam proses pembuatannya. Keunggulan utama dari paving blok ini adalah daya tahannya yang tinggi serta ramah lingkungan karena mengurangi jumlah sampah yang mencemari tanah dan perairan.

Produk paving blok ini telah melalui serangkaian uji coba yang dilakukan oleh Badan Bahan dan Barang Teknik Kementerian Perindustrian di Bandung. Hasil uji menunjukkan bahwa paving blok ini memenuhi standar SNI kelas B dengan kekuatan tekan mencapai 250 kg per cm². Angka ini menjadikannya material yang sangat cocok untuk digunakan dalam pembangunan infrastruktur seperti lapangan parkir dan trotoar. Selain itu, dibandingkan dengan paving blok konvensional berbasis semen, inovasi ini lebih ringan dan memiliki ketahanan terhadap air yang lebih baik.

Dampak Positif bagi Lingkungan dan Ekonomi

Inovasi ini membawa dampak yang luas, baik bagi lingkungan maupun ekonomi:

  1. Mengurangi Sampah Plastik – Dengan memanfaatkan sampah plastik tertolak, inovasi ini membantu mengurangi limbah yang berakhir di TPA atau mencemari ekosistem laut dan darat.

  2. Menyediakan Alternatif Material Konstruksi – Paving blok berbahan plastik tertolak dapat menjadi alternatif material yang lebih ramah lingkungan dibandingkan paving blok berbasis semen konvensional, yang produksinya menghasilkan emisi karbon tinggi.

  3. Meningkatkan Kesadaran Daur Ulang – Inovasi ini dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memilah sampah dan mendukung solusi kreatif dalam pengelolaan limbah.

  4. Menciptakan Lapangan Kerja – Jika diadopsi dalam skala industri, produksi paving blok berbasis sampah plastik ini dapat membuka peluang usaha baru dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi banyak orang.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan paving blok dari sampah plastik tertolak masih menghadapi beberapa tantangan, seperti:

  • Efisiensi Biaya Produksi – Proses pengolahan sampah plastik tertolak masih memerlukan teknologi khusus yang bisa meningkatkan biaya produksi.

  • Regulasi dan Standarisasi – Diperlukan dukungan dari pemerintah dalam bentuk regulasi yang mengakui dan mendorong penggunaan material daur ulang dalam konstruksi.

  • Penerimaan Pasar – Sebagian besar kontraktor dan pengembang masih lebih memilih material konvensional karena kurangnya pemahaman akan keunggulan paving blok berbahan plastik.

Namun, dengan semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya solusi berkelanjutan, diharapkan inovasi ini dapat berkembang lebih luas dan diadopsi oleh berbagai sektor. Ovy Sabrina dan Tan Novita berharap paving blok ramah lingkungan ini dapat digunakan secara luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara yang menghadapi permasalahan serupa terkait sampah plastik. Dengan dukungan dari pemerintah, industri, dan masyarakat, inovasi ini bisa menjadi langkah nyata dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Baca juga artikel lainnya :

transformasi besar banyumas dalam pengelolaan sampah