Legal, Tetapi Berisiko: Pemerintah Izinkan Umroh Mandiri, Ini Risiko yang Harus Diwaspadai Jemaah
Umroh mandiri resmi legal lewat UU PIHU 2025, tetapi jemaah perlu mewaspadai risiko seperti visa bermasalah, hotel tidak sesuai, transportasi rumit, hingga penipuan jasa perjalanan. Simak penjelasan lengkap risiko umroh mandiri di sini.
Eksplora.id - Pemerintah resmi melegalkan pelaksanaan umroh mandiri melalui Undang-Undang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umroh (UU PIHU) Nomor 14 Tahun 2025. Regulasi baru ini memungkinkan masyarakat berangkat ke Tanah Suci tanpa menggunakan jasa biro perjalanan, selama syarat administratif dan ketentuan keimigrasian terpenuhi.
Kebijakan ini membuka ruang bagi jemaah yang ingin mendapatkan biaya lebih hemat, fleksibilitas waktu, dan kebebasan memilih layanan sesuai kebutuhan. Namun pakar perjalanan ibadah mengingatkan bahwa umroh mandiri memiliki risiko tinggi bila jemaah tidak benar-benar memahami prosesnya.
Umroh Mandiri Resmi Legal, Jemaah Lebih Bebas Mengatur Perjalanan
Dengan disahkannya UU PIHU, pemerintah mempertegas bahwa umat Islam di Indonesia tidak wajib menggunakan penyelenggara perjalanan ibadah umroh (PPIU) selama mereka:
-
memiliki visa sah yang diterbitkan Pemerintah Arab Saudi,
-
memenuhi dokumen perjalanan,
-
memiliki bukti akomodasi serta tiket PP,
-
dan mendapatkan perlindungan asuransi.
Legalitas ini membuka peluang perjalanan yang lebih personal. Banyak jemaah menilai umroh mandiri dapat memangkas biaya karena mereka bisa:
-
memilih maskapai lebih murah,
-
menentukan hotel sesuai anggaran,
-
serta menghindari paket yang tidak dibutuhkan.
Namun di balik itu, terdapat berbagai aspek teknis yang biasanya diurus PPIU sehingga jemaah tinggal berangkat. Ketika semua proses berpindah ke tangan pribadi, risiko otomatis meningkat.
Risiko Terbesar: Visa Umroh Tidak Dijamin Disetujui
Berbeda dengan paket resmi PPIU yang memiliki sistem kuota dan mitra di Arab Saudi, pengurusan visa secara mandiri kerap menjadi kendala utama.
Risiko yang sering terjadi pada jemaah mandiri antara lain:
-
penolakan visa akibat data tidak lengkap,
-
agen visa tidak terdaftar,
-
keterlambatan penerbitan visa sehingga gagal berangkat,
-
penipuan jasa visa umroh murah.
Kasus jemaah yang gagal berangkat atau terlantar di bandara meningkat beberapa tahun terakhir akibat pengurusan visa non-resmi.
Masalah Akomodasi: Salah Pilih Hotel Bisa Fatal
PPIU biasanya memilih hotel yang terverifikasi jaraknya dari Masjidil Haram dan Nabawi. Sementara itu, jemaah mandiri yang memesan hotel sendiri kerap berhadapan dengan:
-
hotel yang tampak bagus di foto tetapi jauh dari pusat ibadah,
-
perubahan jadwal check-in mendadak,
-
penolakan reservasi karena sistem overbooking,
-
atau pembatalan mendadak tanpa refund memadai.
Dalam kondisi puncak musim umroh, kesalahan memilih hotel bisa membuat jemaah harus berjalan berkilo-kilo meter atau membayar transportasi tambahan yang mahal.
Risiko Transportasi: Tidak Paham Rute dan Peraturan Lokal
Transportasi di Saudi memiliki aturan dan pola operasional yang berbeda dengan Indonesia. Jemaah mandiri harus memahami:
-
cara berpindah dari Jeddah ke Madinah,
-
sistem bus antar kota,
-
layanan taksi dan tarif resminya,
-
hingga regulasi bandara yang sangat ketat.
Kesalahan menentukan rute dapat menghabiskan biaya besar dan mengganggu jadwal ibadah.
Asuransi Perjalanan Wajib, Tetapi Sering Terabaikan
Dalam perjalanan umroh, risiko kesehatan cukup tinggi—terutama dehidrasi, kelelahan, infeksi pernapasan, atau kecelakaan kecil. Tanpa asuransi perjalanan yang tepat, biaya rumah sakit di Saudi bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Umroh mandiri membuat jemaah harus:
-
memilih sendiri polis asuransi,
-
memahami manfaatnya,
-
dan memastikan perlindungan berlaku di Makkah serta Madinah.
Banyak kasus jemaah mendadak sakit tetapi tidak tahu prosedur klaim, sehingga seluruh biaya ditanggung pribadi.
Potensi Penipuan: Tawaran Paket Murah yang Tidak Realistis
Setelah umroh mandiri legal, muncul berbagai jasa online yang menawarkan:
-
visa super murah,
-
hotel dekat Masjidil Haram,
-
tiket dadakan tanpa deposit.
Sebagian di antaranya legal, tetapi banyak yang bersifat penipuan, memanfaatkan ketidaktahuan jemaah pemula.
Umroh Mandiri Memungkinkan, Tetapi Tidak untuk Semua Orang
Meski fleksibel, umroh mandiri lebih cocok bagi jemaah yang:
-
sudah pernah umroh sebelumnya,
-
berpengalaman bepergian ke luar negeri,
-
mampu mengatur logistik perjalanan,
-
dan memahami peraturan imigrasi Saudi.
Bagi jemaah pemula, lansia, atau perempuan yang bepergian sendiri, menggunakan biro resmi tetap menjadi pilihan paling aman.**
Baca juga artikel lainnya :

