Ibu Sri Hartini: Perempuan Tangguh Penjaga Kelestarian Hutan Adat Wonosadi
Hutan Adat Wonosadi di Gunungkidul merupakan satu-satunya hutan adat di Yogyakarta. Hutan ini memiliki nilai budaya dan ekologis yang sangat penting bagi masyarakat setempat.

Eksplora.id - Hutan Adat Wonosadi di Gunungkidul merupakan satu-satunya hutan adat di Yogyakarta. Hutan ini memiliki nilai budaya dan ekologis yang sangat penting bagi masyarakat setempat. Setiap tahun, hutan ini menjadi lokasi upacara adat Sadranan dan Petilasan, yang bertujuan untuk menghormati leluhur serta menjaga keseimbangan alam. Namun, kelestarian hutan ini tidak terjaga begitu saja. Di balik rimbunnya pepohonan dan derasnya mata air, ada sosok perempuan tangguh yang berdedikasi penuh untuk melindungi dan merawat hutan ini: Ibu Sri Hartini.
Sosok Perempuan Pejuang Lingkungan
Sebagai ketua Jagawana, Ibu Sri Hartini memikul tanggung jawab besar dalam menjaga keberlangsungan Hutan Adat Wonosadi. Tugas ini tidak mudah, karena ia harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ancaman perburuan liar hingga penebangan pohon ilegal. Namun, keteguhan dan semangat juangnya menjadikannya garda terdepan dalam pelestarian hutan ini.
Menariknya, semua yang ia lakukan adalah atas dasar sukarela. Tanpa mengharapkan imbalan materi, ia mendedikasikan hidupnya untuk menjaga keseimbangan alam dan memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat menikmati keindahan serta manfaat hutan ini.
Meski berada di dunia yang didominasi oleh laki-laki, Ibu Sri Hartini membuktikan bahwa seorang perempuan juga bisa menjadi pemimpin dalam upaya perlindungan alam. Dengan tekad kuat, ia turun langsung ke lapangan, memimpin patroli hutan, dan memastikan bahwa ekosistem tetap terjaga. Baginya, menjaga hutan bukan hanya tugas, tetapi panggilan hati yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab.
Inisiatif Konservasi dan Kesejahteraan Warga
Selain menghadapi tantangan dalam menjaga keamanan hutan, Ibu Sri Hartini juga menginisiasi berbagai program konservasi, seperti:
-
Penanaman kembali pohon-pohon yang mati atau ditebang alami.
-
Berkolaborasi dengan masyarakat sekitar untuk menanam tanaman bernilai ekologis dan ekonomis.
-
Mengembangkan sistem irigasi sederhana untuk mengoptimalkan distribusi air dari sumber mata air di dalam hutan.
Dengan langkah-langkah ini, selain melestarikan lingkungan, ia juga memastikan kesejahteraan warga sekitar tetap terjaga. Ia memahami bahwa pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat harus berjalan seiring.
Mengelola Sumber Mata Air, Menjaga Kehidupan
Hutan Adat Wonosadi tidak hanya menjadi paru-paru hijau, tetapi juga sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar. Sumber mata air yang ada di dalamnya menjadi tumpuan utama untuk keperluan pertanian dan rumah tangga. Ibu Sri Hartini berjuang keras agar sumber daya ini tetap terjaga, dengan membangun sistem distribusi air yang efisien tanpa merusak ekosistem. Ia menyadari bahwa menjaga kelangsungan sumber air adalah bagian dari perjuangannya untuk masa depan yang lebih baik.
Salah satu pesan yang selalu ia sampaikan kepada masyarakat adalah:
"Jangan meninggalkan air mata untuk anak cucu kita, tapi tinggalkanlah mata air."
Pesan ini menggambarkan betapa pentingnya menjaga alam agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang dalam kondisi yang tetap lestari.
Mencetak Generasi Peduli Lingkungan
Kesadaran akan pentingnya lingkungan tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk generasi mendatang. Oleh karena itu, Ibu Sri Hartini secara aktif mengedukasi masyarakat, terutama anak-anak muda, tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan. Ia sering mengadakan:
-
Penyuluhan kepada warga dan generasi muda mengenai manfaat hutan dan bahaya deforestasi.
-
Program edukasi berbasis pengalaman, di mana anak-anak sekolah diajak langsung ke hutan untuk belajar tentang keanekaragaman hayati dan konservasi.
Dengan langkah-langkah ini, ia berharap dapat mencetak generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan dan siap meneruskan perjuangannya di masa depan.
Warisan Perjuangan Seorang Perempuan Tangguh
Keberadaan Hutan Adat Wonosadi bukan hanya sebagai tempat sakral dalam ritual adat, tetapi juga sebagai benteng alam yang memberikan manfaat ekologis dan sosial bagi masyarakat sekitar. Berkat keteguhan dan dedikasi Ibu Sri Hartini, hutan ini tetap lestari. Ia tidak hanya menjadi penjaga hutan, tetapi juga penjaga kehidupan dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Perjuangan Ibu Sri Hartini membuktikan bahwa perempuan memiliki peran besar dalam pelestarian alam. Dengan semangat, keberanian, dan kepeduliannya, ia terus berjuang agar Hutan Adat Wonosadi tetap lestari, memberikan manfaat bagi alam dan manusia. Ia adalah inspirasi bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang percaya bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama.
Di tengah tantangan yang terus berdatangan, Ibu Sri Hartini tetap berdiri teguh sebagai benteng terakhir pelestarian Hutan Adat Wonosadi. Kisahnya menjadi bukti bahwa satu perempuan dengan tekad kuat mampu membuat perubahan besar bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya.
Baca juga artikel lainnya :
ulat jati nan menggelikan namun menjadi hidangan populer di gunung kidul