Spotify x Liquid Death Luncurkan “Eternal Playlist Urn”: Guci Kremasi dengan Fitur Streaming Musik Pertama di Dunia
Spotify dan Liquid Death meluncurkan Eternal Playlist Urn, guci kremasi berfitur streaming musik pertama di dunia. Inovasi unik ini memungkinkan lagu favorit tetap diputar sebagai bentuk memorial modern dan personal.
Eksplora.id - Industri teknologi dan gaya hidup kembali menghadirkan inovasi tak biasa. Spotify bersama Liquid Death memperkenalkan produk memorial unik bernama “Eternal Playlist Urn”, sebuah guci kremasi berfitur streaming musik yang memungkinkan lagu dan playlist favorit tetap diputar bahkan setelah pemiliknya meninggal dunia. Kolaborasi ini langsung menyita perhatian publik karena memadukan teknologi digital dengan konsep peringatan akhir hayat secara personal dan modern.
Di tengah tren personalisasi dalam berbagai aspek kehidupan—termasuk perencanaan pemakaman—produk ini menawarkan pendekatan baru dalam mengenang orang tercinta: bukan hanya lewat foto dan doa, tetapi juga melalui musik yang menjadi bagian penting dari hidup mereka.
Guci Kremasi dengan Speaker Tersembunyi
“Eternal Playlist Urn” dirancang dengan tampilan elegan dan minimalis, menyerupai guci kremasi pada umumnya. Namun yang membuatnya berbeda adalah adanya speaker tersembunyi di bagian tutupnya. Teknologi ini memungkinkan keluarga memutar lagu atau playlist pilihan kapan saja sebagai bentuk penghormatan dan kenangan.
Konsepnya sederhana, tetapi emosional. Musik sering kali menjadi representasi perjalanan hidup seseorang—lagu yang menemani masa muda, momen jatuh cinta, perjuangan karier, hingga kenangan bersama keluarga. Dengan fitur streaming terintegrasi, keluarga dapat menghidupkan kembali memori itu hanya dengan satu sentuhan.
Produk ini diklaim sebagai yang pertama di dunia dalam kategori guci kremasi berfitur streaming musik. Inovasi tersebut memanfaatkan kekuatan platform digital untuk menghadirkan pengalaman memorial yang lebih intim dan relevan dengan generasi modern.
Perpaduan Teknologi dan Memorial Modern
Kolaborasi antara Spotify dan Liquid Death mungkin terdengar tidak biasa. Liquid Death dikenal sebagai brand minuman dengan identitas edgy dan konsep pemasaran yang berani. Sementara Spotify adalah platform streaming musik terbesar di dunia. Namun justru dari kombinasi inilah lahir ide unik yang memadukan budaya pop, teknologi, dan refleksi tentang kehidupan.
Eternal Playlist Urn bukan sekadar produk fisik. Ia membawa narasi bahwa kenangan seseorang bisa tetap “hidup” lewat musik. Di era digital, playlist sering kali menjadi semacam autobiografi tak tertulis. Pilihan lagu mencerminkan kepribadian, emosi, bahkan fase kehidupan tertentu.
Dengan adanya fitur streaming, guci ini memungkinkan keluarga menyusun playlist khusus—baik berisi lagu favorit almarhum maupun lagu yang memiliki makna bersama keluarga. Musik pun berubah menjadi medium memorial yang dinamis, bukan lagi statis.
Sudah Tersedia di Amerika Serikat
Saat ini, Eternal Playlist Urn telah tersedia untuk dibeli di Amerika Serikat. Kehadirannya langsung memicu diskusi luas di media sosial dan komunitas digital. Ada yang mengapresiasi inovasinya sebagai bentuk penghormatan kreatif, namun ada pula yang mempertanyakan aspek etika dan komersialisasi konsep kematian.
Terlepas dari pro dan kontra, produk ini mencerminkan perubahan cara pandang generasi baru terhadap perencanaan akhir hayat. Jika dulu memorial identik dengan kesan formal dan konvensional, kini pendekatannya bisa lebih personal, reflektif, dan bahkan terintegrasi teknologi.
Tren Personalisasi dalam Perencanaan Akhir Hayat
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, industri perencanaan pemakaman memang mulai mengarah pada personalisasi. Mulai dari peti mati custom, layanan siaran langsung upacara pemakaman, hingga memorial digital berbasis website atau media sosial.
Eternal Playlist Urn menambahkan dimensi baru: audio sebagai elemen utama memorial. Musik memiliki kekuatan emosional yang kuat. Satu lagu saja bisa langsung membawa seseorang kembali ke momen tertentu dalam hidupnya.
Dengan menghadirkan fitur streaming, Spotify dan Liquid Death mencoba menjawab kebutuhan emosional tersebut dalam bentuk produk nyata. Ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana teknologi dapat menjadi medium untuk mempertahankan memori dan koneksi emosional.
Antara Inovasi dan Refleksi
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa batas antara teknologi, budaya pop, dan kehidupan personal semakin tipis. Eternal Playlist Urn menjadi simbol bahwa bahkan dalam momen perpisahan, manusia tetap ingin meninggalkan jejak yang bermakna dan personal.
Apakah inovasi ini akan menjadi tren global atau hanya fenomena sesaat, waktu yang akan menjawab. Namun satu hal yang jelas: cara manusia mengenang dan merayakan kehidupan terus berevolusi seiring perkembangan teknologi.
Di era ketika playlist bisa menggambarkan identitas seseorang, mungkin tidak lagi mengherankan jika musik menjadi bagian dari warisan terakhir yang ingin ditinggalkan.**DS
Baca juga artikel lainnya :

