Farizon SV: Van Listrik 16 Seater dengan Dimensi “Gabungan” Hiace dan Sprinter

Farizon SV adalah van listrik 16 seater dengan panjang mirip Toyota Hiace Premio dan tinggi seperti Mercedes-Benz Sprinter. Dibanderol sekitar Rp 698 juta, van ini menawarkan solusi transportasi modern tanpa mesin diesel.

Feb 21, 2026 - 23:35
 0  2
Farizon SV: Van Listrik 16 Seater dengan Dimensi “Gabungan” Hiace dan Sprinter
sumber foto : gg

Eksplora.id - Di segmen van penumpang besar, dua nama yang selama ini mendominasi adalah Toyota Hiace dan Mercedes-Benz Sprinter. Hiace dikenal sebagai kendaraan travel dan shuttle yang praktis, sementara Sprinter identik dengan kabin tinggi dan kapasitas besar untuk kebutuhan komersial. Kini, hadir satu nama baru yang langsung menarik perhatian: Farizon SV.

Secara dimensi, Farizon SV terasa unik. Panjang bodinya kurang lebih setara dengan Toyota Hiace Premio, sehingga masih terasa proporsional untuk penggunaan dalam kota maupun perjalanan antarkota. Namun tinggi kabinnya mengingatkan pada Mercedes-Benz Sprinter. Kombinasi ini menciptakan kesan van besar yang tetap lincah, tetapi memiliki ruang interior lega dan kepala yang lapang.

Desainnya modern dengan tampilan depan yang bersih khas kendaraan listrik. Tidak ada grille besar seperti van diesel pada umumnya. Wajahnya sederhana, futuristik, dan memperlihatkan identitas sebagai kendaraan era baru.

Tidak Lagi Diesel, Kini Full Elektrik

Hal paling membedakan Farizon SV dari Hiace dan Sprinter adalah sumber tenaganya. Jika dua rivalnya identik dengan mesin diesel, Farizon SV sepenuhnya menggunakan motor listrik. Perubahan ini bukan sekadar gimmick teknologi, tetapi mencerminkan arah industri otomotif global yang semakin serius menuju elektrifikasi.

Sebagai van listrik, Farizon SV menawarkan pengalaman berkendara yang lebih halus. Torsi instan dari motor listrik membuat akselerasi terasa responsif tanpa jeda turbo. Suara mesin yang senyap juga memberi kenyamanan ekstra bagi penumpang, terutama dalam perjalanan jauh.

Selain itu, biaya operasional menjadi salah satu daya tarik utama. Tanpa kebutuhan bahan bakar solar, pengeluaran harian bisa ditekan melalui penggunaan listrik. Perawatan juga relatif lebih sederhana karena tidak ada sistem pembakaran, oli mesin, atau komponen kompleks seperti turbocharger dan injektor diesel.

Kapasitas 16 Penumpang dengan Kabin Lega

Farizon SV dirancang sebagai van 16 seater yang cocok untuk berbagai kebutuhan transportasi massal. Mulai dari shuttle bandara, travel pariwisata, angkutan karyawan, hingga kendaraan operasional perusahaan, konfigurasi kursinya memungkinkan pengangkutan rombongan dalam satu kendaraan.

Tinggi kabin yang mendekati Sprinter memberi keuntungan besar. Penumpang tidak merasa terkungkung, dan ruang kepala terasa lega. Tata letak kursi disusun agar tetap memberikan ruang gerak yang cukup, sehingga perjalanan jarak jauh tidak terasa sempit.

Kesan luas ini menjadi nilai tambah yang signifikan, terutama di pasar Indonesia yang sering menggunakan van untuk perjalanan antarkota dengan durasi cukup panjang.

Harga Rp 698 Juta dan Posisi di Pasar

Dengan banderol sekitar Rp 698 juta, Farizon SV masuk ke pasar dengan strategi harga yang agresif untuk ukuran van listrik 16 penumpang. Di kelas kendaraan komersial besar, angka ini terbilang kompetitif, apalagi jika mempertimbangkan teknologi listrik yang diusungnya.

Jika dihitung dari sisi total biaya kepemilikan, kendaraan listrik sering kali lebih hemat dalam jangka panjang. Biaya energi per kilometer cenderung lebih rendah dibanding solar, dan kebutuhan perawatan berkala pun lebih minimal. Bagi pelaku usaha transportasi, efisiensi ini bisa menjadi faktor penentu.

Namun tentu saja, ada hal yang perlu diperhatikan. Infrastruktur pengisian daya masih menjadi pertimbangan, terutama untuk operasional jarak jauh. Perencanaan rute dan akses ke stasiun pengisian listrik menjadi bagian penting dalam penggunaan kendaraan listrik komersial.

Langkah Baru Transportasi Komersial

Kehadiran Farizon SV menunjukkan bahwa elektrifikasi tidak lagi terbatas pada mobil penumpang kecil atau SUV premium. Van besar pun kini mulai beralih ke tenaga listrik. Ini menjadi sinyal bahwa masa depan transportasi komersial perlahan berubah.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap emisi karbon dan biaya bahan bakar fosil, van listrik seperti Farizon SV menawarkan alternatif yang lebih bersih dan modern. Bagi perusahaan yang ingin membangun citra ramah lingkungan sekaligus menekan biaya operasional, kendaraan ini bisa menjadi solusi yang menarik.

Farizon SV bukan sekadar van 16 seater biasa. Ia adalah representasi pergeseran zaman. Panjangnya mengingatkan pada Hiace Premio, tingginya menyerupai Sprinter, tetapi jantungnya sepenuhnya listrik. Dengan harga sekitar Rp 698 juta, ia datang sebagai penantang serius di pasar kendaraan komersial Indonesia yang selama ini didominasi mesin diesel.

Perubahan mungkin tidak terjadi dalam semalam, tetapi kehadiran model seperti Farizon SV membuktikan bahwa masa depan van penumpang sedang bergerak ke arah yang lebih sunyi, lebih bersih, dan lebih efisien.**DS

Baca juga artikel lainnya :

mobil-listrik-dan-hybrid-masa-depan-otomotif-yang-efisien-dan-ramah-ekonomi