Tangis Warga Korea Utara Saat Kim Jong-un “Berdiet”: Kisah Lama yang Kembali Menarik untuk Diceritakan

Kisah lama Korea Utara kembali disorot: tangis warga saat Kim Jong-un tampak lebih kurus pada 2021, dibingkai sebagai simbol pengorbanan pemimpin demi rakyat.

Jan 19, 2026 - 14:56
 0  1
Tangis Warga Korea Utara Saat Kim Jong-un “Berdiet”: Kisah Lama yang Kembali Menarik untuk Diceritakan
Sumber foto : Instagram

Eksplora.id - Beberapa tahun lalu, dunia sempat dibuat heran oleh sebuah tayangan televisi dari Korea Utara yang menampilkan momen emosional tak biasa. Dalam siaran resmi Korean Central Television (KCTV), sejumlah warga terlihat menitikkan air mata saat membicarakan kondisi fisik pemimpin mereka, Kim Jong-un, yang tampak jauh lebih kurus dibandingkan sebelumnya. Peristiwa ini bukan kejadian baru, namun hingga kini masih kerap dibicarakan karena cara negara tersebut membingkai narasi kepemimpinan dan pengorbanan.

Kisah ini kembali menarik untuk diulas karena bukan sekadar soal berat badan seorang pemimpin, melainkan tentang bagaimana propaganda negara bekerja dengan sangat halus—dan efektif—dalam membentuk emosi publik.

Bukan Pernyataan Diet, Tapi Tayangan yang Memicu Emosi

Perlu diluruskan sejak awal: Kim Jong-un tidak pernah secara terbuka berdiri di depan publik dan mengumumkan kalimat “saya akan mulai diet untuk menurunkan berat badan” sebagaimana sering disederhanakan di media sosial. Yang sebenarnya terjadi adalah pada sekitar tahun 2021, media resmi Korea Utara menayangkan perubahan fisik Kim yang terlihat lebih kurus secara signifikan.

Dalam salah satu laporan KCTV, seorang warga Pyongyang diwawancarai dan mengungkapkan rasa sedihnya saat melihat penampilan Kim Jong-un yang menurutnya “terlihat semakin menyusut”. Pernyataan itu disampaikan dengan nada haru, bahkan disertai tangisan. Tayangan tersebut lalu diperkuat dengan narasi bahwa rakyat sangat khawatir dengan kesehatan pemimpin mereka.

Di sinilah emosi publik mulai dibangun—bukan oleh kata-kata Kim, tetapi oleh visual dan interpretasi media negara.

Penurunan Berat Badan sebagai Simbol Pengorbanan

Dalam konteks Korea Utara, hampir tidak ada ruang bagi peristiwa publik yang bersifat netral. Segala sesuatu, termasuk perubahan fisik pemimpin, selalu dikaitkan dengan narasi ideologis. Penurunan berat badan Kim Jong-un sengaja ditafsirkan bukan sebagai upaya pribadi menjaga kesehatan atau penampilan, melainkan sebagai simbol pengorbanan.

Media negara membingkainya sebagai bukti bahwa Kim bekerja terlalu keras, memikul beban berat demi rakyatnya, bahkan sampai “melupakan diri sendiri”. Narasi ini menjadi semakin kuat karena pada periode tersebut Korea Utara memang tengah menghadapi krisis pangan serius, diperparah oleh sanksi internasional dan penutupan perbatasan akibat pandemi.

Dengan kata lain, tubuh Kim dijadikan metafora negara: sama-sama “menyusut”, sama-sama menderita, dan sama-sama berjuang.

Air Mata yang Tidak Pernah Netral

Tangisan warga dalam tayangan KCTV bukan sekadar ekspresi emosional spontan. Dalam sistem media Korea Utara, setiap tayangan publik melewati kurasi ketat dan memiliki tujuan politik yang jelas. Air mata itu berfungsi sebagai pesan tidak langsung kepada rakyat: jika pemimpin saja rela berkorban sampai terlihat kurus, maka rakyat pun harus menerima kesulitan hidup sebagai bagian dari perjuangan bersama.

Bagi penonton di luar Korea Utara, adegan ini terasa janggal, bahkan absurd. Namun bagi rezim, ini adalah propaganda yang sangat efektif—mengubah isu sensitif seperti krisis pangan menjadi kisah heroik tentang pemimpin yang menderita demi rakyatnya.

Mengapa Kisah Ini Layak Diceritakan Ulang?

Meski sudah berlalu beberapa tahun, cerita ini tetap relevan karena memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat mengendalikan narasi hingga ke ranah paling personal: tubuh seorang pemimpin. Di banyak negara, penurunan berat badan tokoh publik adalah urusan pribadi. Di Korea Utara, hal tersebut menjadi alat politik.

Menulis ulang kisah ini bukan untuk mengulang sensasi lama, melainkan untuk mengajak pembaca memahami bagaimana realitas di negara tertutup dibentuk oleh cerita, simbol, dan emosi yang direkayasa. Ini juga menjadi pengingat bahwa tidak semua tangisan di layar kaca lahir dari kebebasan berekspresi—sebagian adalah hasil dari sistem yang menuntut kesetiaan total.

Kisah tentang “diet” Kim Jong-un pada akhirnya bukan tentang diet itu sendiri, melainkan tentang bagaimana sebuah negara menceritakan penderitaan, kepemimpinan, dan pengorbanan dengan satu sudut pandang tunggal—dan memastikan seluruh rakyat menangis pada adegan yang sama.**DS

Baca juga artikel lainnya :

korea-utara-buka-program-pertukaran-pelajar-sinyal-baru-keterbukaan-pendidikan