Benarkah Minyak Canola Lebih Sehat? Antara Label “Heart Healthy” dan Fakta di Balik Prosesnya

Minyak canola sering dipromosikan sebagai “heart healthy”. Benarkah lebih sehat dari minyak sawit? Simak penjelasan lengkap tentang asal-usul canola, proses produksi, risiko oksidasi, dan perbandingannya dengan minyak sawit serta minyak kelapa.

Feb 20, 2026 - 01:28
 0  5
Benarkah Minyak Canola Lebih Sehat? Antara Label “Heart Healthy” dan Fakta di Balik Prosesnya
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Di rak supermarket, minyak canola kerap tampil dengan label yang meyakinkan: heart healthy, rendah lemak jenuh, dan kaya omega-3. Banyak orang pun beralih dari minyak sawit ke canola karena percaya ini pilihan yang lebih ramah bagi jantung.

Namun belakangan, muncul narasi yang menyebut bahwa minyak canola hanyalah hasil “marketing cerdas”. Benarkah demikian? Ataukah ada kesalahpahaman yang perlu diluruskan?

Mari kita bedah satu per satu.

Tidak Ada Pohon Canola?

Salah satu klaim yang sering beredar adalah bahwa “tidak ada pohon canola”. Pernyataan ini sebenarnya tidak sepenuhnya keliru, tetapi perlu konteks.

Canola bukanlah nama tanaman alami, melainkan varietas hasil pemuliaan dari tanaman rapeseed (Brassica napus). Tanaman rapeseed memang sudah lama dibudidayakan, tetapi dahulu kandungan asam erusatnya tinggi dan kurang cocok untuk konsumsi manusia.

Melalui proses pemuliaan tanaman (bukan rekayasa genetika pada awalnya), dikembangkan varietas rendah asam erusat dan rendah glukosinolat. Varietas inilah yang kemudian dipasarkan dengan nama “canola”, singkatan dari Canadian oil, low acid.

Jadi benar, tidak ada “pohon canola” dalam arti harfiah. Namun tanaman sumbernya nyata dan dibudidayakan secara luas.

Proses Produksi dan Penggunaan Hexane

Kritik lain yang sering muncul adalah penggunaan pelarut kimia seperti hexane dalam proses ekstraksi minyak.

Memang benar, dalam industri minyak nabati skala besar—baik canola, kedelai, maupun bunga matahari—sering digunakan metode ekstraksi dengan pelarut untuk mendapatkan hasil minyak maksimal. Hexane membantu memisahkan minyak dari biji secara efisien.

Namun, dalam proses pemurnian, pelarut tersebut diuapkan kembali pada suhu tinggi sehingga residunya sangat kecil dan berada dalam batas aman yang ditetapkan regulator pangan di banyak negara.

Meski demikian, sebagian konsumen memilih minyak cold-pressed atau expeller-pressed karena prosesnya minim pelarut dan dianggap lebih alami.

Omega-3 dan Risiko Oksidasi

Salah satu nilai jual utama minyak canola adalah kandungan asam lemak tak jenuh, termasuk omega-3 jenis ALA (alpha-linolenic acid). Secara teori, ini menguntungkan untuk kesehatan jantung.

Namun, asam lemak tak jenuh memang lebih rentan terhadap panas dan oksidasi dibanding lemak jenuh. Proses pemurnian bersuhu tinggi dapat mengurangi sebagian kandungan nutrisi sensitif panas.

Jika minyak mengalami oksidasi berlebihan—baik saat produksi maupun saat dipakai menggoreng berulang kali—maka terbentuk senyawa yang berpotensi memicu stres oksidatif dalam tubuh. Stres oksidatif inilah yang sering dikaitkan dengan inflamasi kronis.

Namun perlu dicatat, risiko oksidasi tidak hanya terjadi pada canola. Semua minyak nabati bisa mengalami oksidasi jika dipanaskan terlalu lama atau digunakan berulang kali seperti minyak jelantah.

Lalu Bagaimana dengan Minyak Sawit?

Minyak sawit mengandung lemak jenuh lebih tinggi dibanding canola, tetapi juga relatif lebih stabil terhadap panas. Itulah sebabnya minyak sawit banyak digunakan untuk menggoreng.

Dalam konteks kesehatan, perdebatan soal sawit sering berkisar pada dampaknya terhadap kadar kolesterol. Beberapa penelitian menunjukkan konsumsi berlebihan lemak jenuh dapat meningkatkan LDL pada sebagian orang, meski efeknya bisa berbeda tergantung pola makan keseluruhan.

Yang jelas, minyak sawit segar berbeda dengan minyak jelantah yang telah dipakai berkali-kali. Minyak yang sudah teroksidasi karena pemanasan berulang jauh lebih berisiko dibanding jenis minyaknya sendiri.

Minyak Kelapa, Alternatif yang Lebih Aman?

Minyak kelapa sering dianggap lebih “alami” dan stabil karena kandungan lemak jenuhnya tinggi, terutama asam laurat. Stabilitas ini membuatnya lebih tahan panas.

Namun, sama seperti minyak sawit, minyak kelapa juga tinggi lemak jenuh. Dalam jumlah moderat, ia bisa menjadi bagian dari pola makan seimbang. Tetapi konsumsi berlebihan tetap perlu dihindari.

Marketing atau Realita?

Label “heart healthy” pada minyak canola umumnya merujuk pada profil lemaknya yang rendah lemak jenuh dan relatif tinggi lemak tak jenuh. Dalam konteks diet seimbang, ini memang bisa menjadi pilihan baik.

Namun, tidak ada satu jenis minyak yang secara mutlak paling sehat untuk semua orang. Kesehatan jantung dipengaruhi oleh pola makan keseluruhan, aktivitas fisik, kualitas tidur, hingga faktor genetik.

Menyederhanakan persoalan menjadi “canola jahat, sawit baik” atau sebaliknya justru berisiko menyesatkan.

Jadi, Mana yang Sebaiknya Dipilih?

Alih-alih terjebak pada label atau tren, pendekatan terbaik adalah variasi dan penggunaan yang bijak. Gunakan minyak secukupnya, hindari pemanasan berulang, dan perhatikan kualitas produk.

Minyak sawit segar, minyak kelapa, maupun canola bisa digunakan sesuai kebutuhan memasak. Yang lebih penting adalah tidak mengonsumsi makanan ultra-proses berlebihan dan tidak menggunakan minyak yang sudah teroksidasi.

Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya soal mengganti satu jenis minyak dengan yang lain. Ia adalah soal kebiasaan jangka panjang.

Karena kadang yang perlu diubah bukan hanya merek minyak di dapur—tetapi cara kita memahami informasi yang viral di media sosial.**DS

Baca juga artikel lainnya :

sejarah-tukang-minyak-keliling-di-indonesia