Ciptagelar: Desa Mandiri dengan Ketahanan Pangan dan Energi Berkelanjutan

Eksplora.id - Di tengah hiruk-pikuk modernisasi yang merambah hingga pelosok negeri, Desa Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi, Jawa Barat, menawarkan sebuah narasi unik tentang bagaimana tradisi dan kemajuan dapat berjalan berdampingan. Desa adat ini bukan hanya tempat tinggal bagi komunitas yang memegang teguh nilai-nilai leluhur, tetapi juga contoh nyata keberhasilan dalam menjaga keseimbangan antara manusia, teknologi, dan alam. Ciptagelar menjadi salah satu desa adat yang masih mempertahankan kebudayaan dan tradisi leluhur yang sangat kaya. Ketahanan pangan yang dimiliki Desa Ciptagelar menjadi salah satu daya tarik utama. Dengan cadangan pangan yang cukup untuk 95 tahun ke depan, desa ini menunjukkan bahwa kemandirian pangan bukanlah hal yang mustahil. Sistem pertanian mereka yang organik dan berkelanjutan menjadi kunci dari keberhasilan ini. Para petani hanya memanen padi sekali dalam setahun, mengikuti adat yang melarang eksploitasi tanah berlebihan. Metode ini tidak hanya melestarikan kesuburan tanah tetapi juga menciptakan hubungan yang harmonis dengan alam. Prinsip ini didukung oleh sistem pertanian yang menolak penggunaan pupuk kimia dan pestisida, serta mengedepankan pupuk alami untuk menjaga kualitas tanah yang tetap subur dan hasil pertanian yang berkelanjutan. Kehidupan masyarakat di Desa Ciptagelar tidak lantas sepenuhnya terpaku pada tradisi. Mereka telah mengadopsi teknologi modern dalam batas yang tidak merusak tatanan adat. Hampir setiap rumah memiliki televisi dan akses internet, berkat pemanfaatan energi terbarukan. Dengan pembangkit listrik tenaga air dan surya yang mereka bangun sendiri, desa ini mandiri secara energi. Hal ini memungkinkan masyarakat menjalani kehidupan yang lebih nyaman tanpa mengorbankan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan yang mereka junjung tinggi. Teknologi ini juga memberikan akses bagi masyarakat untuk tetap terhubung dengan dunia luar, tanpa harus melepaskan kearifan lokal yang mereka jaga. Harmoni antara tradisi dan inovasi terlihat dalam setiap aspek kehidupan di Ciptagelar. Mereka percaya bahwa tanah adalah anugerah yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang. Prinsip ini tercermin dalam cara mereka mengelola lahan pertanian dengan bijaksana, menghasilkan pangan sehat, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. Kemandirian mereka dalam energi dan pangan adalah contoh bahwa keberlanjutan dapat tercapai dengan memanfaatkan teknologi yang ramah lingkungan sambil tetap menjaga kelestarian budaya dan alam. Dengan sejarah panjang selama 650 tahun, desa ini terus berkembang dengan mempertahankan kearifan lokal yang sudah ada sejak nenek moyang. Masyarakat Ciptagelar memiliki hubungan yang erat dengan alam, dan mereka menerapkan pola hidup yang sangat memperhatikan keberlanjutan. Selain ketahanan pangan, desa ini juga dikenal dengan pelestarian budaya, seperti sistem hukum adat dan pola kehidupan yang sangat teratur. Mereka mengajarkan nilai-nilai kesederhanaan, saling menghormati, dan menjaga alam sekitar. Kisah Desa Ciptagelar bukan hanya inspirasi bagi masyarakat adat lainnya, tetapi juga bagi dunia modern yang sering kali terlalu terfokus pada eksploitasi sumber daya. Desa ini mengajarkan bahwa kemajuan teknologi dan tradisi bisa saling melengkapi, menciptakan kehidupan yang berkelanjutan dan bermakna. Dalam langkah-langkah kecil mereka menjaga adat, masyarakat Ciptagelar telah memberikan pelajaran besar bagi dunia tentang arti sebenarnya dari kearifan lokal yang berpihak pada masa depan.