“Hamba” di Sumba Timur, Isu Lama yang Masih Nyata

Isu perbudakan modern di Sumba Timur kembali mencuat setelah istilah “hamba” masih digunakan dalam kehidupan sosial. Praktik ini telah lama diperjuangkan untuk dihapus melalui advokasi dan edukasi.

Jan 13, 2026 - 00:57
 0  1
“Hamba” di Sumba Timur, Isu Lama yang Masih Nyata
Sumber foto : Istock

Eksplora.id -Awalnya terdengar seperti candaan. Kata “hamba” terlontar ringan dalam percakapan, seolah hanya istilah biasa. Namun semakin dipahami, istilah tersebut bukan sekadar kata, melainkan penanda relasi sosial yang timpang—dan dalam beberapa konteks, berkaitan dengan praktik lama yang hingga kini masih menyisakan jejaknya.

Di sejumlah wilayah Sumba Timur, istilah “hamba” merujuk pada individu atau keluarga yang secara turun-temurun berada dalam posisi sosial paling lemah. Mereka hidup dalam ketergantungan pada pihak tertentu, baik secara ekonomi maupun sosial. Praktik ini sering kali tidak terlihat kasat mata sebagai perbudakan, tetapi dampaknya nyata terhadap kebebasan dan martabat manusia.


Praktik Lama: “Hamba” dan Sistem Tukar dengan Ternak

Dalam konteks historis dan adat tertentu di Sumba, dikenal praktik di mana seseorang dapat “dibeli” dengan kerbau atau sapi. Transaksi ini bukan dalam pengertian jual beli modern, melainkan bagian dari sistem sosial lama yang dilegitimasi adat pada masa lalu.

Namun konsekuensinya sangat berat. Orang yang “dibeli” tersebut akan bekerja seumur hidup kepada pihak yang memberinya ternak. Mereka terikat dalam hubungan kerja tanpa batas waktu, sering kali tanpa upah layak, tanpa kebebasan berpindah, dan tanpa posisi tawar untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Meski praktik ini kini tidak lagi dilegalkan secara hukum negara, sisa-sisa relasi kuasa tersebut masih terasa dalam kehidupan sosial. Dalam beberapa kasus, ketergantungan itu tetap berlangsung karena tekanan ekonomi, utang adat, atau rasa “tidak enak” melawan sistem yang telah berlangsung turun-temurun.


Bahasa sebagai Cermin Ketimpangan

Penggunaan kata “hamba” tidak berdiri sendiri. Bahasa mencerminkan struktur sosial. Ketika satu kelompok disebut “hamba”, itu menandakan adanya hierarki yang menempatkan manusia dalam kelas-kelas tidak setara.

Banyak dari mereka yang berada dalam posisi ini tidak memiliki akses memadai terhadap pendidikan, layanan kesehatan, atau kesempatan ekonomi. Pilihan hidup mereka sering kali ditentukan oleh kewajiban adat dan relasi kuasa, bukan oleh kehendak pribadi.

Di sinilah persoalan menjadi kompleks: antara menjaga tradisi dan menghadapi kenyataan bahwa tidak semua warisan budaya selaras dengan nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia.


Perjuangan Menghapus Perbudakan Modern

Isu ini telah diperjuangkan selama bertahun-tahun. Lebih dari lima tahun, aktivis lokal, jurnalis, tokoh masyarakat, dan pegiat HAM terus mendorong perubahan—baik melalui advokasi, pendampingan korban, maupun edukasi publik.

Isu “hamba” di Sumba juga pernah diangkat ke tingkat nasional melalui program Kick Andy dengan judul “JERMY – Melawan Perbudakan di Tanah Sendiri”. Program tersebut menghadirkan dokumentasi lapangan, suara para korban, serta penjelasan mendalam dari narasumber yang memahami konteks sosial dan adat setempat.

Liputan semacam ini membuka kesadaran bahwa perbudakan tidak selalu hadir dalam bentuk ekstrem, melainkan bisa tersembunyi dalam relasi sosial yang dianggap “biasa”.


Menghapus Praktik, Bukan Sekadar Istilah

Menghilangkan kata “hamba” saja tidak cukup. Akar masalahnya jauh lebih dalam: kemiskinan struktural, ketimpangan akses pendidikan, serta sistem sosial yang membuat seseorang sulit keluar dari lingkar ketergantungan.

Upaya perubahan membutuhkan:

  • Edukasi hak asasi manusia yang sensitif budaya

  • Pendampingan ekonomi agar masyarakat tidak terjerat relasi seumur hidup

  • Peran aktif pemerintah daerah dan negara

  • Keberanian kolektif untuk meninjau ulang praktik adat yang merugikan manusia

Budaya bukan sesuatu yang beku. Ia bisa berkembang tanpa kehilangan jati diri, sekaligus menjunjung martabat manusia.


Catatan Penting untuk Kita Semua

Mendengar kata “hamba” mungkin mengejutkan. Namun yang lebih penting adalah menyadari bahwa isu ini masih nyata dan membutuhkan perhatian bersama. Apa yang terjadi di Sumba Timur bukan semata persoalan lokal, melainkan refleksi pekerjaan rumah bangsa dalam memastikan tidak ada warga yang hidup dalam ketidakbebasan di tanahnya sendiri.

Suatu hari nanti, harapannya kata “hamba” benar-benar tinggal dalam buku sejarah—bukan dalam kehidupan manusia yang masih berjalan hari ini.**DS

Baca juga artikel lainnya :

ekspor-gambir-sumatra-barat-terus-meningkat-peluang-pasar-global-kian-terbuka