Saatnya Petani Mengambil Kendali: Menjual Gabah Mandiri demi Kedaulatan Pangan
Petani perlu berhenti menjadi penonton di atas lahannya sendiri. Menjual gabah secara mandiri adalah langkah penting untuk melawan ketergantungan pada tengkulak dan mewujudkan kedaulatan pangan.
Eksplora.id - Selama puluhan tahun, petani Indonesia kerap berada di posisi paling lemah dalam rantai pangan. Mereka bekerja paling awal, menghadapi risiko paling besar, namun justru menikmati hasil paling sedikit. Ironisnya, di atas tanah yang mereka garap sendiri, petani sering hanya menjadi penonton saat harga gabah ditentukan pihak lain.
Sudah waktunya kondisi ini diubah. Menjual gabah secara mandiri bukan lagi sekadar alternatif, melainkan sebuah keharusan jika petani ingin keluar dari lingkaran ketergantungan yang menahun.
Petani dan Rantai Panjang yang Tidak Adil
Masalah utama pertanian bukan semata soal produksi, melainkan distribusi dan penguasaan pasar. Setelah panen, gabah petani jarang langsung masuk ke konsumen atau industri pengolahan. Ia harus melewati tengkulak, pengepul, hingga pedagang besar. Di setiap mata rantai itu, nilai tambah dinikmati pihak perantara.
Akibatnya, harga di tingkat petani ditekan serendah mungkin, sementara harga di pasar justru melambung. Ketimpangan inilah yang membuat petani bekerja keras tanpa kepastian kesejahteraan.
Lebih menyedihkan lagi, sistem ini berlangsung lama hingga dianggap “biasa”. Padahal, yang dinormalisasi adalah ketidakadilan.
Menjual Gabah Mandiri sebagai Bentuk Perlawanan
Menjual gabah secara mandiri bukan sekadar soal teknis pemasaran. Ia adalah bentuk perlawanan terhadap sistem yang tidak berpihak. Ketika petani mulai menentukan sendiri ke mana hasil panennya dijual, dengan harga yang disepakati secara adil, maka posisi tawar mereka ikut naik.
Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tengkulak yang datang saat panen dengan harga yang sudah “ditentukan dari atas”. Mereka bisa memilih: menjual ke koperasi, ke penggilingan langsung, ke BUMDes, atau bahkan membentuk jejaring pemasaran sendiri.
Di titik inilah, petani berubah dari objek pasar menjadi subjek ekonomi.
Kedaulatan Pangan Dimulai dari Sawah
Sering kali kita bicara kedaulatan pangan dalam konteks nasional: impor, stok beras, atau cadangan negara. Padahal, kedaulatan pangan sejati justru dimulai dari level paling dasar, yaitu petani.
Jika petani tidak punya kuasa atas hasil panennya sendiri, maka kedaulatan pangan hanya menjadi slogan. Negara boleh bicara swasembada, tapi jika petaninya tetap miskin, maka ada yang keliru dalam sistemnya.
Ketika petani berdaulat atas gabahnya—menentukan harga, waktu jual, dan mitra usaha—maka rantai pangan menjadi lebih sehat dan berkeadilan.
Tantangan Nyata di Lapangan
Tentu, menjual gabah mandiri bukan tanpa tantangan. Masalah modal, akses gudang, transportasi, hingga informasi harga masih menjadi hambatan nyata. Tidak semua petani memiliki fasilitas untuk menyimpan gabah lebih lama atau menjual langsung ke pembeli besar.
Namun tantangan ini bukan alasan untuk menyerah. Justru di sinilah peran kolektif menjadi penting. Koperasi petani, kelompok tani, dan BUMDes bisa menjadi kendaraan bersama untuk memperkuat posisi petani di pasar.
Teknologi juga membuka peluang baru. Akses informasi harga, platform digital pertanian, hingga kemitraan langsung dengan penggilingan kini semakin terbuka.
Menghentikan Normalisasi Ketimpangan
Selama ini, keringat petani seolah menguap begitu saja di tengah rantai pasar yang timpang. Kita terbiasa melihat petani rugi saat panen raya, lalu heran mengapa generasi muda enggan turun ke sawah.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, pertanian akan kehilangan regenerasi, dan krisis pangan justru semakin dekat. Mengubah sistem penjualan gabah adalah langkah awal untuk menghentikan normalisasi ketimpangan ini.
Dari Bertahan ke Berdaulat
Petani tidak seharusnya hanya bertahan hidup. Mereka berhak sejahtera dari kerja kerasnya sendiri. Menjual gabah secara mandiri adalah simbol pergeseran besar: dari sekadar produsen pasif menjadi pelaku ekonomi yang berdaulat.
Ketika petani punya kuasa atas harga dan nasib hasil panennya, saat itulah kedaulatan pangan tidak lagi sekadar wacana. Ia tumbuh nyata, dari lumpur sawah, dari tangan-tangan yang selama ini paling berjasa namun paling sering dilupakan.
Sudah saatnya petani berhenti menjadi penonton. Kini waktunya mengambil kendali.**DS
Baca juga artikel lainnya :
bps-perkirakan-produksi-beras-nasional-2025-naik-1354-persen-pasokan-aman-hingga-akhir-tahun

