Kesurupan: Dari Fenomena Mistis Menjadi Sumber Ekonomi
Di era media sosial, kesurupan bukan hanya sekadar fenomena mistis atau gangguan psikologis, tetapi telah berkembang menjadi sebuah profesi dan sumber ekonomi bagi sebagian orang.

Eksplora.id - Di era media sosial, kesurupan bukan hanya sekadar fenomena mistis atau gangguan psikologis, tetapi telah berkembang menjadi sebuah profesi dan sumber ekonomi bagi sebagian orang. Video-video yang menampilkan orang kesurupan semakin sering muncul, menarik perhatian jutaan penonton, dan menjadi lahan bisnis bagi para kreator konten. Dari ritual budaya hingga kesurupan yang tampak tanpa konteks, fenomena ini kini lebih sering digunakan sebagai strategi untuk mendapatkan keuntungan finansial.
Kesurupan sebagai Konten Digital yang Menguntungkan
Media sosial telah mengubah cara orang memandang kesurupan. Jika dulu kesurupan lebih sering dikaitkan dengan aspek spiritual dan medis, kini banyak orang yang dengan sengaja merekam dan menyebarkan video kesurupan untuk mendapatkan engagement tinggi. Semakin viral sebuah video, semakin besar peluang monetisasi melalui iklan, donasi, atau fitur live streaming yang memungkinkan audiens memberikan hadiah digital.
Sejumlah akun bahkan secara konsisten mengunggah video kesurupan sebagai bagian dari konten mereka, baik dalam konteks hiburan, investigasi supranatural, maupun eksperimen sosial. Tidak jarang, ada kelompok tertentu yang memanfaatkan kesurupan sebagai atraksi utama dalam pertunjukan live, baik di media sosial maupun di dunia nyata. Fenomena ini menunjukkan bahwa kesurupan telah berkembang menjadi industri tersendiri dengan model bisnis yang terus berkembang.
Kesurupan di Pentas Budaya dan Industri Hiburan
Selain di dunia digital, pertunjukan yang menampilkan kesurupan juga masih eksis dalam berbagai pentas budaya, seperti jathilan di Jawa atau ritual adat lainnya. Namun, dalam beberapa kasus, pertunjukan ini lebih berorientasi pada aspek hiburan daripada ritual sakral. Para pelaku kesurupan dalam pentas ini bisa saja merupakan bagian dari skenario yang telah dirancang untuk memberikan efek dramatis bagi penonton.
Di luar pertunjukan tradisional, kesurupan juga mulai dimanfaatkan dalam industri hiburan lainnya, seperti film, acara televisi, hingga wahana wisata horor. Permintaan akan konten mistis terus meningkat, menciptakan peluang bagi mereka yang mampu memainkan peran sebagai orang yang ‘kesurupan’ demi memberikan pengalaman mendebarkan bagi audiens.
Profesi Baru: Pemeran Kesurupan dan Paranormal Digital
Banyak individu kini menjadikan kesurupan sebagai profesi. Mereka bisa berperan sebagai pemeran dalam video kesurupan, menjadi narasumber paranormal di media sosial, atau bahkan menjual jasa eksorsisme secara online. Beberapa influencer di bidang mistis berhasil membangun komunitas besar dan menghasilkan pendapatan dari berbagai sumber, seperti endorsement, jasa konsultasi supranatural, dan konten berbayar.
Tidak hanya itu, ada pula kelompok yang menawarkan jasa pertunjukan kesurupan secara live, baik untuk keperluan konten media sosial maupun acara khusus. Dalam beberapa kasus, aktor kesurupan ini memiliki tarif tertentu, bergantung pada durasi dan tingkat dramatisasi yang diinginkan oleh penyelenggara acara.
Fenomena kesurupan yang dulunya hanya dikaitkan dengan kepercayaan spiritual dan gangguan psikologis kini telah bertransformasi menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Dari konten viral hingga pertunjukan live, kesurupan telah menjadi profesi bagi sebagian orang yang mampu memanfaatkannya dengan cerdas.
Namun, di tengah tren ini, muncul pertanyaan etis: sejauh mana kesurupan dapat dieksploitasi sebagai hiburan dan sumber ekonomi? Apakah fenomena ini tetap memiliki nilai budaya, atau hanya menjadi alat untuk mendulang keuntungan di dunia digital? Terlepas dari pro dan kontra yang ada, satu hal yang pasti—kesurupan kini bukan sekadar fenomena mistis, tetapi juga bagian dari industri hiburan modern.
Baca juga artikel lainnya :
jepang membutuhkan 820 ribu tenaga kerja asing indonesia berpeluang kirim 246 ribu pekerja