Perbedaan Cendol dan Dawet: Sekilas Mirip, Ternyata Tak Sama

Apa perbedaan cendol dan dawet? Simak penjelasan lengkap tentang asal-usul, bahan, warna, hingga cita rasa dua minuman tradisional Indonesia yang sering dianggap sama ini.

Feb 20, 2026 - 00:30
 0  3
Perbedaan Cendol dan Dawet: Sekilas Mirip, Ternyata Tak Sama
sumber foto : gg

Eksplora.id - Indonesia dikenal sebagai surga kuliner dengan ragam minuman tradisional yang menyegarkan. Di antara deretan minuman legendaris itu, nama cendol dan dawet kerap disebut bersamaan. Bentuknya sama-sama berupa butiran hijau kenyal yang disajikan dengan santan dan gula merah cair. Namun, benarkah keduanya identik?

Sekilas memang tampak serupa. Tetapi jika ditelusuri lebih dalam, cendol dan dawet memiliki perbedaan dari sisi bahan, sejarah, hingga karakter rasa.

Asal-Usul dan Penyebaran

https://awsimages.detik.net.id/community/media/visual/2021/05/22/dawet-ayu-yu-pur-1_169.jpeg?w=1200

Cendol dikenal luas di wilayah Sunda, Jawa Barat, dan juga populer di Malaysia serta Singapura. Di Indonesia, minuman ini sering disebut “es cendol” dan menjadi sajian khas di pasar tradisional maupun acara keluarga.

Sementara itu, dawet memiliki akar kuat di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Salah satu yang paling terkenal adalah dawet ayu Banjarnegara, yang bahkan menjadi ikon daerah tersebut. Nama “ayu” merujuk pada cita rasanya yang manis dan tampilannya yang cantik menggoda.

Secara budaya, dawet sering hadir dalam tradisi adat Jawa, termasuk upacara pernikahan sebagai simbol doa dan harapan baik bagi pasangan pengantin.

Perbedaan Bahan Dasar

Perbedaan paling mendasar terletak pada bahan pembuat butiran hijaunya. Cendol tradisional umumnya dibuat dari tepung beras yang dicampur dengan tepung hunkwe (tepung kacang hijau) serta pewarna alami dari daun pandan atau daun suji. Teksturnya cenderung lebih kenyal dan padat.

Dawet klasik Jawa biasanya menggunakan tepung beras tanpa tambahan hunkwe, sehingga teksturnya lebih lembut dan sedikit lebih halus. Pada beberapa variasi modern, bahan bisa saja mirip, tetapi resep tradisional tetap menunjukkan perbedaan ini.

Warna hijau pada keduanya berasal dari bahan alami, meskipun kini sebagian pedagang menggunakan pewarna makanan untuk alasan praktis.

Kuah dan Cita Rasa

Baik cendol maupun dawet disajikan dengan santan dan gula merah cair. Namun, ada sentuhan berbeda dalam penyajiannya.

Cendol cenderung memiliki rasa yang lebih sederhana dan ringan. Kuah santannya biasanya encer dengan rasa gurih yang seimbang. Gula merahnya tidak terlalu pekat sehingga menyatu dengan lembut.

Dawet, khususnya dawet ayu, memiliki kuah gula merah yang lebih kental dan legit. Santannya pun sering dibuat lebih gurih dan kaya rasa. Kombinasi ini menciptakan karakter manis yang lebih kuat dibandingkan cendol.

Beberapa daerah juga menambahkan tape ketan atau nangka pada cendol, sementara dawet ayu biasanya tetap mempertahankan komposisi klasiknya.

Bentuk dan Penyajian

Butiran cendol umumnya lebih pendek dan gemuk. Sementara dawet sering kali lebih panjang dan ramping. Perbedaan ini berasal dari teknik pencetakan adonan.

Secara visual memang sulit dibedakan bagi orang awam. Namun penikmat kuliner tradisional biasanya bisa merasakan perbedaan tekstur hanya dari satu sendokan pertama.

Dalam penyajian modern, keduanya sama-sama disajikan dengan es batu atau es serut. Namun secara historis, dawet dulu dinikmati tanpa es, terutama di daerah pegunungan yang berhawa sejuk.

Perbedaan Filosofi dan Tradisi

Menariknya, dawet memiliki makna simbolik dalam budaya Jawa. Dalam tradisi pernikahan, orang tua pengantin perempuan kadang menjual dawet kepada tamu sebagai simbol kerja keras dan doa agar rumah tangga anaknya kelak lancar rezeki.

Cendol, meskipun tidak terlalu lekat dengan ritual adat, tetap menjadi bagian dari identitas kuliner Sunda dan Asia Tenggara.

Jadi, Mana yang Lebih Autentik?

Pertanyaan ini sebenarnya tidak relevan, karena keduanya lahir dari budaya yang berbeda. Cendol dan dawet bukanlah salinan satu sama lain, melainkan dua varian minuman tradisional yang berkembang sesuai karakter daerahnya.

Jika cendol terasa lebih ringan dan sederhana, dawet hadir dengan rasa yang lebih kaya dan simbolik. Perbedaan ini justru menunjukkan betapa kayanya warisan kuliner Indonesia.

Pada akhirnya, baik cendol maupun dawet sama-sama menghadirkan kesegaran di tengah cuaca tropis yang terik. Yang membedakan hanyalah detail kecil yang membuat keduanya punya identitas sendiri.

Dan mungkin, di situlah letak keindahannya—dua minuman yang tampak serupa, tetapi menyimpan cerita berbeda dalam setiap tegukan.**DS

Baca juga artikel lainnya :

malteada-de-yuca-milkshake-tradisional-kolombia-berbahan-singkong-yang-viral