Garam Rebus Aceh, Warisan “Emas Putih” Sejak Zaman Kesultanan Samudra Pasai

Masyarakat Aceh masih memproduksi garam lokal dengan metode rebus sejak zaman Kesultanan Samudra Pasai. Simak sejarah dan proses pembuatan “emas putih” warisan budaya pesisir Aceh.

Jan 31, 2026 - 15:11
Jan 31, 2026 - 15:12
 0  1
Garam Rebus Aceh, Warisan “Emas Putih” Sejak Zaman Kesultanan Samudra Pasai
Sumber foto : Instagram

Eksplora.id - Di tengah gempuran teknologi modern dan produksi garam industri berskala besar, masyarakat Aceh masih setia mempertahankan satu tradisi tua yang nyaris tak berubah sejak ratusan tahun lalu: memproduksi garam lokal dengan metode rebus. Cara ini bukan sekadar teknik pengolahan, melainkan warisan budaya yang telah hidup sejak masa Kesultanan Samudra Pasai pada abad ke-13 hingga ke-15 Masehi.

Garam, yang kerap disebut sebagai “emas putih”, memiliki peran penting dalam sejarah ekonomi dan budaya Aceh. Bukan hanya sebagai bumbu dapur, tetapi juga sebagai komoditas strategis yang menopang kehidupan masyarakat pesisir.

Garam Rebus, Jejak Sejarah dari Pesisir Aceh

Sejak era Kesultanan Samudra Pasai—kerajaan Islam pertama di Nusantara—Aceh telah dikenal sebagai wilayah maritim yang kuat. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan internasional membuat berbagai komoditas berkembang, termasuk garam.

Berbeda dengan daerah lain yang mengandalkan penguapan air laut menggunakan panas matahari, masyarakat Aceh mengembangkan teknik merebus air laut. Metode ini diyakini muncul sebagai adaptasi terhadap kondisi alam Aceh yang memiliki curah hujan tinggi, sehingga penguapan alami sulit dilakukan secara konsisten.

Teknik ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi pengetahuan lokal yang dijaga hingga hari ini.

Dari Air Laut hingga Kristal Garam

Lalu, bagaimana sebenarnya proses pembuatan garam tradisional Aceh dengan metode rebus?

Prosesnya dimulai dari pengambilan air laut di kawasan pesisir tertentu yang dipercaya memiliki kadar garam tinggi. Air laut ini kemudian disaring secara sederhana untuk memisahkan kotoran seperti pasir atau serpihan kayu.

Setelah itu, air laut dimasukkan ke dalam wadah besar—dahulu menggunakan periuk tanah liat, kini sebagian telah beralih ke drum besi atau kuali besar—untuk direbus selama berjam-jam di atas tungku kayu bakar. Proses perebusan ini membutuhkan kesabaran dan pengalaman, karena api harus dijaga stabil agar air menguap perlahan dan garam mengkristal dengan baik.

Seiring waktu, air akan menyusut dan menyisakan kristal-kristal garam putih yang kemudian dikeringkan sebelum siap digunakan atau dijual.

Bukan Sekadar Garam, Tapi Identitas Budaya

Bagi masyarakat Aceh, garam rebus bukan sekadar hasil produksi rumah tangga. Ia adalah bagian dari identitas budaya pesisir. Banyak keluarga yang mewarisi keterampilan ini secara turun-temurun, bahkan sejak usia anak-anak sudah dilibatkan dalam prosesnya.

Nilai budaya inilah yang membuat garam Aceh memiliki makna lebih dari sekadar rasa asin. Di balik setiap butirnya, tersimpan cerita tentang ketekunan, adaptasi terhadap alam, dan kearifan lokal yang bertahan melampaui zaman.

Tantangan di Era Modern

Meski memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, produksi garam tradisional Aceh menghadapi berbagai tantangan. Masuknya garam industri yang lebih murah dan diproduksi massal membuat garam rebus lokal kalah bersaing secara harga.

Belum lagi keterbatasan alat, akses pasar, serta minimnya regenerasi pelaku usaha garam tradisional. Banyak generasi muda yang memilih pekerjaan lain karena proses pembuatan garam rebus dianggap berat dan kurang menjanjikan secara ekonomi.

Namun demikian, kesadaran akan pentingnya pelestarian produk lokal dan pangan tradisional mulai tumbuh. Garam rebus Aceh kini dilirik sebagai produk bernilai budaya dan berpotensi dikembangkan sebagai komoditas unggulan berbasis kearifan lokal.

Warisan yang Patut Dijaga

Garam rebus Aceh adalah bukti bahwa tradisi tidak selalu tertinggal oleh zaman. Ia justru menjadi pengingat bahwa nenek moyang Nusantara telah memiliki sistem produksi yang cerdas, adaptif, dan selaras dengan alam.

Di tengah arus modernisasi, menjaga keberlanjutan garam tradisional Aceh berarti menjaga sepotong sejarah bangsa—sebuah warisan “emas putih” yang lahir dari dapur-dapur sederhana, namun bernilai tinggi bagi identitas dan budaya Indonesia.**DS

Baca juga artikel lainnya :

jangan-tertipu-putih-bersihnya-garam-pilih-yang-lebih-sehat-untuk-tubuh