Jembatan Melaka–Sumatra Kembali Dibahas, Perjalanan Malaysia–Indonesia Bisa Tempuh 40 Menit

Pemerintah negara bagian Melaka menghidupkan kembali rencana jembatan Melaka–Sumatra yang akan menghubungkan Pengkalan Balak dan Dumai dengan estimasi biaya US$15–20 miliar.

Jan 22, 2026 - 21:45
 0  2
Jembatan Melaka–Sumatra Kembali Dibahas, Perjalanan Malaysia–Indonesia Bisa Tempuh 40 Menit
sumber foto : gg

Eksplora.id - Pemerintah negara bagian Melaka, Malaysia, kembali mengangkat wacana ambisius pembangunan jembatan yang akan menghubungkan Melaka dengan Pulau Sumatra, Indonesia. Proyek ini direncanakan menghubungkan kawasan Pengkalan Balak di Masjid Tanah dengan Dumai, Provinsi Riau, melintasi Selat Malaka sejauh hampir 48 kilometer.

Jika terealisasi, jembatan lintas negara ini diperkirakan dapat memangkas waktu perjalanan antara Malaysia dan Indonesia menjadi sekitar 40 menit, sebuah lompatan besar dibandingkan jalur laut konvensional yang ada saat ini.

Studi Dimulai 2026, Menunggu Lampu Hijau Pemerintah Pusat

Pemerintah Melaka menyebutkan bahwa kajian awal proyek akan kembali dilakukan mulai Januari 2026. Setelah tahap studi selesai, proposal akan diajukan kepada perencana nasional Malaysia sebelum masuk ke tahap pembahasan lintas negara bersama pemerintah Indonesia.

Artinya, meski wacana ini kembali mencuat, realisasi proyek masih sangat bergantung pada hasil kajian teknis, ekonomi, lingkungan, serta kesepakatan politik kedua negara.

Proyek Raksasa Bernilai Fantastis

Pembangunan jembatan Melaka–Sumatra diperkirakan membutuhkan dana antara US$15 hingga US$20 miliar. Jika disetujui dan dibangun, jembatan ini berpotensi menjadi salah satu jembatan lintas negara terpanjang di Asia Tenggara.

Selain menjadi proyek infrastruktur ikonik, jembatan ini juga akan menantang dari sisi rekayasa, mengingat Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.

Dorong Konektivitas dan Ekonomi Regional

Pemerintah Melaka meyakini bahwa jembatan ini dapat memperkuat hubungan ekonomi Indonesia–Malaysia yang saat ini bernilai sekitar US$12–15 miliar per tahun. Akses darat langsung dinilai akan mempercepat arus barang, logistik, pariwisata, dan mobilitas tenaga kerja antarwilayah.

Bagi Indonesia, khususnya Riau dan Sumatra bagian timur, proyek ini berpotensi membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru serta memperluas akses pasar regional.

Antara Peluang dan Tantangan

Meski menjanjikan manfaat besar, rencana ini juga memunculkan sejumlah pertanyaan. Dampak lingkungan, keamanan jalur pelayaran, pembiayaan proyek, hingga kesiapan infrastruktur penunjang di kedua sisi menjadi isu krusial yang harus dijawab dalam studi lanjutan.

Selain itu, kerja sama bilateral yang solid akan menjadi kunci utama agar proyek ini tidak berhenti sekadar wacana seperti pada pembahasan-pembahasan sebelumnya.

Menanti Arah Masa Depan Konektivitas ASEAN

Kembalinya gagasan jembatan Melaka–Sumatra menunjukkan bagaimana negara-negara Asia Tenggara mulai berpikir lebih berani dalam membangun konektivitas lintas batas. Jika terwujud, proyek ini bukan hanya menghubungkan dua wilayah, tetapi juga menjadi simbol integrasi ekonomi kawasan.

Kini, publik menunggu satu pertanyaan besar: akankah jembatan ini benar-benar dibangun, atau kembali menjadi ide besar yang tertunda oleh realitas di lapangan?.**DS

Baca juga artikel lainnya :

ekonomi-indonesia-tumbuh-504-persen-ungguli-singapura-dan-china