Paspor untuk Firaun: Kisah Nyata Saat Ramses II “Bepergian” ke Prancis
Kisah unik saat mumi Firaun Ramses II dikirim ke Prancis untuk restorasi dan harus dibuatkan paspor resmi dengan status “King (Deceased)”, lengkap dengan sambutan kehormatan militer.
Eksplora.id - Pada awal 1970-an, dunia arkeologi dihadapkan pada situasi genting. Mumi Firaun Ramses II—penguasa legendaris Mesir Kuno yang wafat lebih dari 3.000 tahun lalu—menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius. Jamur dan mikroorganisme mulai menggerogoti jaringan muminya, mengancam salah satu peninggalan paling berharga dalam sejarah peradaban manusia. Demi menyelamatkannya, pemerintah Mesir mengambil keputusan yang tak biasa: mengirim mumi Ramses II ke Paris untuk direstorasi oleh para ahli.
Namun, di balik keputusan ilmiah itu, muncul persoalan yang sama sekali tak terduga—persoalan administratif.
Hukum Modern Bertemu Sejarah Kuno
Saat rencana pengiriman disusun, otoritas Prancis menyatakan bahwa setiap “orang” yang masuk ke wilayah negaranya harus memiliki dokumen perjalanan resmi. Aturan ini tidak mengenal pengecualian, bahkan untuk seorang firaun yang telah wafat ribuan tahun silam. Secara hukum, Ramses II tetap diperlakukan sebagai individu yang melintasi perbatasan internasional.
Alih-alih mencari celah hukum, Mesir justru memilih jalan yang elegan dan penuh makna sejarah. Mereka menerbitkan paspor resmi untuk Ramses II.
Paspor Paling Ikonik dalam Sejarah
Paspor Mesir itu bukan simbolis belaka. Dokumen tersebut benar-benar sah, lengkap dengan foto mumi Ramses II dan kolom identitas yang terisi rapi. Yang paling mencuri perhatian dunia adalah kolom pekerjaan: tertulis jelas, “King (Deceased)”—Raja (Wafat). Sebuah pengakuan resmi negara modern terhadap status seorang penguasa kuno yang namanya tetap bergema lintas zaman.
Tindakan ini bukan hanya memenuhi persyaratan hukum Prancis, tetapi juga menunjukkan penghormatan mendalam Mesir terhadap warisan sejarahnya sendiri.
Sambutan Kenegaraan untuk Seorang Raja yang Telah Wafat
Ketika pesawat yang membawa Ramses II mendarat di Paris, peristiwa luar biasa terjadi. Pemerintah Prancis menyambut kedatangannya dengan upacara kehormatan militer penuh, layaknya menyambut kepala negara yang masih berkuasa. Tentara berdiri tegap, memberi hormat kepada firaun yang pernah memerintah Mesir selama lebih dari enam dekade.
Momen ini menjadi simbol kuat bahwa kekuasaan, pengaruh, dan warisan seorang pemimpin besar tidak lenyap bersama kematiannya. Lebih dari tiga milenium setelah wafat, Ramses II tetap diperlakukan sebagai raja.
Restorasi Ilmiah dan Warisan Abadi
Di Prancis, mumi Ramses II menjalani serangkaian pemeriksaan ilmiah mendalam. Para ahli mempelajari kondisi fisiknya, teknik mumifikasi, hingga penyakit yang mungkin dideritanya semasa hidup. Restorasi tersebut berhasil menghentikan proses pembusukan dan menyelamatkan mumi itu untuk generasi mendatang.
Lebih dari sekadar proyek konservasi, peristiwa ini mempertemukan dunia kuno dengan hukum, teknologi, dan etika modern. Ia menjadi contoh bagaimana sains, sejarah, dan penghormatan budaya dapat berjalan beriringan.
Dunia Modern Masih “Membungkuk” pada Sejarah
Kisah paspor Ramses II sering dianggap anekdot unik, namun maknanya jauh lebih dalam. Ia menunjukkan bahwa peradaban modern tetap berdiri di atas fondasi sejarah. Nama Ramses II tidak hanya tercatat di batu dan papirus, tetapi juga—secara harfiah—di lembaran paspor abad ke-20.
Ribuan tahun berlalu, dinasti runtuh, kerajaan berganti, dan hukum berubah. Namun ketika Ramses II “melangkah” ke tanah asing, dunia masih memberinya penghormatan tertinggi. Seolah waktu sendiri berhenti sejenak untuk mengakui: seorang raja sejati tidak pernah benar-benar pergi.**DS
Baca juga artikel lainnya :
singapura-raih-posisi-teratas-pemegang-paspor-terkuat-di-dunia

