Tamiya: Dari Lintasan Televisi ke Bucket List Orang Dewasa
Tamiya pernah jadi simbol gengsi dan masa kecil generasi 90-an. Dari seri TV, melilit dinamo, hingga bangga membawa pitbox, kini tren Tamiya kembali naik sebagai nostalgia dan bucket list orang dewasa.
Eksplora.id - Bayangkan suara motor kecil melengking di dalam ruangan. Roda plastik berputar cepat, mobil mini 4WD melesat di lintasan berwarna abu-abu dengan tikungan tajam dan tanjakan ekstrem. Anak-anak berdiri tegang di pinggir track, menahan napas setiap kali mobilnya hampir keluar jalur.
Itulah era ketika Tamiya bukan sekadar mainan, tapi gaya hidup.
Di tahun 90-an hingga awal 2000-an, Tamiya menjelma menjadi fenomena. Popularitasnya melejit setelah hadirnya serial anime seperti Let's & Go!! yang tayang di televisi Indonesia. Sejak itu, Mini 4WD bukan lagi mobil-mobilan biasa. Ia punya karakter, punya rivalitas, punya mimpi.
Dan anak-anak Indonesia jatuh cinta.
Ketika Tamiya Adalah Barang Eksklusif
Dulu, membeli satu unit Tamiya bukan perkara mudah. Harganya terasa mahal untuk ukuran uang jajan sekolah. Banyak yang hanya bisa melihat dari etalase toko mainan atau memandangi milik teman dengan rasa iri bercampur kagum.
Punya Tamiya berarti keren. Punya yang asli, bukan rakitan KW, itu levelnya berbeda. Bahkan membawa kotaknya saja sudah seperti membawa trofi.
Ada kebanggaan tersendiri ketika membuka tool box transparan berisi obeng kecil, gear cadangan, dinamo, dan baut-baut mungil. Lebih keren lagi kalau sudah punya pitbox resmi Tamiya. Rasanya seperti pembalap profesional yang sedang masuk paddock.
Tidak semua orang punya. Dan justru karena itulah ia terasa spesial.
Ritual Melilit Dinamo dan Eksperimen Tanpa Henti
Salah satu kenangan paling ikonik adalah melilit ulang dinamo. Anak-anak belajar istilah teknis tanpa sadar: lilitan kawat, magnet, brush, gear ratio.
Ada yang membongkar dinamo standar, mengganti lilitan supaya lebih kencang. Ada yang mencoba kombinasi gear agar mobilnya punya akselerasi brutal. Semua dilakukan dengan logika sederhana dan semangat eksperimen.
Kadang berhasil, kadang malah gosong.
Tapi dari situlah muncul rasa penasaran, rasa ingin tahu, bahkan mungkin benih kecintaan pada dunia teknik dan otomotif.
Kompetisi Track dan Adrenalin yang Nyata
Kompetisi Tamiya bukan sekadar lomba mainan. Track besar dengan tikungan spiral, lompatan, dan lane changer menjadi arena pertaruhan gengsi.
Mobil yang keluar lintasan di tikungan tajam bisa langsung gugur. Yang terlalu kencang belum tentu menang. Perlu keseimbangan antara kecepatan dan stabilitas.
Suasana lomba selalu riuh. Sorakan, teriakan, deg-degan saat mobil mendekati garis finish.
Di sana, anak-anak belajar tentang sportivitas, strategi, bahkan manajemen emosi. Menang itu euforia. Kalah? Sakit, tapi bikin penasaran untuk balas di lomba berikutnya.
Tren yang Kembali Menguat
Waktu berlalu. Anak-anak itu tumbuh dewasa. Sekolah selesai, bekerja, punya penghasilan sendiri. Dan tanpa disadari, kenangan tentang Tamiya tidak pernah benar-benar hilang.
Kini, tren Tamiya mulai kembali naik. Event komunitas Mini 4WD kembali ramai. Track dibangun lagi di berbagai kota. Bahkan banyak yang mengoleksi model klasik demi nostalgia.
Bedanya, sekarang tidak lagi harus menabung uang jajan berminggu-minggu. Orang-orang yang dulu hanya bisa melihat dari jauh, kini bisa membeli model impian mereka.
Bagi sebagian orang, membeli Tamiya hari ini bukan sekadar hobi. Itu adalah bucket list masa kecil yang akhirnya terwujud.
Dari Mainan Jadi Identitas
Menariknya, kebanggaan itu masih terasa. Membawa tas pitbox Tamiya hari ini bukan hanya soal fungsi, tapi simbol perjalanan waktu. Simbol bahwa ada bagian dari diri kita yang tetap anak-anak.
Tamiya mengajarkan satu hal sederhana: kebahagiaan tidak selalu tentang harga, tapi tentang momen.
Dulu mungkin terasa mahal dan eksklusif. Hari ini mungkin lebih mudah diakses. Tapi rasa deg-degan saat mobil melaju di lintasan, suara dinamo berteriak kencang, dan senyum puas ketika berhasil menang—itu tetap sama.
Dan mungkin, itulah alasan kenapa Tamiya tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu generasinya tumbuh dewasa dan kembali ke lintasan.**DS
Baca juga artikel lainnya :
barbie-dan-hot-wheels-inovasi-mainan-yang-mengubah-cara-anak-bermain-sepanjang-generasi

