Tahu Digoreng Pakai Sampah Plastik di Sidoarjo, Ancaman Nyata bagi Keamanan Pangan

Terungkap praktik pabrik tahu di Sidoarjo yang menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar. Pembakaran plastik menghasilkan racun berbahaya yang mengancam kesehatan konsumen.

Jan 22, 2026 - 22:35
 0  2
Tahu Digoreng Pakai Sampah Plastik di Sidoarjo, Ancaman Nyata bagi Keamanan Pangan
sumber : Antara

Eksplora.id - Fakta yang mengkhawatirkan muncul dari sejumlah pabrik tahu di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Demi menekan biaya produksi, beberapa pelaku usaha diketahui menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar untuk menggoreng tahu. Praktik ini dilakukan secara diam-diam dan kerap luput dari pengawasan, padahal dampaknya berpotensi sangat serius bagi kesehatan masyarakat.

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil, kenaikan harga bahan bakar dan energi memang menjadi beban bagi industri kecil. Namun, penggunaan sampah plastik sebagai alternatif bahan bakar bukanlah solusi yang aman. Plastik bukan material yang dirancang untuk proses pembakaran dalam pengolahan makanan, terlebih untuk produk pangan yang dikonsumsi setiap hari oleh jutaan orang.

Racun Tak Kasat Mata dari Pembakaran Plastik

Bahaya utama dari pembakaran plastik terletak pada zat beracun yang dilepaskan ke udara. Saat plastik dibakar, terutama pada suhu tinggi dan tidak terkontrol, akan muncul senyawa berbahaya seperti dioksin dan furan. Zat-zat ini dikenal bersifat karsinogenik, beracun, dan sangat sulit terurai di lingkungan maupun di dalam tubuh manusia.

Dalam proses penggorengan tahu, partikel beracun tersebut dapat menempel pada minyak, permukaan tahu, dan peralatan produksi. Yang membuat situasi ini semakin berbahaya adalah sifat racunnya yang tidak berbau, tidak berasa, dan tidak terlihat. Tahu yang dihasilkan tetap tampak putih, bersih, dan menggugah selera, sehingga konsumen sama sekali tidak menyadari risiko yang mengintai.

Dampak Jangka Panjang bagi Kesehatan Konsumen

Paparan dioksin dan furan tidak selalu menimbulkan efek instan. Dampaknya bersifat akumulatif dan baru terasa dalam jangka panjang. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa zat ini dapat merusak fungsi hati, mengganggu sistem hormon, menurunkan imunitas tubuh, hingga meningkatkan risiko kanker.

Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat tahu merupakan salah satu sumber protein nabati utama bagi masyarakat Indonesia. Dengan harga yang relatif murah dan mudah diolah, tahu dikonsumsi hampir setiap hari oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk anak-anak dan lansia. Tanpa disadari, konsumsi rutin tahu yang terkontaminasi racun bisa menjadi ancaman kesehatan yang serius.

Konsumen Jadi Korban Tanpa Sadar

Yang paling dirugikan dalam praktik ini adalah konsumen. Masyarakat tidak memiliki alat atau kemampuan untuk membedakan tahu yang diproduksi secara aman dengan tahu yang digoreng menggunakan bahan bakar berbahaya. Dari luar, tampilannya nyaris tidak ada perbedaan.

Situasi ini menciptakan ketidakadilan dalam rantai pangan. Konsumen membeli makanan dengan asumsi bahwa produk tersebut aman dan layak konsumsi, sementara di balik layar terdapat proses produksi yang berisiko tinggi. Bahaya ini tidak terasa saat dimakan, tetapi perlahan bekerja di dalam tubuh.

Lemahnya Pengawasan Industri Pangan Skala Kecil

Kasus di Sidoarjo juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap industri pangan skala kecil dan rumahan. Banyak pabrik tahu beroperasi di lingkungan permukiman dan jarang tersentuh inspeksi rutin. Kurangnya pengawasan membuka celah bagi praktik-praktik tidak aman yang berorientasi pada penghematan biaya semata.

Padahal, keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Produsen wajib memastikan proses produksi tidak membahayakan kesehatan, sementara pemerintah memiliki peran penting dalam pengawasan, pembinaan, dan penegakan aturan. Tanpa pengawasan yang konsisten, praktik serupa berpotensi terjadi di daerah lain.

Keamanan Pangan Tak Boleh Dikompromikan

Makanan murah seharusnya tidak dibayar dengan risiko kesehatan yang mahal di masa depan. Penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar adalah bentuk pengorbanan keselamatan publik demi keuntungan jangka pendek. Jika dibiarkan, praktik ini bisa menjadi preseden buruk bagi industri pangan lainnya.

Kasus tahu di Sidoarjo harus menjadi alarm keras bagi semua pihak. Edukasi kepada pelaku usaha, pengawasan yang lebih ketat, serta kesadaran konsumen untuk peduli pada sumber makanan menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya praktik serupa. Keamanan pangan bukan sekadar isu teknis, tetapi menyangkut kualitas hidup dan kesehatan generasi mendatang.**DS

Baca juga artikel lainnya :

pemerintah-bangun-pabrik-npk-nitrat-pertama-di-indonesia-perkuat-kemandirian-pupuk-nasional