Berpikir Keras Bikin Jarang Bergerak? Studi Ungkap Hubungan Unik Antara Aktivitas Mental dan Fisik

Studi Journal of Health Psychology mengungkap orang dengan Need for Cognition tinggi cenderung kurang aktif secara fisik. Simak penjelasan ilmiahnya dan dampaknya bagi kesehatan.

Jan 3, 2026 - 22:22
 0  5
Berpikir Keras Bikin Jarang Bergerak? Studi Ungkap Hubungan Unik Antara Aktivitas Mental dan Fisik
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Selama ini, kurangnya aktivitas fisik sering langsung dikaitkan dengan rasa malas. Namun sebuah temuan ilmiah justru mematahkan anggapan tersebut. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Health Psychology menemukan hubungan unik antara kegemaran berpikir mendalam dengan tingkat aktivitas fisik seseorang.

Penelitian ini menunjukkan bahwa individu dengan Need for Cognition tinggi—yakni tipe orang yang menikmati proses berpikir kompleks, analisis mendalam, dan refleksi—cenderung memiliki tingkat aktivitas fisik yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak terlalu menyukai aktivitas mental intens. Temuan ini membuka perspektif baru bahwa duduk lama bukan selalu karena malas, melainkan bisa jadi karena pikiran sedang bekerja keras.


Apa Itu Need for Cognition?

Need for Cognition (NFC) adalah istilah psikologis yang menggambarkan sejauh mana seseorang menikmati aktivitas berpikir. Orang dengan NFC tinggi biasanya senang menganalisis masalah, memikirkan ide abstrak, membaca, menulis, atau merenung dalam waktu lama tanpa merasa jenuh.

Sebaliknya, individu dengan NFC rendah cenderung cepat bosan jika tidak ada stimulasi eksternal. Mereka lebih membutuhkan aktivitas fisik atau interaksi langsung untuk menjaga kewaspadaan dan kenyamanan mental.


Kenapa Orang yang Suka Berpikir Lebih Jarang Bergerak?

Menurut para peneliti, kunci utamanya terletak pada rasa bosan. Orang yang senang berpikir mendalam tidak mudah merasa jenuh meski duduk diam dalam waktu lama. Aktivitas mental saja sudah cukup memberi stimulasi bagi otak mereka.

Sebaliknya, individu yang kurang menikmati proses berpikir mendalam akan lebih cepat merasa gelisah saat tidak bergerak. Untuk mengatasi kebosanan itu, mereka secara alami terdorong melakukan aktivitas fisik seperti berjalan, berolahraga ringan, atau bergerak ke sana kemari.

Dengan kata lain, bagi sebagian orang, berpikir adalah aktivitas yang “menguras energi” sekaligus memuaskan, sehingga kebutuhan untuk bergerak menjadi berkurang.


Pola Paling Terlihat di Hari Kerja

Menariknya, perbedaan tingkat aktivitas fisik ini paling jelas terlihat pada hari kerja. Saat rutinitas menuntut fokus, konsentrasi, dan tugas-tugas kognitif, individu dengan NFC tinggi cenderung lebih banyak duduk dan tenggelam dalam pikirannya.

Namun saat akhir pekan, ketika tekanan kerja berkurang dan waktu lebih fleksibel, perbedaan ini hampir menghilang. Baik individu dengan NFC tinggi maupun rendah menunjukkan tingkat aktivitas fisik yang relatif sama. Hal ini mengindikasikan bahwa lingkungan dan tuntutan aktivitas harian juga berperan besar dalam membentuk perilaku fisik seseorang.


Physical Sacrifice of Thinking: Pengorbanan Fisik demi Aktivitas Mental

Fenomena ini dikenal sebagai physical sacrifice of thinking, yaitu kondisi ketika seseorang “mengorbankan” aktivitas fisik demi aktivitas mental. Duduk lama, diam, dan minim gerak bukan karena tidak mau bergerak, melainkan karena pikiran sedang sangat aktif.

Istilah ini membantu menjelaskan mengapa sebagian orang bisa betah berjam-jam duduk sambil melamun, membaca, atau berpikir tanpa merasa lelah secara mental—meski tubuh mereka nyaris tidak bergerak.


Risiko Kesehatan Tetap Mengintai

Meski penjelasan ini terdengar masuk akal dan bahkan membela “kaum pemikir”, para peneliti tetap mengingatkan bahwa minim aktivitas fisik tetap berisiko bagi kesehatan. Duduk terlalu lama dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, gangguan metabolisme, nyeri otot, hingga penurunan kebugaran secara umum.

Artinya, meskipun kebiasaan duduk lama bukan tanda kemalasan, tubuh tetap membutuhkan gerak untuk menjaga keseimbangan. Aktivitas mental yang tinggi sebaiknya diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup, seperti berjalan kaki, peregangan, atau olahraga ringan secara rutin.


Menemukan Keseimbangan antara Pikiran dan Tubuh

Temuan ini mengajarkan satu hal penting: setiap orang memiliki cara berbeda dalam menjaga stimulasi mental. Ada yang mendapatkannya lewat berpikir, ada pula yang melalui gerak. Keduanya sama-sama valid, selama tidak mengorbankan kesehatan jangka panjang.

Berpikir mendalam adalah kekuatan, tetapi tubuh tetap perlu diajak bergerak. Karena pada akhirnya, kesehatan terbaik bukan memilih antara pikiran atau tubuh, melainkan menemukan keseimbangan di antara keduanya.**DS

Baca juga artikel lainnya :

smpn-39-surabaya-terapkan-uji-coba-tidur-siang