Pedagang Daging Jabodetabek Berencana Mogok Jualan, Tekanan Harga Kian Mencekik

Pedagang daging di Jabodetabek dikabarkan akan mogok jualan sementara. Lonjakan harga sapi dan lemahnya daya beli dinilai membuat kondisi pasar semakin tidak sehat.

Jan 22, 2026 - 19:44
 0  2
Pedagang Daging Jabodetabek Berencana Mogok Jualan, Tekanan Harga Kian Mencekik
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Para pedagang daging di wilayah Jabodetabek dikabarkan tengah bersiap melakukan aksi mogok jualan sementara. Langkah ini muncul sebagai bentuk protes atas kondisi perdagangan yang dinilai semakin menekan, terutama bagi pedagang kecil dan menengah.

Rencana mogok ini bukan keputusan spontan. Para pedagang mengaku sudah cukup lama menahan beban biaya yang terus meningkat, sementara ruang untuk bertahan semakin sempit.

Dialog Buntu, Pedagang Kehilangan Pilihan

Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) DKI Jakarta, Wahyu Purnama, menyampaikan bahwa aksi ini diambil setelah berbagai upaya dialog tidak membuahkan hasil nyata. Menurutnya, keluhan pedagang sudah berulang kali disampaikan, namun belum ada solusi konkret yang benar-benar dirasakan di lapangan.

Ia menilai kondisi pasar daging saat ini tidak lagi sehat. Pedagang berada di posisi serba salah: menaikkan harga berisiko kehilangan pembeli, tetapi bertahan dengan harga lama justru merugi.

Harga Sapi Naik, Beban Pedagang Membengkak

Salah satu faktor utama yang memicu rencana mogok adalah melonjaknya harga sapi dari feedloter. Kenaikan harga sapi hidup secara otomatis berdampak pada harga karkas di rumah potong hewan (RPH). Akibatnya, modal yang harus dikeluarkan pedagang semakin besar.

Dalam situasi normal, kenaikan harga bisa diimbangi dengan penyesuaian di tingkat konsumen. Namun kondisi saat ini berbeda. Daya beli masyarakat justru sedang melemah, sehingga kenaikan harga daging menjadi sangat sensitif.

Daya Beli Melemah, Penjualan Tertekan

Banyak pedagang mengeluhkan penurunan volume penjualan. Konsumen cenderung mengurangi pembelian atau beralih ke sumber protein lain yang lebih murah. Situasi ini membuat stok daging berisiko tidak habis terjual, sementara biaya operasional terus berjalan.

Di tengah kondisi tersebut, pedagang merasa terjepit di antara harga pasokan yang tinggi dan pasar yang tidak lagi responsif.

Mogok Jualan sebagai Sinyal Darurat

Rencana mogok jualan dipandang sebagai bentuk peringatan keras bahwa ekosistem perdagangan daging sedang tidak seimbang. Bagi pedagang, langkah ini bukan semata-mata aksi protes, tetapi sinyal darurat agar persoalan struktural dalam rantai pasok segera mendapat perhatian serius.

Pedagang berharap ada kebijakan yang mampu menstabilkan harga di tingkat hulu, sekaligus menjaga keberlangsungan usaha di tingkat pasar rakyat.

Dampak ke Konsumen dan Pasar

Jika mogok benar-benar terjadi, pasokan daging di pasar tradisional Jabodetabek berpotensi terganggu. Kondisi ini bisa berdampak pada konsumen, terutama rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada pasar tradisional.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas pangan bukan hanya soal ketersediaan barang, tetapi juga keberlanjutan pelaku usaha di sepanjang rantai distribusi.

Menunggu Respons dan Solusi

Hingga kini, para pedagang masih menunggu langkah konkret dari pihak terkait. Harapannya, solusi yang diambil tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi mampu memperbaiki sistem perdagangan daging agar lebih adil dan berkelanjutan.

Bagi pedagang, bertahan hidup di pasar yang sehat bukan sebuah kemewahan — melainkan kebutuhan dasar agar roda ekonomi rakyat tetap berputar.**DS

Baca juga artikel lainnya :

daging-in-vitro-masa-depan-pangan-yang-dibudidayakan-di-laboratorium