Anomali Sumatera Barat: Pengangguran Tinggi, Kemiskinan Rendah

Sumatera Barat mengalami anomali ekonomi: angka pengangguran tinggi tetapi kemiskinan rendah. Peran diaspora dan remitansi perantau menjadi kunci utama menjaga kesejahteraan masyarakat Minangkabau.

Jan 8, 2026 - 22:11
 0  4
Anomali Sumatera Barat: Pengangguran Tinggi, Kemiskinan Rendah
sumber foto : pixabay

Eksplora.id - Kemiskinan dan pengangguran selama ini dipahami sebagai dua variabel yang saling berkaitan erat. Tingginya angka pengangguran hampir selalu berbanding lurus dengan meningkatnya angka kemiskinan. Sebaliknya, daerah dengan tingkat pengangguran rendah umumnya memiliki tingkat kemiskinan yang lebih terkendali.

Namun, asumsi klasik tersebut tidak sepenuhnya berlaku di Provinsi Sumatera Barat.

Fenomena Unik di Ranah Minangkabau

Sumatera Barat justru menampilkan sebuah anomali yang menarik dalam peta sosial ekonomi nasional. Di satu sisi, provinsi ini termasuk daerah dengan angka pengangguran yang relatif tinggi di Indonesia. Namun di sisi lain, Sumatera Barat tidak masuk dalam daftar 15 provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: bagaimana mungkin angka pengangguran yang tinggi tidak diikuti oleh meningkatnya angka kemiskinan?

Apakah Ada Formula Khusus dari Pemerintah Daerah?

Sekilas, kondisi ini menimbulkan dugaan bahwa pemerintah daerah memiliki strategi khusus dalam menekan kemiskinan. Namun, jawaban sebenarnya tidak sepenuhnya berasal dari kebijakan formal pemerintah.

Faktor kunci yang menjelaskan fenomena ini justru datang dari luar sistem ketenagakerjaan lokal.

Peran Strategis Diaspora Minangkabau

Jawaban atas anomali ini terletak pada kontribusi besar para perantau Minangkabau atau diaspora Sumatera Barat. Budaya merantau yang telah mengakar kuat dalam masyarakat Minangkabau ternyata memiliki dampak ekonomi yang sangat signifikan bagi daerah asal.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sumatera Barat menegaskan bahwa diaspora berpengaruh besar terhadap kondisi makro pembangunan daerah. Berdasarkan data pembangunan, laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat berada pada level menengah dan sedikit di atas rata-rata nasional.

Remitansi Triliunan Rupiah Menopang Kehidupan Nagari

Meski angka pengangguran tergolong tinggi, tingkat kemiskinan Sumatera Barat tetap rendah karena adanya aliran dana dari para perantau. Dana kiriman tersebut—baik berupa remitansi rutin, bantuan keluarga, maupun investasi informal—nilainya mencapai triliunan rupiah setiap tahun.

Uang ini menjadi penopang utama kehidupan masyarakat di kampung dan nagari, bahkan bagi keluarga yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Secara ekonomi, masyarakat tetap mampu memenuhi kebutuhan hidup meskipun secara statistik tercatat sebagai penganggur.

Modal Sosial Mengalahkan Statistik

Fenomena ini menunjukkan bahwa indikator kemiskinan tidak selalu dapat dijelaskan secara linear melalui angka pengangguran. Dalam konteks Sumatera Barat, kekuatan modal sosial, solidaritas keluarga, dan jaringan diaspora berfungsi sebagai jaring pengaman sosial yang efektif.

Budaya merantau bukan hanya identitas kultural, tetapi juga sistem ekonomi informal yang menjaga stabilitas kesejahteraan masyarakat.

Pelajaran dari Sumatera Barat

Anomali Sumatera Barat memberikan pelajaran penting bahwa pembangunan daerah tidak semata-mata bergantung pada penciptaan lapangan kerja formal. Jejaring sosial, budaya, dan kontribusi diaspora dapat memainkan peran strategis dalam menekan kemiskinan dan menjaga ketahanan ekonomi masyarakat.**DS

Baca juga artikel lainnya :

lisensi-ikm-untuk-rumah-makan-padang-di-jakarta