Bonggol Jagung Indonesia Dibayar Mahal di Korea

Bonggol jagung yang kerap dianggap limbah di Indonesia ternyata dibayar mahal di Korea Selatan karena dimanfaatkan sebagai pakan ternak premium bernutrisi tinggi.

Jan 15, 2026 - 02:11
 0  2
Bonggol Jagung Indonesia Dibayar Mahal di Korea
sumber foto : gg

Eksplora.id - Di banyak daerah di Indonesia, bonggol jagung sering kali berakhir sebagai sampah. Setelah bijinya dipipil, sisa bonggol biasanya dibakar, dibuang, atau dibiarkan membusuk di lahan. Padahal, di belahan dunia lain, benda yang sama justru menjadi komoditas bernilai tinggi dan diperebutkan industri.

Salah satu contohnya adalah Korea Selatan. Di negara ini, bonggol jagung tidak dipandang sebagai limbah, melainkan bahan baku penting untuk pakan ternak premium dengan kandungan nutrisi yang dibutuhkan industri peternakan modern.

Dari Sampah Pertanian Jadi Komoditas Bernilai

Bonggol jagung memiliki kandungan serat tinggi, karbohidrat kompleks, serta struktur alami yang cocok untuk difermentasi. Di Korea Selatan, bonggol jagung diolah melalui proses pengeringan dan fermentasi untuk dijadikan pakan ternak berkualitas tinggi, terutama bagi sapi dan hewan ternak besar.

Proses ini membuat nilai bonggol jagung meningkat drastis. Jika di Indonesia bonggol jagung nyaris tak memiliki harga, di Korea Selatan bahan ini justru dibeli dalam jumlah besar dan dihargai mahal karena dianggap lebih ramah lingkungan dan efisien dibanding pakan sintetis.

Mengapa Korea Selatan Membutuhkannya?

Korea Selatan memiliki keterbatasan lahan pertanian dan sumber pakan alami. Untuk menjaga kualitas produksi peternakan, mereka sangat bergantung pada bahan baku impor yang stabil dan bernutrisi. Bonggol jagung menjadi solusi karena:

  • Mudah diolah dan disimpan

  • Kaya serat untuk kesehatan ternak

  • Mendukung konsep peternakan berkelanjutan

  • Mengurangi ketergantungan pada pakan kimia

Tak heran jika bonggol jagung dari negara agraris seperti Indonesia justru sangat diminati.

Ironi di Negeri Agraris

Indonesia adalah salah satu produsen jagung terbesar di Asia Tenggara. Namun ironisnya, potensi ekonomi dari limbah pertanian seperti bonggol jagung belum dimanfaatkan secara optimal. Minimnya pengolahan pascapanen dan rendahnya kesadaran nilai tambah membuat bonggol jagung masih dipandang sebagai sisa tak berguna.

Padahal, jika dikelola dengan pendekatan industri sederhana—seperti pengeringan, pencacahan, dan pengemasan—bonggol jagung bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi petani dan desa-desa penghasil jagung.

Peluang Ekonomi Sirkular yang Terabaikan

Fenomena ini menunjukkan besarnya peluang ekonomi sirkular di sektor pertanian Indonesia. Limbah yang selama ini dibakar dan mencemari lingkungan sebenarnya bisa menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi.

Dengan dukungan teknologi, koperasi petani, dan akses pasar internasional, bonggol jagung berpotensi:

  • Menambah pendapatan petani

  • Mengurangi limbah pertanian

  • Mendorong industri hijau

  • Membuka lapangan kerja di desa

Belajar dari Cara Negara Lain Melihat Limbah

Perbedaan utama bukan pada sumber daya, melainkan cara pandang. Korea Selatan melihat bonggol jagung sebagai sumber daya. Indonesia masih melihatnya sebagai sampah.

Kisah bonggol jagung ini menjadi pengingat bahwa nilai sebuah benda tidak selalu ditentukan oleh bentuknya, melainkan oleh siapa yang mampu mengolah dan membacanya sebagai peluang.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti membakar bonggol jagung—dan mulai menghitung potensinya.**DS

Baca juga artikel lainnya :

pamonha-kuliner-khas-brasil-yang-lezat-dan-menggugah-selera