Pedagang Muslim yang Pertama Kali Mengenalkan Budaya Mandi ke Bangsa Eropa

Benarkah pedagang Muslim yang mengenalkan budaya mandi ke Eropa? Simak fakta sejarah tentang sanitasi Eropa abad pertengahan, peran dunia Islam, dan pengaruh perdagangan dalam perkembangan kebersihan di Barat.

Feb 24, 2026 - 23:23
 0  2
Pedagang Muslim yang Pertama Kali Mengenalkan Budaya Mandi ke Bangsa Eropa
sumber foto : Ai generator

Eksplora.id - Hari ini, mandi adalah rutinitas dasar yang dianggap wajar di hampir seluruh dunia. Namun jika menengok ke Eropa abad pertengahan, kebiasaan mandi tidak selalu menjadi praktik umum seperti sekarang. Di tengah kondisi sanitasi yang terbatas dan pemahaman medis yang masih berkembang, kebersihan pribadi di beberapa wilayah Eropa justru sempat mengalami kemunduran.

Lalu muncul klaim yang sering beredar: bahwa pedagang Muslim-lah yang mengenalkan kembali budaya mandi kepada orang Eropa. Sejauh mana klaim ini benar? Mari kita telusuri secara historis.


Eropa Abad Pertengahan dan Sanitasi yang Memburuk

Pada masa Kekaisaran Romawi, sistem pemandian umum atau thermae berkembang pesat. Kota-kota besar memiliki fasilitas mandi yang terorganisir dan menjadi bagian dari kehidupan sosial. Namun setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5, banyak infrastruktur publik terbengkalai.

Memasuki abad pertengahan awal, kondisi politik yang tidak stabil dan wabah penyakit membuat sebagian masyarakat Eropa menghindari mandi umum. Ada pula anggapan medis saat itu bahwa air panas dapat “membuka pori-pori” dan memudahkan penyakit masuk ke tubuh. Akibatnya, praktik mandi rutin menurun di beberapa wilayah.

Meski begitu, penting dicatat bahwa Eropa tidak sepenuhnya “tidak mengenal mandi”. Praktiknya hanya tidak seintensif atau seterstruktur seperti pada masa Romawi.


Dunia Islam dan Budaya Kebersihan

Sementara itu, di dunia Islam antara abad ke-7 hingga ke-15, kebersihan memiliki posisi yang sangat penting, baik secara spiritual maupun sosial. Ajaran Islam menekankan wudu sebelum salat, mandi wajib dalam kondisi tertentu, serta menjaga kebersihan tubuh sebagai bagian dari iman.

Kota-kota besar seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, hingga Cordoba di Andalusia memiliki hammam atau pemandian umum yang berkembang pesat. Hammam bukan hanya tempat membersihkan diri, tetapi juga pusat interaksi sosial dan budaya.

Selain itu, dunia Islam juga mewarisi dan mengembangkan tradisi pemandian Romawi dan Bizantium, lalu mengadaptasinya dengan teknologi dan tata kelola yang lebih sistematis.


Jalur Perdagangan dan Pertukaran Budaya

Hubungan antara dunia Islam dan Eropa tidak hanya terjadi melalui konflik seperti Perang Salib, tetapi juga lewat perdagangan dan pertukaran ilmu pengetahuan.

Pedagang Muslim aktif berdagang ke wilayah Mediterania, Italia, Spanyol, hingga Prancis selatan. Di Andalusia (Spanyol Islam), kota-kota seperti Cordoba menjadi pusat ilmu, arsitektur, dan kebersihan kota yang jauh lebih maju dibanding banyak kota Eropa saat itu.

Melalui interaksi perdagangan dan migrasi, praktik kebersihan termasuk penggunaan sabun, parfum, dan pemandian umum ikut dikenal lebih luas di wilayah Eropa selatan. Bahkan produksi sabun keras berbahan minyak zaitun dari wilayah Aleppo dan kemudian Marseille berkembang berkat pengaruh ini.


Apakah Pedagang Muslim yang “Mengenalkan” Mandi?

Secara historis, lebih tepat dikatakan bahwa dunia Islam membantu mempertahankan dan menyebarkan kembali tradisi kebersihan dan pemandian umum di Eropa, terutama melalui wilayah Andalusia dan Sisilia.

Bukan berarti orang Eropa sebelumnya tidak pernah mandi, tetapi di periode tertentu praktik tersebut memang tidak seintensif dan sekompleks di dunia Islam. Interaksi dagang dan intelektual berperan dalam memperkenalkan kembali standar kebersihan yang lebih baik.

Selain pedagang, peran ilmuwan dan penerjemah juga sangat besar. Banyak karya ilmiah tentang kedokteran, sanitasi, dan kimia dari ilmuwan Muslim diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Pengetahuan ini memengaruhi kebangkitan Eropa pada masa Renaisans.


Mitos atau Fakta?

Klaim bahwa “orang Eropa baru mandi karena dikenalkan pedagang Muslim” adalah penyederhanaan yang terlalu ekstrem. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa dunia Islam memiliki pengaruh besar dalam mempertahankan, mengembangkan, dan menyebarkan budaya kebersihan pada masa ketika sebagian wilayah Eropa mengalami kemunduran sanitasi.

Sejarah jarang hitam-putih. Ia adalah hasil interaksi panjang antarperadaban. Dalam konteks ini, kontribusi pedagang dan masyarakat Muslim memang berperan dalam memperkaya praktik kebersihan di Eropa, tetapi bukan sebagai satu-satunya faktor.


Pelajaran dari Sejarah

Kisah ini menunjukkan bahwa peradaban berkembang melalui pertukaran, bukan isolasi. Kebersihan, ilmu kedokteran, arsitektur, hingga teknologi sabun adalah hasil dialog lintas budaya.

Alih-alih melihatnya sebagai klaim superioritas satu pihak, lebih bijak memandangnya sebagai bukti bahwa dunia terhubung sejak berabad-abad lalu. Dari jalur perdagangan Mediterania hingga kota-kota Andalusia, sejarah kebersihan adalah cerita tentang kolaborasi peradaban.

Dan mungkin, pelajaran terbesarnya adalah: kemajuan selalu lahir dari keterbukaan untuk belajar satu sama lain.**DS

Baca juga artikel lainnya :

jangan-terlalu-sering-mandi-kebiasaan-sehari-hari-yang-diam-diam-melemahkan-tubuh