Sukses Budidaya Udang Galah di Lahan Terbatas

Pemuda di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, telah membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah halangan untuk meraih kesuksesan dalam bidang kewirausahaan.

Apr 2, 2025 - 09:47
 0  12
Sukses Budidaya Udang Galah di Lahan Terbatas
sumber foto : gg

Eksplora.id - Pemuda di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, telah membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukanlah halangan untuk meraih kesuksesan dalam bidang kewirausahaan. Salah satu contoh yang menginspirasi adalah kisah Asrul, seorang pemuda asal Desa Tanjung Baru, Kecamatan Baturaja Timur, yang sukses mengembangkan usaha budidaya udang galah meski hanya memiliki lahan terbatas.

Awal Mula Budidaya Udang Galah

Pada tahun 2020, Asrul mulai menggeluti usaha budidaya udang galah dengan memanfaatkan pekarangan rumahnya yang sempit. Tidak seperti kebanyakan orang yang mungkin merasa kesulitan dengan keterbatasan lahan, Asrul justru melihatnya sebagai tantangan dan peluang. Dengan tekad yang kuat, dia memutuskan untuk mencoba budidaya udang galah, meskipun tidak memiliki pengalaman sebelumnya.

Menurut Asrul, langkah pertama yang ia lakukan adalah mempelajari tentang teknik budidaya udang galah. Selain itu, ia juga menghubungi berbagai pihak yang bisa memberikan informasi terkait kebutuhan teknis, seperti sumber air, pakan, dan pemeliharaan udang. “Saya belajar banyak dari berbagai sumber, baik itu lewat internet, buku, dan berbicara langsung dengan para petani udang yang sudah berpengalaman,” ujar Asrul.

Teknologi Air Tawar untuk Udang Galah

Asrul menghadapi tantangan tersendiri dalam budidaya udang galah di lahan terbatas. Biasanya, udang galah hidup di air payau, namun Asrul berhasil mengadaptasi teknologi untuk membudidayakannya di air tawar. Ia memanfaatkan sistem filtrasi dan aerasi untuk menjaga kualitas air tetap optimal bagi udang galah yang dibudidayakan. Dengan menggunakan kolam kecil di pekarangan rumahnya, ia berhasil menciptakan kondisi yang memungkinkan udang galah berkembang dengan baik meski di lingkungan air tawar.

Dalam menjalankan budidaya ini, Asrul juga menggunakan pakan alami seperti cacing dan dedak padi, yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan. Ia juga melakukan pemantauan rutin terhadap kesehatan udang, serta menjaga kebersihan kolam agar tidak terjadi penurunan kualitas air yang dapat mengganggu pertumbuhan udang.

Hasil dan Keuntungan yang Diperoleh

Hasilnya, dalam waktu sekitar satu bulan, Asrul dapat memanen udang galah yang sudah siap dijual. Dalam sekali panen, ia berhasil memperoleh sekitar 100 kilogram udang galah, yang dijual dengan harga rata-rata Rp50.000 per kilogram. Dengan demikian, ia meraup keuntungan bersih sekitar Rp5 juta setiap kali panen.

Tidak hanya untuk konsumsi pribadi, udang galah yang dibudidayakan Asrul juga banyak diminati oleh pasar luar daerah. Banyak pembeli yang datang dari kota besar, seperti Palembang dan Jakarta, yang tertarik untuk membeli udang galah dari Asrul untuk keperluan pembibitan dan konsumsi. Hal ini menunjukkan bahwa pasar udang galah cukup potensial dan dapat memberikan peluang ekonomi yang besar, bahkan bagi petani dengan lahan terbatas.

Peran PHE OKU dalam Meningkatkan Kewirausahaan Pemuda

Selain keberhasilan Asrul, inisiatif dari PT Pertamina Hulu Energi Ogan Komering (PHE OKU) juga turut berperan dalam meningkatkan kewirausahaan di kalangan pemuda setempat. PHE OKU, melalui program Inkubator Bisnis Gema Magenta, memberikan pelatihan, pembinaan, dan pendampingan bagi para pemuda di wilayah sekitar perusahaan untuk mengembangkan usaha kreatif, termasuk di sektor budidaya pertanian dan perikanan.

Program ini memberikan berbagai fasilitas seperti pelatihan kewirausahaan, pemberian modal usaha, serta akses ke pasar yang lebih luas. Para pemuda yang terlibat dalam program ini dapat memperluas pengetahuan mereka tentang cara mengelola usaha dengan lebih baik, mulai dari aspek teknis hingga pemasaran produk.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meskipun telah mencapai kesuksesan, Asrul menyadari bahwa tantangan dalam budidaya udang galah masih cukup besar. Salah satu kendala utama yang ia hadapi adalah fluktuasi harga pakan dan biaya operasional yang cukup tinggi. Namun, ia optimistis bahwa dengan semakin berkembangnya teknologi budidaya dan dukungan dari berbagai pihak, usaha budidaya udang galah di lahan terbatas akan semakin menguntungkan.

Ke depannya, Asrul berencana untuk memperluas usaha budidayanya dengan menggandeng petani-petani muda lainnya di sekitar desa untuk bersama-sama mengembangkan budidaya udang galah. “Saya ingin mengajak teman-teman pemuda di desa ini untuk bergabung dan belajar bersama. Kita bisa saling berbagi ilmu dan pengalaman agar usaha ini semakin berkembang,” tambah Asrul.

Inspirasi untuk Pemuda Indonesia

Kisah sukses Asrul membuktikan bahwa dengan kreativitas, ketekunan, dan semangat kewirausahaan, segala keterbatasan bisa diubah menjadi peluang. Meski hanya dengan lahan terbatas, Asrul mampu meraih kesuksesan dalam budidaya udang galah, dan kini ia menjadi inspirasi bagi banyak pemuda di Kabupaten Ogan Komering Ulu dan daerah lainnya di Indonesia.

Di tengah tantangan ekonomi, usaha budidaya udang galah di lahan terbatas membuka peluang baru bagi para pemuda untuk berwirausaha, mengembangkan potensi daerah, serta meningkatkan perekonomian keluarga dan masyarakat sekitar. Hal ini juga menjadi contoh nyata bagaimana pemanfaatan teknologi dan sumber daya yang ada dapat menghasilkan dampak yang signifikan dalam membangun ekonomi lokal.

Dengan terus berinovasi dan memperkuat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha, diharapkan budidaya udang galah dan sektor-sektor lainnya akan semakin berkembang, memberikan peluang pekerjaan, dan membawa manfaat bagi masyarakat Indonesia, khususnya di daerah-daerah dengan keterbatasan lahan.

Baca juga artikel lainnya :

vietnam menjadi negara penghasil lobster terbesar di asia tenggara