DIY Hadapi Darurat Kesehatan Mental, 36 Ribu ODGJ Berat Jadi Perhatian Serius
DIY menghadapi darurat kesehatan mental dengan 36 ribu ODGJ berat tertinggi di Indonesia. Akademisi UMY tekankan pemulihan dengan dukungan holistik dan kolaborasi lintas sektor.
Eksplora.id - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah menghadapi kondisi darurat kesehatan mental. Berdasarkan data terbaru, jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat di wilayah ini mencapai sekitar 36 ribu orang, menjadikannya yang tertinggi di Indonesia. Angka tersebut menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat luas untuk segera memperkuat sistem penanganan kesehatan mental secara menyeluruh.
Tingginya angka ODGJ berat tidak hanya berdampak pada individu yang mengalami gangguan jiwa, tetapi juga pada keluarga, lingkungan sosial, hingga produktivitas masyarakat secara umum.
Gangguan Jiwa Bisa Pulih dengan Pendekatan Holistik
Dalam Seminar Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yanuar Fahrizal, menegaskan bahwa gangguan jiwa berat seperti skizofrenia bukanlah kondisi tanpa harapan. Menurutnya, pemulihan ODGJ tidak bisa hanya bergantung pada pengobatan medis semata.
Pendekatan holistik menjadi kunci utama, yang mencakup terapi psikologis, dukungan sosial, lingkungan yang aman, serta penerimaan dari keluarga dan masyarakat. Obat memang penting, tetapi tanpa dukungan emosional dan sosial, proses pemulihan akan berjalan jauh lebih lambat.
Keluarga sebagai Garda Terdepan Pemulihan ODGJ
Yanuar menyoroti peran keluarga sebagai garda terdepan dalam proses pemulihan ODGJ. Keluarga yang memiliki pemahaman memadai tentang gangguan jiwa akan mampu memberikan dukungan yang konsisten, mengurangi kekambuhan, dan membantu ODGJ kembali menjalani kehidupan yang produktif.
Sayangnya, stigma dan kurangnya edukasi sering kali membuat keluarga justru menjauh atau menyerahkan sepenuhnya perawatan kepada fasilitas kesehatan. Padahal, keberadaan keluarga yang empatik dan suportif terbukti berperan besar dalam meningkatkan kualitas hidup ODGJ.
Pentingnya Kolaborasi Lintas Sektor
Selain peran keluarga, Yanuar menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi darurat kesehatan mental di DIY. Pemerintah, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, komunitas, hingga organisasi masyarakat sipil perlu bersinergi untuk menciptakan sistem pendukung yang berkelanjutan.
Kolaborasi ini mencakup penyediaan layanan kesehatan mental yang mudah diakses, edukasi publik untuk mengurangi stigma, serta program rehabilitasi sosial dan vokasional agar ODGJ dapat kembali berdaya di tengah masyarakat.
Melawan Stigma, Membangun Kesadaran Bersama
Stigma terhadap ODGJ masih menjadi tantangan besar. Label negatif dan diskriminasi sering kali membuat penderita enggan mencari bantuan atau terisolasi dari lingkungan sosialnya. Kondisi ini justru memperburuk gangguan yang dialami.
Melalui edukasi yang masif dan berkelanjutan, masyarakat diharapkan mampu melihat ODGJ sebagai individu yang membutuhkan dukungan, bukan dijauhi. Lingkungan yang inklusif akan mempercepat proses pemulihan sekaligus mencegah munculnya kasus baru.
ODGJ Bisa Pulih dan Produktif
Menutup pemaparannya, Yanuar Fahrizal menyampaikan pesan optimistis bahwa ODGJ memiliki peluang besar untuk pulih dan kembali produktif. Dengan penanganan yang tepat, dukungan keluarga, serta kolaborasi berbagai pihak, gangguan jiwa bukanlah akhir dari kehidupan seseorang.
“ODGJ bisa pulih dan produktif — kuncinya empati, edukasi, dan kolaborasi,” tegasnya. Pesan ini menjadi pengingat bahwa menghadapi darurat kesehatan mental bukan hanya tugas tenaga medis, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.**DS
Baca juga artikel lainnya :
traveling-dapat-memperlambat-tanda-tanda-penuaan-dan-tingkatkan-kesehatan

