Menulis Tangan Setiap Hari, Rahasia Daya Ingat Tajam Lansia Jepang
Studi Dr. Hiroshi Tanaka (2011–2019) menemukan kebiasaan sederhana menulis tangan 10–15 menit per hari mampu menjaga daya ingat lansia tetap tajam.
Eksplora.id - Selama hampir satu dekade, dari tahun 2011 hingga 2019, Dr. Hiroshi Tanaka, seorang peneliti neurologi di Jepang, melakukan pengamatan mendalam terhadap sekelompok pasien lansia berusia di atas 80 tahun. Hasil penelitiannya mengejutkan banyak pihak.
Di usia yang oleh banyak orang dianggap sebagai masa penurunan fungsi kognitif, para lansia ini justru menunjukkan daya ingat yang tajam, kemampuan berpikir jernih, dan konsentrasi yang stabil. Mereka mampu mengingat detail percakapan, peristiwa harian, hingga informasi baru dengan baik.
Bukan Pola Makan, Bukan Olahraga
Yang menarik, Dr. Tanaka tidak menemukan satu pola hidup seragam yang biasanya dianggap sebagai kunci kesehatan otak.
Pola makan para lansia tersebut berbeda-beda. Ada yang mengikuti pola makan tradisional Jepang, ada pula yang tidak terlalu ketat menjaga asupan. Pola latihan fisik pun bervariasi, dari yang rutin berjalan kaki hingga yang jarang berolahraga. Bahkan jam tidur mereka tidak seragam.
Namun di tengah semua perbedaan itu, terdapat satu kebiasaan yang sama.
Kebiasaan Sederhana yang Sama: Menulis Tangan
Semua pasien lansia dengan daya ingat tajam itu memiliki kebiasaan menulis tangan selama 10 hingga 15 menit setiap hari.
Mereka tidak menggunakan ponsel, komputer, atau alat elektronik apa pun. Hanya kertas dan alat tulis. Isi tulisannya pun beragam: catatan harian, refleksi pribadi, daftar kegiatan, hingga menuliskan kembali ingatan masa lalu.
Kebiasaan ini dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun, tanpa paksaan dan tanpa target tertentu.
Mengapa Menulis Tangan Sangat Kuat untuk Otak
Menurut Dr. Tanaka, menulis tangan adalah salah satu aktivitas yang mengaktifkan banyak sistem otak secara bersamaan.
Saat seseorang menulis tangan, otak tidak hanya bekerja untuk memikirkan kata. Aktivitas ini juga melibatkan koordinasi motorik halus, kesadaran spasial, pengkodean memori, serta pemrosesan bahasa.
Berbeda dengan mengetik atau memilih kata di layar, menulis tangan memaksa otak untuk bekerja lebih lambat namun lebih dalam. Setiap huruf membutuhkan perhatian, setiap kata membutuhkan kesadaran, dan setiap kalimat melibatkan proses berpikir yang aktif.
Otak Menurun Bukan Karena Usia
Salah satu kesimpulan penting dari penelitian ini adalah pandangan yang sering keliru tentang penuaan.
Dr. Tanaka menegaskan bahwa penurunan fungsi otak bukan terutama disebabkan oleh usia, melainkan karena otak semakin jarang digunakan secara aktif.
Seperti otot, otak membutuhkan latihan. Jika tidak dilatih, kemampuan berpikir, mengingat, dan memproses informasi akan melemah. Bukan karena usia, tetapi karena kurangnya stimulasi.
Mengingat Saja Tidak Cukup
Penelitian ini juga membantah anggapan bahwa mengingat informasi saja sudah cukup untuk menjaga otak tetap tajam.
Dr. Tanaka menyebutkan bahwa otak tidak akan menjadi tajam hanya dengan mengingat, melainkan dengan dilatih untuk mengingat. Ada perbedaan besar antara pasif menerima informasi dan aktif mengolah serta menuliskannya kembali.
Menulis tangan memaksa otak untuk memilih kata, menyusun kalimat, dan menghubungkan ingatan lama dengan pikiran baru. Proses inilah yang menjaga jalur saraf tetap aktif dan sehat.
Relevansi di Era Digital
Di era serba digital, kebiasaan menulis tangan semakin ditinggalkan. Catatan diganti layar, pesan diganti suara, dan ingatan sering dialihkan ke perangkat elektronik.
Penelitian Dr. Tanaka menjadi pengingat bahwa kemudahan teknologi tidak selalu sejalan dengan kesehatan otak. Justru aktivitas sederhana yang terlihat kuno, seperti menulis tangan, dapat menjadi latihan mental yang sangat efektif.
Pelajaran untuk Semua Usia
Meski penelitian ini dilakukan pada lansia, pesannya relevan untuk semua usia. Menulis tangan bukan hanya nostalgia masa lalu, tetapi investasi jangka panjang untuk kesehatan otak.
Cukup 10–15 menit sehari, tanpa target rumit, tanpa alat canggih. Hanya kertas, pena, dan kesediaan untuk berpikir perlahan.
Karena pada akhirnya, daya ingat yang tajam bukanlah hadiah dari usia muda, melainkan hasil dari otak yang terus diajak bekerja.**DS
Baca juga artikel lainnya :
lansia-masih-bekerja-di-jepang-antara-kebutuhan-pilihan-dan-tantangan

