Mengapa Belanda Memilih Pohon Asem Jawa untuk Tata Kota?

Belanda memilih pohon asem jawa sebagai tanaman kota bukan tanpa alasan. Dari ketahanan lingkungan, fungsi estetika, hingga nilai ekonomi, pohon ini menjadi contoh perencanaan tata kota yang visioner dan relevan hingga kini.

Jan 19, 2026 - 18:59
 0  0
Mengapa Belanda Memilih Pohon Asem Jawa untuk Tata Kota?
sumber foto : gg

Eksplora.id - Belanda dikenal sebagai salah satu negara dengan perencanaan tata kota paling rapi dan visioner di dunia. Hampir setiap elemen ruang publik dirancang dengan pertimbangan jangka panjang, termasuk dalam urusan penghijauan. Menariknya, salah satu pohon yang banyak ditanam di kawasan perkotaan, baik di Belanda maupun di wilayah bekas koloninya seperti Indonesia, adalah pohon asem jawa (Tamarindus indica).

Pilihan ini bukan keputusan acak atau sekadar estetika. Di balik pohon asem yang tampak sederhana, tersimpan berbagai pertimbangan ekologis, sosial, dan ekonomi yang menunjukkan betapa seriusnya Belanda memandang fungsi ruang hijau kota.


Pohon Asem dalam Sejarah Tata Kota Kolonial

Pada masa kolonial, Belanda membawa pendekatan ilmiah dan administratif dalam pembangunan kota-kota di Hindia Belanda. Jalan raya, kawasan pemukiman, hingga ruang publik dirancang agar tahan lama dan efisien dalam kondisi iklim tropis.

Pohon asem menjadi salah satu tanaman favorit untuk ditanam di sepanjang jalan utama, alun-alun, dan kawasan administrasi. Alasannya sederhana namun strategis: pohon ini mampu hidup puluhan hingga ratusan tahun, memiliki tajuk rindang, serta relatif mudah dirawat.

Hingga hari ini, jejak kebijakan tersebut masih bisa dilihat di banyak kota di Indonesia, di mana pohon asem tua berdiri kokoh di pinggir jalan sebagai saksi sejarah perencanaan kota masa lalu.


Tahan Iklim dan Ramah Lingkungan

Salah satu alasan utama pemilihan pohon asem adalah ketahanannya terhadap kondisi lingkungan tropis. Asem jawa mampu bertahan di suhu tinggi, tahan terhadap kekeringan, serta tidak membutuhkan perawatan intensif.

Akar pohon asem juga relatif kuat dan dalam, sehingga tidak mudah merusak permukaan jalan atau trotoar. Daunnya yang tidak terlalu lebat mengurangi risiko saluran air tersumbat, sebuah faktor penting dalam sistem drainase perkotaan.

Selain itu, pohon asem berperan dalam menurunkan suhu lingkungan, meningkatkan kualitas udara, serta menyediakan habitat bagi burung dan serangga, menjadikannya bagian penting dari ekosistem kota.


Estetika Kota yang Fungsional

Dari sisi visual, pohon asem memiliki bentuk yang elegan dan tidak berlebihan. Tajuknya membentuk kanopi alami yang memberikan keteduhan tanpa membuat ruang terasa gelap. Inilah yang menjadikannya ideal untuk ditanam di sepanjang jalan raya atau area publik.

Bagi Belanda, keindahan kota tidak hanya soal penampilan, tetapi juga fungsi. Pohon asem memenuhi keduanya: mempercantik lanskap sekaligus meningkatkan kenyamanan warga kota.

Pendekatan ini mencerminkan filosofi tata kota Belanda yang menekankan keseimbangan antara keindahan, fungsi, dan keberlanjutan.


Nilai Ekonomi yang Tidak Diabaikan

Selain aspek lingkungan dan estetika, Belanda juga mempertimbangkan faktor ekonomi. Buah asem memiliki nilai guna tinggi, baik untuk konsumsi lokal maupun perdagangan. Asem digunakan dalam kuliner, pengobatan tradisional, hingga industri makanan.

Pada masa kolonial, hasil pohon asem dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar atau diperdagangkan, memberikan nilai tambah dibandingkan pohon yang hanya berfungsi sebagai penghijauan semata.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa ruang hijau tidak harus menjadi beban biaya, melainkan bisa menjadi aset produktif jika direncanakan dengan cermat.


Pelajaran untuk Kota-Kota Modern

Pemilihan pohon asem oleh Belanda memberi pelajaran penting bagi perencanaan kota masa kini. Penghijauan tidak seharusnya hanya mengikuti tren atau sekadar indah dipandang, tetapi harus mempertimbangkan daya tahan, manfaat lingkungan, serta potensi ekonomi.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan urbanisasi cepat, memilih jenis tanaman yang tepat menjadi bagian krusial dalam membangun kota yang sehat dan berkelanjutan.

Pohon asem jawa membuktikan bahwa satu keputusan kecil dalam tata kota bisa memberi dampak besar yang bertahan lintas generasi. Kadang, solusi terbaik bukan yang paling baru, tetapi yang sudah teruji oleh waktu.**DS

Baca juga artikel lainnya :

fatwa-haram-rokok-pertama-di-zaman-kolonial