Awalia Rismala, Gadis Kretek di Dunia Nyata yang Bermimpi Menciptakan Kretek Terbaik Indonesia

Awalia Rismala, mantan pelinting rokok, mendirikan Putri Tembakau Indonesia dan merawat tradisi kretek lewat produksi rokok Mayan yang dibuat tangan oleh perempuan pelinting lokal.

Feb 10, 2026 - 23:05
Feb 10, 2026 - 23:08
 0  2
Awalia Rismala, Gadis Kretek di Dunia Nyata yang Bermimpi Menciptakan Kretek Terbaik Indonesia
Sumber foto : Instagram

Eksplora.id - Di tengah arus zaman yang kian menjauh dari tradisi, Awalia Rismala—atau Risma—memilih jalan yang tidak populer. Saat banyak orang berlomba mengikuti tren baru, ia justru menengok ke belakang, ke meja pelintingan, ke tangan-tangan perempuan yang sejak lama menjadi nyawa industri kretek tradisional Indonesia.

Sejak muda, Risma telah bekerja sebagai pelinting rokok. Ia tumbuh bersama aroma tembakau dan cengkih, memahami bahwa kretek bukan sekadar produk konsumsi, melainkan hasil kerja budaya, pengetahuan lokal, dan ketelatenan manusia. Dari sanalah mimpinya tumbuh: menciptakan rokok kretek terbaik di Indonesia, tanpa meninggalkan nilai tradisi dan martabat para pekerjanya.

Putri Tembakau Indonesia dan Misi Budaya

Risma kemudian mendirikan Putri Tembakau Indonesia, sebuah inisiatif yang bertujuan menjaga kretek sebagai warisan khas Indonesia sekaligus memberdayakan perempuan pelinting tradisional. Di tengah kontroversi industri rokok, Risma mengambil posisi yang jernih: ia tidak mengampanyekan konsumsi, tetapi membela identitas, tradisi, dan manusia di baliknya.

Saat ini Gen-Z banyak memakai rokok elektrik dan merasa itu keren. Saya ingin semua orang tahu bahwa budaya Indonesia adalah menciptakan rokok kretek tradisional menggunakan tangan,” ujar Risma.

Kolaborasi dengan Damayanti Zahar

Untuk mewujudkan mimpinya, Risma kemudian bekerja sama dengan Damayanti Zahar, seorang peracik dan penggiat kretek tradisional. Dari kolaborasi inilah lahir rokok merek Mayan, yang diproduksi dengan pendekatan sepenuhnya tradisional.

Tembakau yang digunakan diambil langsung dari petani di wilayah Jawa Tengah, tanpa perantara. Pendekatan ini dilakukan untuk menjaga kualitas sekaligus memastikan kesejahteraan petani.

Namun, menjaga kualitas tembakau bukan perkara mudah.

“Kualitas tembakau sangat tergantung dari jenis, waktu, dan tempat penanaman,” jelas Risma. Setiap panen memiliki karakter berbeda, dan di situlah tantangan terbesar produksi tradisional.

Racikan Saus Tradisional Tanpa Kimia

Keunikan rokok Mayan terletak pada sausnya. Tidak ada bahan kimia sintetis atau pengawet. Semua diracik secara tradisional dari hasil fermentasi tomat, wortel, daun mint, kayu manis, dan berbagai bumbu alami lainnya.

“Tradisional semua,” tegas Risma.

Damayanti menambahkan bahwa bekerja dengan bahan alami berarti menerima ketidakpastian. “Tumbuhan tidak bisa dikontrol. Karena itu harus selalu ada pengecekan kualitas. Rasanya selalu bisa berbeda, bahkan tidak selalu sama setiap hari,” ujarnya.

Bagi mereka, ketidakkonsistenan rasa bukan kelemahan, melainkan bukti kejujuran proses alam.

Perempuan Pelinting dan Filosofi Bahagia

Mayoritas pekerja dalam produksi rokok Mayan adalah perempuan, warga sekitar pabrik di wilayah Mijen, Semarang. Mereka adalah pelinting linting tangan (SKT) yang bekerja dengan keterampilan turun-temurun.

Salah satu pekerja mengatakan bahwa melinting rokok bukan sekadar soal teknik, tetapi juga perasaan.
Kalau jadi pelinting rokok itu harus bahagia. Kalau tidak bahagia, hasil lintingannya jelek dan rasa tembakaunya tidak enak. Pasti jadi pahit,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Risma, pernyataan itu merangkum segalanya: bahwa kretek tradisional adalah hasil kerja tangan, rasa, dan batin manusia.

Lebih dari Sekadar Produk

Awalia Rismala tidak sedang membangun sekadar merek rokok. Ia membangun narasi tentang perempuan, kerja tradisional, petani, dan budaya yang nyaris tersisih oleh modernisasi.

Seperti “Gadis Kretek” dalam kisah fiksi, Risma berdiri di persimpangan antara masa lalu dan masa depan. Bedanya, kisah ini nyata—dan masih terus diperjuangkan, linting demi linting.**DS

Baca juga artikel lainnya :

desa-bone-bone-kampung-tanpa-rokok-yang-mengubah-arah-hidup-warganya