Ulat Jati Nan Menggelikan namun Menjadi Hidangan Populer di Gunung Kidul

Eksplora.id - Setiap awal musim penghujan, ribuan ulat jati yang bergelantungan di pohon-pohon jati di wilayah Gunung Kidul menjadi fenomena unik yang menarik perhatian. Meskipun terlihat ekstrem dan sering kali dianggap menggelikan serta menakutkan, terutama bagi pengendara yang harus berhati-hati agar tidak terkena ulat yang jatuh, sebagian besar masyarakat Gunung Kidul justru melihat ulat jati dari perspektif yang berbeda. Bagi mereka, ulat jati bukanlah ancaman, melainkan bahan masakan yang digemari. Fenomena ini tidak hanya sekadar kekhawatiran atau ketakutan, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi kuliner lokal yang unik. Ulat jati, yang tadinya dianggap sebagai gangguan, kini menjadi hidangan yang banyak dicari. Salah satu cara pengolahan yang populer adalah dengan menggorengnya dalam bentuk osengan. Anak-anak sekolah dasar bahkan terlihat antusias mengumpulkan ulat jati yang tergantung di pohon untuk dibawa pulang. Dalam plastik mereka mengumpulkan ulat-ulat itu dengan penuh semangat, mengetahui bahwa ulat tersebut akan diolah menjadi hidangan yang lezat di rumah. Para orang tua pun ikut merasakan manfaat dari keberadaan ulat jati ini, mengolahnya menjadi bahan makanan yang mengandung protein tinggi dan mudah didapatkan. Ulat jati dikenal memiliki rasa yang gurih dan tekstur yang kenyal, yang membuatnya disukai oleh warga Gunung Kidul. Bahkan, banyak yang berpendapat bahwa ulat jati merupakan makanan yang kaya akan gizi, dan cocok dijadikan lauk sehari-hari. Hidangan olahan ulat jati sering kali dimasak dengan cara ditumis pedas, disajikan dengan nasi putih, sambal, atau bumbu sederhana lainnya. Fenomena ini membuktikan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan bahan alam sekitar yang selama ini tidak dianggap bernilai. Ulat jati, yang dulunya sekadar gangguan, kini menjadi bahan kuliner yang mendukung keberagaman cita rasa di Gunung Kidul. Bagi warga setempat, ulat jati bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga bagian dari tradisi yang membentuk identitas kuliner daerah mereka. Bahkan, fenomena ini turut memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Para pencari ulat jati yang datang dari desa-desa sekitar turut merasakan keuntungan dari usaha mengumpulkan ulat tersebut, yang kemudian dijual kepada pengolah masakan atau langsung dimasak di rumah. Keberadaan ulat jati yang berlimpah saat musim penghujan membuka peluang baru dalam bidang kuliner yang tidak hanya mengandalkan bahan makanan konvensional. Dengan cara ini, ulat jati tidak hanya menjadi simbol adaptasi masyarakat terhadap alam, tetapi juga menunjukkan bagaimana keberagaman budaya dan kuliner dapat lahir dari hal-hal yang tidak terduga. Ke depan, fenomena ulat jati ini mungkin dapat berkembang menjadi daya tarik wisata kuliner yang unik, menarik wisatawan yang ingin mencoba masakan tradisional yang tak biasa ini.