Serum Antibisa Ular Sulit Didapat di Indonesia, Apa Penyebabnya?
Serum antibisa ular merupakan penawar racun yang sangat dibutuhkan bagi korban gigitan ular berbisa. Namun, di Indonesia, ketersediaan serum ini masih menjadi masalah serius.

Eksplora.id - Serum antibisa ular merupakan penawar racun yang sangat dibutuhkan bagi korban gigitan ular berbisa. Namun, di Indonesia, ketersediaan serum ini masih menjadi masalah serius. Banyak rumah sakit, terutama di daerah terpencil, tidak memiliki stok serum antibisa yang memadai, sehingga korban gigitan ular kerap mengalami keterlambatan penanganan yang bisa berakibat fatal.
Penyebab Kelangkaan Serum Antibisa Ular di Indonesia
-
Produksi Terbatas
Serum antibisa umumnya diproduksi melalui metode yang kompleks, yaitu dengan menyuntikkan bisa ular dalam dosis kecil ke hewan tertentu seperti kuda atau domba, lalu mengambil antibodi yang dihasilkan. Di Indonesia, produksi serum ini masih terbatas, dengan hanya sedikit lembaga yang memproduksinya, seperti Bio Farma. -
Minimnya Permintaan Pasar
Karena kasus gigitan ular berbisa tidak setinggi penyakit lain seperti demam berdarah atau malaria, permintaan terhadap serum antibisa relatif rendah. Akibatnya, distribusi dan produksinya tidak menjadi prioritas bagi industri farmasi. -
Distribusi yang Tidak Merata
Serum antibisa lebih banyak tersedia di rumah sakit besar di kota-kota besar, sementara fasilitas kesehatan di daerah terpencil sering kali tidak memiliki stok. Hal ini membuat penanganan korban gigitan ular menjadi lebih sulit, terutama di wilayah pedesaan atau hutan yang merupakan habitat alami ular berbisa. -
Harga yang Mahal
Serum antibisa bukanlah obat yang murah. Harga yang tinggi membuat banyak fasilitas kesehatan enggan menyimpan stok dalam jumlah besar, terutama karena masa kadaluarsa serum ini yang relatif singkat. -
Kurangnya Kesadaran dan Pelatihan Medis
Banyak tenaga medis yang kurang mendapatkan pelatihan dalam menangani kasus gigitan ular berbisa. Akibatnya, penggunaan serum antibisa tidak selalu menjadi langkah pertama yang diambil dalam penanganan korban.
Dampak Kelangkaan Serum Antibisa
Kelangkaan serum antibisa dapat menyebabkan meningkatnya angka kematian akibat gigitan ular berbisa. Menurut data WHO, Indonesia termasuk dalam negara dengan risiko tinggi gigitan ular berbisa, terutama di daerah pertanian dan perkebunan. Tanpa penanganan cepat, racun ular dapat menyebabkan kerusakan jaringan, gagal organ, bahkan kematian dalam hitungan jam.
Upaya yang Bisa Dilakukan
-
Meningkatkan Produksi Lokal
Pemerintah dan lembaga farmasi perlu berinvestasi lebih banyak dalam produksi serum antibisa agar tidak bergantung pada impor. -
Menyediakan Stok di Puskesmas
Puskesmas di daerah rawan gigitan ular perlu mendapat suplai serum antibisa yang cukup agar korban bisa segera mendapatkan pertolongan pertama. -
Edukasi dan Pelatihan
Tenaga medis perlu diberikan pelatihan khusus untuk menangani kasus gigitan ular berbisa agar tidak terjadi kesalahan dalam prosedur penanganan. -
Dukungan dari Pemerintah
Regulasi dan kebijakan yang mendukung distribusi serum antibisa secara lebih luas perlu diperkuat agar obat ini dapat diakses dengan lebih mudah, terutama di daerah terpencil.
Dengan meningkatnya kesadaran dan langkah konkret dari berbagai pihak, diharapkan kelangkaan serum antibisa ular di Indonesia dapat segera teratasi, sehingga nyawa korban gigitan ular bisa lebih cepat diselamatkan.
Baca juga artikel lainnya :
ulat jati nan menggelikan namun menjadi hidangan populer di gunung kidul