Indonesia Pernah Jadi Kiblat Dunia Kesehatan: Kisah dr. Raden Kodijat yang Bikin WHO Tercengang

Sejarah mencatat Indonesia pernah jadi kiblat dunia kesehatan lewat metode dr. Raden Kodijat yang sukses memberantas frambusia dan diadopsi WHO.

Jan 29, 2026 - 23:49
 0  2
Indonesia Pernah Jadi Kiblat Dunia Kesehatan: Kisah dr. Raden Kodijat yang Bikin WHO Tercengang
Gambar oleh Bruno dari Pixabay

Eksplora.id - Saat ini, perbincangan soal sistem kesehatan sering kali mengarah pada negara-negara maju. Namun sejarah membuktikan, Indonesia pernah berdiri di garis depan kesehatan dunia dan menjadi rujukan global. Fakta ini diungkap kembali oleh CNBC Indonesia, yang menyoroti kiprah luar biasa seorang dokter lokal dalam memberantas penyakit menular yang sempat membuat dunia kewalahan.

Kisah ini bermula pada era 1950-an, ketika dunia sedang menghadapi wabah frambusia—infeksi kulit kronis yang menyerang masyarakat miskin dan terpencil. Penyakit ini tidak hanya menimbulkan luka parah, tetapi juga berujung pada kecacatan permanen jika tidak ditangani dengan serius.

Di banyak negara, penanganan frambusia saat itu masih bersifat pasif. Sistem kesehatan kolonial cenderung menunggu pasien datang ke rumah sakit. Akibatnya, penularan terus terjadi dan penyakit sulit diberantas hingga ke akarnya.

Namun Indonesia memilih jalan berbeda.


dr. Raden Kodijat dan Gagasan Revolusioner “Jemput Bola”

Tokoh utama di balik perubahan besar ini adalah dr. Raden Kodijat, seorang dokter pribumi yang telah merintis ide radikal sejak bertugas sebagai dokter daerah di Kediri pada tahun 1934. Dari pengalamannya di lapangan, dr. Kodijat menyadari satu hal penting: penyakit menular tidak bisa ditunggu, tapi harus dicari dan diberantas secara aktif.

Ia kemudian menggagas metode yang saat itu dianggap tidak lazim, yakni pendeteksian aktif berbasis populasi. Alih-alih menunggu laporan pasien, seluruh penduduk di satu wilayah diperiksa secara sistematis, tanpa terkecuali.

Tidak hanya penderita dengan gejala yang ditangani, tetapi juga:

  • Orang yang pernah kontak langsung dengan penderita

  • Individu dengan luka ringan yang berpotensi menularkan

  • Komunitas sekitar yang dianggap berisiko

Semua yang terdeteksi langsung mendapatkan suntikan penisilin rutin setiap minggu, disertai pencatatan data yang ketat untuk memastikan tidak ada satu pun kasus yang terlewat.


Hasil yang Mengguncang Dunia

Hasil dari metode ini benar-benar mencengangkan. Dalam kurun waktu 1951 hingga 1956, kampanye nasional pemberantasan frambusia berhasil menjangkau sekitar 85 persen penduduk Indonesia—angka yang sangat luar biasa untuk negara yang baru merdeka dengan keterbatasan infrastruktur.

Dampaknya terlihat jelas:

  • Tahun 1951: tingkat penderita frambusia mencapai 20 persen

  • Tahun 1956: angka tersebut turun drastis menjadi hanya 1 persen

Keberhasilan ini bukan sekadar prestasi nasional, melainkan tonggak sejarah kesehatan global. Organisasi kesehatan dunia seperti WHO dan UNICEF secara resmi mengakui Indonesia sebagai model pemberantasan penyakit menular berbasis komunitas.


Metode Indonesia Diikuti Dunia

Setelah melihat keberhasilan Indonesia, banyak negara akhirnya meninggalkan pendekatan lama mereka. Negara-negara seperti Thailand, Malaya, Haiti, Jamaika, hingga Nigeria mulai mengadopsi sistem “jemput bola” yang dikembangkan oleh dr. Raden Kodijat dan tim kesehatan Indonesia.

Pendekatan ini kemudian menjadi cikal bakal strategi modern dalam:

  • Eliminasi penyakit menular

  • Program kesehatan masyarakat berbasis wilayah

  • Intervensi kesehatan preventif, bukan sekadar kuratif


Warisan Mentalitas Kesehatan Bangsa

Kisah ini menjadi pengingat penting bahwa Indonesia sejak dulu memiliki mentalitas menyelesaikan masalah dari sumbernya, bukan hanya menambal dampak di permukaan. Dengan sumber daya terbatas, Indonesia justru mampu melahirkan inovasi yang mengubah arah kebijakan kesehatan dunia.

Jadi, sebelum terlalu sibuk mengagungkan sistem kesehatan luar negeri, ada baiknya menoleh ke sejarah. Otak brilian anak bangsa pernah membuat dunia belajar dari Indonesia—dan itu adalah fakta yang layak kita banggakan.**DS


Baca juga artikel lainnya :

menkes-prediksi-28-juta-warga-indonesia-alami-masalah-kejiwaan-mengacu-standar-who