Dulu Tambang Batu Bara, Sekarang Sawah Hijau: Asal Usul Kecamatan Loa Kulu

Dulu dikenal sebagai wilayah tambang batu bara, Kecamatan Loa Kulu kini berubah menjadi hamparan sawah hijau. Inilah asal-usul dan transformasinya.

Jan 26, 2026 - 00:36
 0  1
Dulu Tambang Batu Bara, Sekarang Sawah Hijau: Asal Usul Kecamatan Loa Kulu
sumber foto : gg

Eksplora.id - Jika hari ini seseorang melintasi Kecamatan Loa Kulu di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pemandangan hamparan sawah hijau yang tertata rapi akan langsung menyambut mata. Sulit dibayangkan bahwa kawasan yang kini dikenal sebagai salah satu sentra pertanian ini pernah menjadi wilayah tambang batu bara yang sibuk pada masa lalu. Perubahan wajah Loa Kulu bukanlah proses singkat, melainkan perjalanan panjang yang sarat sejarah, adaptasi, dan ketahanan masyarakatnya.

Jejak Tambang Batu Bara di Masa Lampau

Nama Loa Kulu memiliki keterkaitan erat dengan sejarah pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. Pada masa kolonial hingga awal kemerdekaan, kawasan ini dikenal sebagai salah satu titik eksploitasi batu bara. Letaknya yang strategis di sepanjang aliran Sungai Mahakam menjadikan Loa Kulu mudah diakses untuk distribusi hasil tambang.

Aktivitas pertambangan kala itu menjadi penggerak utama ekonomi lokal. Banyak penduduk menggantungkan hidup pada sektor tambang, baik sebagai pekerja langsung maupun pendukung logistik. Infrastruktur awal Loa Kulu pun berkembang mengikuti kebutuhan industri ekstraktif tersebut.

Menurunnya Aktivitas Tambang dan Titik Balik Wilayah

Seiring waktu, cadangan batu bara di beberapa lokasi mulai menipis, sementara kebijakan dan dinamika ekonomi perlahan berubah. Aktivitas pertambangan di Loa Kulu tidak lagi seintens dulu. Kondisi ini memaksa masyarakat dan pemerintah setempat mencari arah baru untuk mempertahankan keberlangsungan hidup wilayah.

Lahan bekas tambang yang ditinggalkan tidak serta-merta menjadi ruang mati. Justru dari sinilah proses transformasi dimulai. Dengan karakter tanah yang relatif datar dan didukung sistem irigasi alami dari sungai dan anak sungai, wilayah ini mulai dilirik untuk kegiatan pertanian.

Transformasi Lahan Bekas Tambang Menjadi Sawah

Peralihan dari tambang ke pertanian bukan proses instan. Dibutuhkan waktu, penyesuaian, dan upaya pemulihan lahan agar tanah bekas aktivitas tambang dapat kembali produktif. Melalui kombinasi kearifan lokal, dukungan pemerintah, dan kerja kolektif masyarakat, lahan-lahan tersebut perlahan diolah kembali.

Sawah mulai dibuka, saluran irigasi diperbaiki, dan pola tanam disesuaikan dengan kondisi tanah. Perlahan namun pasti, Loa Kulu menjelma menjadi kawasan agraris yang dikenal dengan produksi padi dan komoditas pertanian lainnya.

Sawah Hijau sebagai Identitas Baru Loa Kulu

Hari ini, Loa Kulu tidak lagi identik dengan debu tambang dan aktivitas alat berat. Identitas wilayahnya bergeser menjadi kawasan pertanian yang hijau dan produktif. Sawah-sawah yang membentang luas menjadi simbol keberhasilan masyarakat dalam beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Pertanian tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga penopang ekonomi lokal yang lebih berkelanjutan. Pola hidup masyarakat pun berubah, dari ketergantungan pada sektor ekstraktif menuju aktivitas yang lebih ramah lingkungan dan berorientasi jangka panjang.

Pelajaran dari Perjalanan Panjang Loa Kulu

Kisah Loa Kulu menyimpan pelajaran penting tentang transisi wilayah pascatambang. Ia membuktikan bahwa daerah yang pernah bergantung pada sumber daya alam tak terbarukan tetap memiliki peluang bangkit jika mampu mengelola perubahan secara kolektif.

Transformasi ini juga menjadi contoh bahwa pemulihan lahan dan pengembangan sektor pertanian dapat berjalan beriringan, asalkan didukung kebijakan yang tepat dan partisipasi aktif masyarakat.

Dari Masa Lalu Menuju Masa Depan

Perubahan wajah Loa Kulu dari tambang batu bara menjadi sawah hijau bukan sekadar perubahan lanskap, melainkan perubahan cara pandang. Dari eksploitasi menuju pemanfaatan berkelanjutan, dari ekonomi jangka pendek menuju ketahanan jangka panjang.

Kini, Loa Kulu berdiri sebagai saksi bahwa sejarah tidak harus menjadi beban. Dengan pengelolaan yang tepat, masa lalu justru bisa menjadi fondasi kuat untuk masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.**DS

Baca juga artikel lainnya :

ekspor-emas-batu-bara-diperketat-pemerintah-dorong-hilirisasi-nasional