Belajar dari YouTube, Pemuda Sinjai Sulap Kotoran Sapi Jadi Biogas Gratis untuk Warga

Seorang pemuda di Sinjai, Sulawesi Selatan, memanfaatkan YouTube untuk mengolah kotoran sapi menjadi biogas gratis. Inovasi energi ramah lingkungan ini membuat warga tak lagi bergantung pada gas elpiji.

Jan 15, 2026 - 01:26
 0  2
Belajar dari YouTube, Pemuda Sinjai Sulap Kotoran Sapi Jadi Biogas Gratis untuk Warga
sumber foto : gg

Eksplora.id - Di tengah naik-turunnya harga elpiji dan ketergantungan masyarakat pada energi fosil, sebuah inovasi sederhana justru lahir dari desa. Berbekal rasa ingin tahu dan kemauan belajar, seorang pemuda di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, berhasil menghadirkan solusi energi murah, ramah lingkungan, dan bisa langsung dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar.

Adalah Awaluddin Adil, pemuda asal Desa Saukang, yang berhasil menyulap limbah kotoran sapi menjadi biogas gratis untuk kebutuhan memasak dan penerangan rumah tangga. Yang menarik, pengetahuan awalnya tidak datang dari bangku kuliah atau proyek pemerintah, melainkan dari YouTube.

Dari Bau Menyengat Jadi Energi Bermanfaat

Awaluddin mengaku ide ini berangkat dari keprihatinan sederhana. Di desanya, kotoran sapi sering menumpuk di sekitar kandang, menimbulkan bau menyengat dan berpotensi mencemari lingkungan. Limbah ternak itu selama ini hanya dianggap masalah, bukan peluang.

Melalui berbagai video edukasi di YouTube, Awaluddin mulai mempelajari cara kerja biogas, mulai dari proses fermentasi, pembuatan digester, hingga sistem penyaluran gas ke rumah warga. Ia kemudian melakukan eksperimen secara mandiri dengan bahan-bahan sederhana yang mudah ditemukan di desa.

Hasilnya, limbah yang sebelumnya tak bernilai kini berubah menjadi sumber energi alternatif yang stabil dan aman.

Warga Tak Lagi Bergantung pada Elpiji

Manfaat biogas buatan Awaluddin langsung dirasakan masyarakat. Warga yang memanfaatkan instalasi biogas ini tidak lagi harus rutin membeli tabung elpiji. Gas hasil fermentasi kotoran sapi dialirkan langsung dari kandang ke dapur rumah, sehingga kebutuhan energi harian bisa terpenuhi tanpa biaya tambahan.

Tak hanya untuk memasak, biogas tersebut juga dimanfaatkan sebagai sumber penerangan. Bagi warga desa, ini menjadi solusi yang sangat membantu, terutama di tengah kondisi ekonomi yang menuntut penghematan pengeluaran rumah tangga.

Hingga saat ini, tercatat delapan rumah tangga di Desa Saukang telah menikmati manfaat dari kemandirian energi berbasis biogas ini.

Lebih Aman dan Ramah Lingkungan

Selain menghemat biaya, biogas ini juga dinilai lebih aman dibandingkan gas elpiji. Tekanan gas yang dihasilkan relatif stabil, sehingga risiko kebocoran atau ledakan jauh lebih kecil. Sistemnya pun dirancang sederhana agar mudah dirawat oleh warga sendiri.

Dari sisi lingkungan, dampaknya sangat signifikan. Bau menyengat dari kotoran sapi berkurang drastis, pencemaran limbah bisa ditekan, dan emisi gas rumah kaca pun ikut diminimalkan. Limbah ternak yang sebelumnya mencemari lingkungan kini menjadi bagian dari solusi energi berkelanjutan.

Bukti Literasi Digital Bisa Mengubah Desa

Kisah Awaluddin menjadi contoh nyata bahwa literasi digital memiliki dampak besar jika dimanfaatkan dengan tepat. Internet dan YouTube bukan hanya ruang hiburan, tetapi juga sumber ilmu praktis yang bisa diterapkan langsung untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi tidak selalu harus mahal atau rumit. Dengan kemauan belajar dan keberanian mencoba, solusi bisa lahir dari desa, untuk desa.

Inspirasi Kemandirian Energi dari Akar Rumput

Apa yang dilakukan Awaluddin Adil menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu menunggu proyek besar atau investasi miliaran rupiah. Inisiatif kecil, berbasis kebutuhan lokal, justru sering kali lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.

Jika satu desa bisa mandiri energi dari limbah ternak, bukan tidak mungkin desa-desa lain mengikuti langkah serupa. Terutama di wilayah dengan potensi peternakan yang melimpah, biogas bisa menjadi jawaban atas mahalnya energi dan persoalan lingkungan.

Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil—dan kadang, cukup dari modal kuota internet dan kemauan belajar.**DS

Baca juga artikel lainnya :

gas-rawa-di-rajek-grobogan-solusi-kelangkaan-gas-elpiji