Krisis Literasi di Amerika Serikat: Generasi Muda Kian Jauh dari Budaya Membaca
Kemampuan literasi di AS terus menurun. Dalam 20 tahun, minat membaca turun 40 persen dan 59 juta warga berada di level membaca terendah. Generasi muda terancam krisis literasi.
Eksplora.id - Penurunan kemampuan literasi bukan lagi persoalan individu, melainkan telah menjadi isu nasional di Amerika Serikat. Dalam dua dekade terakhir, kebiasaan membaca untuk hiburan di kalangan orang dewasa mengalami penurunan tajam. Data menunjukkan jumlah orang dewasa Amerika yang membaca buku, majalah, atau teks panjang untuk kesenangan pribadi turun hingga 40 persen dalam 20 tahun terakhir.
Perubahan ini berjalan seiring dengan pergeseran gaya hidup digital. Konten visual singkat, media sosial, dan hiburan instan perlahan menggantikan aktivitas membaca yang membutuhkan konsentrasi dan ketekunan lebih lama.
Temuan Mengejutkan dari Survei Internasional
Gambaran tersebut diperkuat oleh hasil survei Program for the International Assessment of Adult Competencies (PIAAC). Survei ini menemukan sekitar 59 juta warga Amerika Serikat berada pada tingkat kompetensi membaca terendah. Artinya, puluhan juta orang dewasa mengalami kesulitan memahami teks tertulis dasar, termasuk instruksi kerja, informasi administratif, dan bacaan informatif sehari-hari.
Kemampuan literasi yang rendah berdampak luas, tidak hanya pada dunia pendidikan, tetapi juga pada produktivitas tenaga kerja, akses informasi kesehatan, hingga partisipasi masyarakat dalam kehidupan demokrasi.
Kampus Ikut Terdampak: Dosen Turun Level Pengajaran
Dampak krisis literasi kini semakin nyata di lingkungan perguruan tinggi. Sejumlah dosen di berbagai universitas di Amerika Serikat mengaku terpaksa menyesuaikan metode pengajaran menjadi jauh lebih dasar dibandingkan standar akademik sebelumnya. Materi yang dulu dianggap mudah dipahami mahasiswa tingkat awal, kini harus dijelaskan secara berulang dan disederhanakan secara ekstrem.
Beberapa dosen bahkan menyatakan frustrasi dan hampir menyerah menghadapi kondisi tersebut. Mereka menilai banyak mahasiswa kesulitan membaca teks akademik, memahami argumen tertulis, hingga menulis esai dengan struktur logis. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang kesiapan intelektual mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja dan riset ilmiah.
Generasi Muda dan Hilangnya Kebiasaan Membaca Mendalam
Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda di Amerika Serikat semakin jarang berhadapan dengan teks panjang dan kompleks. Pola konsumsi informasi yang serba cepat membuat kemampuan membaca mendalam, berpikir kritis, dan memahami konteks semakin melemah.
Tanpa kebiasaan membaca yang kuat, mahasiswa dan pelajar cenderung kesulitan menghubungkan ide, menganalisis informasi, dan membangun argumen berbasis data. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menurunkan kualitas lulusan pendidikan tinggi.
Sistem Pendidikan di Persimpangan Jalan
Para ahli pendidikan menilai krisis literasi ini berkaitan erat dengan sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada hasil cepat dan ujian standar. Kurangnya ruang untuk membaca reflektif, diskusi teks, dan pemahaman mendalam dinilai mempercepat penurunan kemampuan literasi.
Tanpa perubahan struktural besar dalam kurikulum dan metode pembelajaran, Generasi Z kemungkinan bukan menjadi generasi terakhir yang memiliki tingkat literasi lebih rendah dibanding generasi sebelumnya.
Ancaman Jangka Panjang bagi Masyarakat
Menurunnya literasi bukan sekadar masalah akademik, tetapi ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia. Individu dengan kemampuan membaca rendah lebih rentan terhadap disinformasi, sulit beradaptasi dengan perubahan teknologi, dan memiliki daya saing ekonomi yang lebih lemah.
Dalam skala besar, kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan sosial dan menurunkan kualitas pengambilan keputusan publik.
Saatnya Membaca Kembali Jadi Prioritas
Krisis literasi di Amerika Serikat menjadi peringatan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis meningkatkan kualitas intelektual masyarakat. Upaya membangun kembali budaya membaca membutuhkan keterlibatan serius dari pemerintah, institusi pendidikan, dosen, serta keluarga.
Tanpa langkah nyata dan berkelanjutan, penurunan literasi berisiko menjadi warisan permanen bagi generasi mendatang. Padahal, kemampuan membaca bukan hanya keterampilan dasar, melainkan fondasi utama bagi masyarakat yang kritis, adaptif, dan berdaya saing.**DS
Baca juga artikel lainnya :

