Joki Penjara di China: Ketika Uang Bisa Menggantikan Hukuman

Fenomena “joki penjara” di China mengungkap praktik orang kaya membayar narapidana pengganti untuk menjalani hukuman, memicu sorotan tajam soal keadilan, kekuasaan, dan supremasi hukum.

Jan 3, 2026 - 00:14
 0  1
Joki Penjara di China: Ketika Uang Bisa Menggantikan Hukuman
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Di China, beredar sebuah praktik kontroversial yang kerap disebut sebagai rahasia umum di kalangan tertentu: orang kaya atau berkuasa diduga dapat membayar orang lain untuk menggantikan mereka menjalani hukuman penjara. Fenomena ini dikenal dengan istilah Ding Zui atau sering diterjemahkan sebagai narapidana pengganti—dalam bahasa populer disebut juga joki penjara.

Praktik ini menuai perhatian publik karena bertentangan langsung dengan prinsip keadilan hukum. Dalam sejumlah laporan dan pengakuan anonim, disebutkan bahwa kekuatan ekonomi dan jaringan sosial dapat memengaruhi proses hukum, sehingga seseorang yang seharusnya menjalani hukuman bisa tetap hidup bebas.

Dugaan Pengakuan Aparat dan Realitas di Lapangan

Isu ini semakin ramai dibicarakan setelah muncul pernyataan dari seorang aparat penegak hukum yang mengakui bahwa, dalam kondisi tertentu, hukum dapat “dibengkokkan” oleh uang dan kekuasaan. Meski tidak pernah diakui secara resmi oleh negara, berbagai kasus dan investigasi media independen memperkuat dugaan bahwa praktik ini memang pernah terjadi.

Dalam skema ini, seseorang yang menghadapi ancaman hukuman penjara akan mencari individu lain yang bersedia “mengambil alih” identitasnya untuk menjalani hukuman. Proses tersebut diduga melibatkan pemalsuan dokumen, manipulasi administrasi, hingga kolusi oknum tertentu.

Kasus Hu Bin yang Mengguncang Opini Publik

Salah satu kasus yang paling sering disebut dalam diskusi publik adalah insiden yang melibatkan Hu Bin, seorang pemuda kaya yang menabrak hingga tewas seorang insinyur saat melakukan balapan liar di jalan umum. Rekaman kejadian menunjukkan Hu Bin dan rekan-rekannya bersikap santai di lokasi kejadian, memicu kemarahan masyarakat.

Dalam perjalanan kasusnya, muncul dugaan bahwa Hu Bin tidak sepenuhnya menjalani hukuman sebagaimana putusan pengadilan. Ia disebut menyewa seorang narapidana pengganti untuk menjalani hukuman penjara selama tiga tahun atas namanya. Meski pihak berwenang membantah adanya pelanggaran prosedur, kasus ini terlanjur menjadi simbol ketimpangan hukum di mata publik.

Bagaimana Sistem “Joki Penjara” Diduga Bekerja?

Dalam berbagai laporan investigatif, praktik ini biasanya melibatkan pelaku kejahatan dari kalangan berpengaruh, termasuk pebisnis besar atau jaringan kriminal. Individu yang bersedia menjadi joki penjara umumnya berasal dari kelompok ekonomi lemah.

Sebagai imbalan, keluarga joki penjara dijanjikan tunjangan hidup selama masa hukuman, serta bonus besar setelah hukuman selesai. Beberapa sumber menyebutkan tarifnya bervariasi, bahkan ada yang mengklaim bisa dimulai dari puluhan dolar per hari, tergantung risiko dan lamanya hukuman.

Kritik dan Sindiran terhadap Supremasi Hukum

Fenomena ini memicu kritik tajam dari masyarakat sipil dan pengamat hukum. Banyak yang menyindir bahwa yang berlaku bukan lagi supremasi hukum, melainkan supremasi orang berkuasa. Ketika uang mampu memindahkan beban hukuman kepada orang lain, keadilan dianggap kehilangan maknanya.

Meski pemerintah China secara resmi menegaskan komitmen terhadap penegakan hukum yang tegas, bayang-bayang praktik seperti joki penjara terus menjadi bahan perdebatan. Bagi publik, kasus-kasus ini menjadi pengingat bahwa tanpa transparansi dan pengawasan kuat, hukum bisa menjadi alat yang tidak lagi setara bagi semua orang.**DS

Baca juga artikel lainnya :

lansia-jepang-minta-dipenjara-karena-kesepian