Honda C70 “Pitung”, Motor Kecil yang Menyimpan Ingatan Besar

Honda C70 Pitung atau Bekjul adalah motor bebek legendaris bermesin 70 cc yang menyimpan nostalgia mendalam. Simak keunikan, sejarah, dan alasan motor klasik ini diburu kolektor.

Feb 7, 2026 - 22:18
 0  6
Honda C70 “Pitung”, Motor Kecil yang Menyimpan Ingatan Besar
sumber foto : gg

Eksplora.id - Ada motor yang bukan sekadar alat transportasi, melainkan penyimpan kenangan. Honda C70—yang lebih akrab disebut “Pitung” atau Bekjul (Bebek Tujuh Puluh)—adalah salah satunya. Bagi sebagian orang, motor ini mungkin tampak sederhana. Namun bagi mereka yang pernah hidup di eranya, Honda C70 adalah bagian dari cerita hidup: tentang pulang sore hari, jalan kampung yang lengang, dan masa ketika kecepatan bukan segalanya.

Nama “Pitung” dipercaya berasal dari penyebutan “pitung puluh”, istilah lokal untuk angka tujuh puluh, merujuk pada kapasitas mesin 70 cc yang menjadi jantung motor ini. Dari situlah lahir sebutan Bekjul, singkatan dari Bebek Tujuh Puluh, nama yang terdengar sederhana namun penuh keakraban.

Ikon Visual yang Tak Mudah Dilupakan

Honda C70 memiliki identitas visual yang kuat. Warna merah menyala dipadukan dengan sayap depan putih menjadi ciri yang langsung dikenali, bahkan dari kejauhan. Bentuk bodinya ramping, dengan desain step-through khas motor bebek klasik yang memudahkan siapa saja untuk mengendarainya—tua, muda, laki-laki, maupun perempuan.

Lampu depan bulat, jok panjang datar, velg jari-jari, dan sentuhan krom di beberapa bagian menciptakan kesan jujur: tidak berlebihan, tidak dibuat-buat. Inilah motor yang lahir dari kebutuhan, bukan gaya. Namun justru karena itulah, tampilannya menjadi abadi.

Mesin Kecil, Peran Besar dalam Kehidupan

Dengan mesin sekitar 70 cc, Honda C70 jelas bukan motor untuk kebut-kebutan. Tapi di situlah letak keistimewaannya. Motor ini irit, bandel, dan mudah dirawat. Ia setia menemani perjalanan pendek dan panjang, dari jalan aspal hingga tanah berbatu.

Di banyak keluarga, C70 adalah motor pertama. Ia mengantar ke sekolah, ke pasar, ke sawah, bahkan ke acara hajatan. Bunyi mesinnya yang khas seakan menjadi latar suara kehidupan sehari-hari. Tak sedikit orang yang mengingat Honda C70 sebagai “motor bapak” atau “motor keluarga”, kendaraan yang selalu ada tanpa banyak tuntutan.

Dari Kendaraan Rakyat Menjadi Buruan Kolektor

Waktu berjalan, dan zaman berubah. Motor-motor modern bermunculan dengan teknologi canggih dan desain futuristik. Namun Honda C70 tidak ikut menghilang. Justru sebaliknya, ia naik kelas menjadi motor koleksi bernilai tinggi.

Di kalangan kolektor, Honda C70 Pitung dengan kondisi orisinil—mulai dari cat merah khasnya, sayap putih, mesin standar, hingga detail kecil seperti emblem dan knalpot—memiliki daya tarik luar biasa. Unit yang terawat baik atau direstorasi sesuai spesifikasi pabrik bisa bernilai puluhan juta rupiah.

Lebih dari soal harga, yang dicari kolektor adalah cerita. Setiap goresan, setiap bunyi mesin, seolah membawa kembali potongan masa lalu yang tidak bisa diulang.

Nostalgia yang Terus Menyala

Hari ini, Honda C70 Pitung sering tampil di pameran motor klasik, kopdar komunitas, hingga konten media sosial. Anak muda yang bahkan belum lahir di era motor ini dibuat penasaran, sementara generasi lama tersenyum karena ingatan lama kembali mengetuk.

Bekjul bukan sekadar motor tua. Ia adalah pengingat bahwa pernah ada masa ketika perjalanan tidak tergesa-gesa, ketika mesin kecil cukup untuk membuat hidup berjalan. Dalam diamnya, Honda C70 mengajarkan satu hal: kesederhanaan bisa bertahan lebih lama daripada kemewahan.

Dan mungkin itulah sebabnya, hingga hari ini, Honda C70 Pitung masih dicari—bukan hanya untuk dikendarai, tetapi untuk dikenang.**DS

Baca juga artikel lainnya :

honda-n-one-kei-car-jepang-yang-ringkas-unik-dan-penuh-teknologi