Dedi Mulyadi Siapkan Pangandaran Jadi “Bali-nya Jawa Barat”

Dedi Mulyadi menyiapkan Pangandaran menjadi “Bali-nya Jawa Barat” dengan penguatan seni, budaya, alam, dan pariwisata berbasis masyarakat demi destinasi berkelanjutan.

Jan 31, 2026 - 12:19
 0  1
Dedi Mulyadi Siapkan Pangandaran Jadi “Bali-nya Jawa Barat”
Gambar oleh rendy Herdiansyah dari Pixabay

Eksplora.id - Kabupaten Pangandaran kini tidak lagi diposisikan sekadar sebagai destinasi pantai musiman. Di bawah visi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, kawasan pesisir selatan ini tengah dipersiapkan menjadi “Bali-nya Jawa Barat”—sebuah wilayah pariwisata yang hidup dari harmoni alam, seni, dan budaya lokal.

Dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 91 kilometer, Pangandaran memiliki modal alam yang luar biasa. Pantai-pantai alami, hutan lindung yang masih terjaga, sungai-sungai jernih, serta lanskap perdesaan yang autentik menjadi fondasi kuat untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Namun, menurut Dedi Mulyadi, keindahan alam saja tidak cukup.

Pangandaran harus bernapas lewat seni dan budaya, bukan hanya menjual pemandangan, tetapi juga jiwa.

Lebih dari Pantai, Ini Soal Identitas Budaya

Konsep menjadikan Pangandaran sebagai Bali-nya Jawa Barat bukan berarti meniru Bali secara mentah. Justru sebaliknya, Pangandaran didorong untuk menemukan dan menampilkan identitasnya sendiri.

Seni pertunjukan lokal, budaya pesisir, kearifan masyarakat Sunda selatan, hingga aktivitas keseharian warga diarahkan menjadi bagian dari pengalaman wisata. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat laut, tetapi juga merasakan kehidupan.

Di sinilah seni, tradisi, dan alam saling menyatu—membentuk karakter destinasi yang hidup, bukan artifisial.

Ragam Wisata Alam yang Autentik

Pangandaran menawarkan pengalaman wisata yang beragam dan menyatu dengan alam:

  • Body rafting di Sungai Santirah, menyusuri aliran sungai jernih di antara tebing dan hutan tropis

  • Surfing di Pantai Batukaras, salah satu spot favorit peselancar dengan ombak bersahabat

  • Menikmati kopi sore di kafe-kafe kecil pinggir jalan, dengan suasana santai khas pesisir

Setiap aktivitas bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari narasi besar tentang alam yang dijaga dan manusia yang hidup selaras dengannya.

Pariwisata Berbasis Masyarakat

Salah satu penekanan utama dalam pengembangan Pangandaran adalah pariwisata berbasis masyarakat. Pemerintah daerah dan provinsi mendorong agar warga lokal menjadi pelaku utama, bukan hanya penonton.

Homestay, usaha kuliner, pemandu wisata, hingga pelaku seni lokal diberi ruang untuk tumbuh. Dengan cara ini, pariwisata tidak hanya meningkatkan angka kunjungan, tetapi juga:

  • Menggerakkan ekonomi lokal

  • Menjaga kelestarian lingkungan

  • Memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap wilayahnya

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pariwisata berkelanjutan yang kini menjadi standar global.

Penguatan Akses dan Infrastruktur

Untuk mendukung visi besar tersebut, penguatan akses dan infrastruktur terus dilakukan. Konektivitas antarwilayah, penataan kawasan wisata, hingga peningkatan fasilitas publik menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

Tujuannya jelas: menjadikan Pangandaran nyaman dikunjungi, mudah diakses, dan tetap lestari.

Menuju Ikon Baru Pariwisata Jawa Barat

Dengan perpaduan alam, seni, budaya, dan keterlibatan masyarakat, Pangandaran diarahkan menjadi ikon baru pariwisata Jawa Barat—destinasi yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kaya secara makna.

Jika Bali dikenal sebagai pulau dewata, maka Pangandaran diproyeksikan sebagai ruang di mana alam dan budaya Sunda selatan bernapas bersama.**DS

Baca juga artikel lainnya :

labuan-bajo-masih-mempertahankan-kapal-kayu-di-tengah-modernisasi