Di Masa Depan, Manusia Bisa Bernapas Lewat Anus? Ini Penelitian Medis yang Serius
Peneliti Jepang mengembangkan enteral ventilation, teknologi medis yang memungkinkan manusia bernapas lewat anus saat paru-paru gagal bekerja. Ini bukan lelucon, melainkan opsi darurat penyelamat nyawa.
Eksplora.id - Kedengarannya seperti bahan bercandaan internet atau judul clickbait ekstrem. Namun faktanya, penelitian tentang manusia bernapas lewat anus benar-benar ada dan sedang dikembangkan secara serius oleh ilmuwan Jepang.
Teknologi ini dikenal dengan nama enteral ventilation, sebuah metode alternatif pemberian oksigen ke tubuh melalui saluran pencernaan ketika paru-paru tidak lagi mampu bekerja secara optimal. Bukan untuk gaya hidup aneh, bukan pula eksperimen nyeleneh tanpa arah, melainkan opsi medis darurat bagi pasien gagal napas berat.
Ilmu pengetahuan memang sering terdengar tidak masuk akal di awal. Tapi justru dari ide-ide “absurd” inilah, banyak nyawa berhasil diselamatkan.
Apa Itu Enteral Ventilation?
Enteral ventilation adalah metode pemberian oksigen melalui rektum, bukan melalui hidung atau mulut seperti pernapasan normal. Penelitian ini terinspirasi dari beberapa hewan, seperti ikan tertentu dan amfibi, yang mampu menyerap oksigen langsung melalui saluran pencernaan.
Para peneliti menemukan bahwa dinding usus memiliki kemampuan menyerap oksigen, terutama jika dilapisi cairan khusus yang membantu difusi gas masuk ke aliran darah. Dengan kata lain, oksigen tidak harus selalu masuk lewat paru-paru.
Penelitian ini dikembangkan sebagai solusi ketika ventilator mekanis sudah tidak lagi efektif, seperti pada kasus gagal napas akut atau kerusakan paru-paru parah.
Kenapa Paru-Paru Bisa “Menyerah”?
Dalam kondisi normal, paru-paru bertugas menukar oksigen dan karbon dioksida. Namun pada kondisi tertentu—seperti infeksi berat, Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), atau kerusakan jaringan paru—fungsi ini bisa menurun drastis.
Pandemi COVID-19 menjadi salah satu pemicu percepatan riset ini. Banyak pasien mengalami hipoksia parah, sementara ketersediaan ventilator sangat terbatas dan efektivitasnya pun tidak selalu maksimal.
Di titik inilah dunia medis membutuhkan jalur oksigen alternatif. Bukan untuk menggantikan paru-paru sepenuhnya, tetapi sebagai penopang darurat agar organ vital tetap mendapat suplai oksigen.
Bukan Untuk Semua Orang, Apalagi Gaya Hidup
Perlu digarisbawahi: enteral ventilation bukan metode pernapasan harian. Ini bukan inovasi untuk menggantikan paru-paru manusia secara permanen, apalagi tren hidup ekstrem.
Teknologi ini dirancang khusus untuk situasi kritis di ruang perawatan intensif, ketika pilihan lain sudah sangat terbatas. Tujuannya sederhana: memberi waktu tambahan agar pasien bisa bertahan hidup.
Dalam uji coba pada hewan, metode ini menunjukkan hasil menjanjikan, dengan peningkatan kadar oksigen dalam darah tanpa merusak jaringan usus secara signifikan.
Kenapa Kedengarannya Sangat Tidak Masuk Akal?
Karena manusia sudah terbiasa berpikir bahwa bernapas hanya bisa dilakukan lewat hidung dan mulut. Setiap ide yang menabrak pemahaman dasar ini otomatis terdengar aneh, bahkan lucu.
Namun sejarah sains penuh dengan contoh serupa. Transplantasi organ, operasi jantung terbuka, bahkan cuci darah pernah dianggap mustahil dan berbahaya. Kini, semuanya menjadi prosedur medis standar.
Ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari ide yang aman dan nyaman, melainkan dari keberanian mempertanyakan batas-batas lama.
Masa Depan Medis: Tidak Selalu Nyaman, Tapi Menyelamatkan
Penelitian enteral ventilation masih terus dikembangkan dan belum diterapkan secara luas pada manusia. Namun arah riset ini menunjukkan satu hal penting: dunia medis tidak berhenti mencari cara baru untuk menyelamatkan nyawa, bahkan jika jalannya terdengar tidak lazim.
Teknologi masa depan mungkin tidak selalu terdengar elegan atau masuk akal bagi awam. Tapi bagi pasien yang kehabisan napas dan waktu, solusi “aneh” bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati.
Kadang, yang menyelamatkan manusia bukan ide yang indah—melainkan ide yang berani menabrak logika lama.**DS
Baca juga artikel lainnya :
polemik-pasien-bpjs-diminta-pulang-setelah-tiga-hari-perawatan

