“Gerombolan Botak”, Dialog Antara Jurnalisme dan Kanvas

Feb 3, 2025 - 18:22
Feb 3, 2025 - 18:22
 0  21
“Gerombolan Botak”, Dialog Antara Jurnalisme dan Kanvas

Eksplora.id - Prof. Admi Syarif, PhD, seorang dosen Universitas Lampung sekaligus penulis, mengulas salah satu karya lukisan terbaru Juwendra Asdiansyah dalam perbincangan santai di Nuwono Tasya. Lukisan yang bertajuk "Gerombolan Botak" menjadi pusat dialog antara jurnalisme dan seni. Prof. Admi menyampaikan bahwa Juwendra Asdiansyah, atau yang akrab disapa Bang Juwe, bukan hanya seorang seniman, tetapi juga jurnalis kawakan. Bang Juwe memiliki rekam jejak panjang dalam dunia jurnalistik. Dirinya pernah memimpin redaksi Forum Keadilan, pemimpin redaksi duajurai.co, dan redaktur pelaksana Tribun Lampung. Selain menulis sejumlah buku, ia juga telah memandu 35 debat pemilihan kepala daerah di Lampung.

Lukisan dan Makna di Baliknya

Dalam perbincangan, Prof. Admi menyebutkan bahwa lima lukisan dari seri "Gerombolan Botak" yang ia koleksi berjudul Kepala Suku, The Goendoels, Hage No Hito, Khodam, dan Garwo. Lukisan-lukisan ini menggambarkan figur-figur botak yang berkerumun dan berbicara, tetapi sering kali tanpa arah yang jelas. "Setiap wajah di gerombolan botak ini punya cerita," ujar Prof. Admi menirukan pesan yang ia tangkap dari karya Bang Juwe. Menurutnya, ada kesan ambigu, jenaka, sekaligus sinis dalam karya tersebut. Figur-figur botak yang tampak saling menertawakan juga mengandung unsur absurd. Prof. Admi merasakan dialog yang hidup dalam setiap goresan kuas Bang Juwe, di mana jurnalisme yang biasa menyajikan fakta kini berbicara lewat medium kanvas dengan interpretasi yang lebih liar dan bebas.

Keunikan Material dan Simbolisme

Salah satu aspek menarik yang tersorot oleh Prof. Admi adalah penggunaan kayu erosi sebagai bingkai lukisan. Kayu ini merupakan potongan yang telah lama tergerus waktu, hanyut di sungai, atau tersapu ombak sebelum ditemukan kembali dan diberi kehidupan baru. "Bingkai ini bukan sekadar estetika, tetapi juga simbol kembalinya sesuatu yang telah tergerus perjalanan waktu dengan makna yang lebih dalam," ungkapnya. Baginya, lukisan-lukisan ini bukan sekadar pajangan, tetapi jendela untuk memahami pemikiran seorang seniman yang juga memiliki rekam jejak panjang di dunia jurnalistik. Dialog yang muncul dari lukisan ini adalah refleksi dari perjalanan seorang Juwendra Asdiansyah dalam memahami dan menggambarkan realitas di sekelilingnya. "Setiap kali saya menatap Gerombolan Botak, terasa ada dialog antara seni, kehidupan, dan saya sendiri," pungkas Prof. Admi. Semoga Bang Juwe terus berkarya, baik dengan pena maupun kuasnya, untuk menyuarakan realitas dengan cara yang unik dan mendalam.