Sebelum Gandum Diimpor, Roti Kita Tumbuh di Halaman
Sebelum gandum impor mendominasi, masyarakat Nusantara mengenal sukun sebagai sumber pangan utama. Buah lokal ini tahan iklim, bergizi tinggi, dan berpotensi kembali menjadi solusi pangan masa depan.
Eksplora.id - Jauh sebelum tepung terigu mengisi rak-rak dapur dan roti menjadi makanan sehari-hari, masyarakat Nusantara sudah mengenal sumber karbohidrat yang tumbuh tenang di halaman rumah. Tidak perlu ladang luas, tidak perlu pupuk kimia, dan tidak bergantung pada impor. Namanya sukun (Artocarpus altilis).
Buah ini bukan pendatang baru. Sukun telah menjadi bagian dari peradaban pangan tropis selama ribuan tahun, jauh sebelum sistem pangan modern mengenal gandum sebagai bahan pokok. Ia tumbuh subur di wilayah pesisir dan dataran rendah, mengikuti ritme alam, bukan pasar global.
Sukun, Pangan Asli Tropis yang Terlupakan
Sukun berasal dari kawasan Pasifik dan Asia Tenggara. Di Indonesia, tanaman ini dikenal luas dan memiliki banyak nama lokal. Dulu, sukun bukan sekadar makanan alternatif, melainkan sumber energi utama saat beras sulit didapat.
Namun, seiring kolonialisme dan perubahan pola konsumsi, gandum mulai masuk dan perlahan menggantikan pangan lokal. Tepung terigu menjadi simbol modernitas, sementara sukun pelan-pelan tersingkir ke pinggir halaman, hanya dipetik sesekali atau bahkan dibiarkan jatuh membusuk.
Tahan Iklim dan Ramah Lingkungan
Di tengah krisis iklim global, sukun justru tampil sebagai tanaman yang sangat relevan. Pohon sukun tahan panas, tidak rewel terhadap perubahan cuaca, dan mampu berbuah tanpa perawatan intensif. Ia tidak membutuhkan irigasi besar atau input kimia berlebihan.
Satu pohon sukun bisa menghasilkan ratusan buah dalam setahun. Artinya, dari satu titik tanam, tersedia sumber pangan berkelanjutan untuk banyak orang. Inilah keunggulan yang sulit ditandingi tanaman pangan impor yang bergantung pada rantai distribusi panjang dan rentan gangguan global.
Nilai Gizi yang Tak Kalah dari Gandum
Secara nutrisi, sukun bukan pangan kelas dua. Buah ini kaya karbohidrat kompleks, serat, serta mengandung vitamin C, kalium, dan antioksidan. Indeks glikemiknya relatif lebih rendah dibanding produk olahan gandum, sehingga lebih ramah bagi pengelolaan gula darah.
Dalam bentuk tepung, sukun bisa diolah menjadi roti, kue, mi, hingga camilan modern tanpa harus kehilangan karakter lokalnya. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan tepung sukun berpotensi menjadi bahan pangan fungsional di masa depan.
Roti yang Tumbuh di Halaman Rumah
Ungkapan “roti tumbuh di halaman” bukan kiasan. Sukun benar-benar menghadirkan konsep pangan yang dekat, mandiri, dan berdaulat. Saat krisis pangan melanda, pohon sukun tidak menunggu kapal impor atau fluktuasi harga dunia. Ia tetap berbuah mengikuti musim.
Di masa lalu, masyarakat memahami ini secara intuitif. Mereka menanam, memanen, dan mengolah pangan dari lingkungan sekitar. Ketahanan pangan dibangun dari halaman rumah, bukan dari gudang logistik internasional.
Mengembalikan Martabat Pangan Lokal
Kini, ketika ketergantungan impor semakin terasa risikonya, sukun kembali dilirik. Bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai solusi nyata. Menghidupkan kembali sukun berarti membuka peluang ekonomi lokal, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus merawat ekosistem.
Ini bukan soal menolak gandum, melainkan menyeimbangkan kembali sistem pangan. Sukun mengajarkan bahwa pangan tidak selalu harus datang dari jauh. Kadang, jawabannya sudah lama tumbuh di sekitar kita—diam, kuat, dan setia.
Sukun dan Masa Depan Pangan Nusantara
Sukun adalah pengingat bahwa Nusantara pernah mandiri secara pangan. Di tengah tantangan global hari ini, buah ini menawarkan pelajaran penting: keberlanjutan lahir dari kearifan lokal, bukan ketergantungan.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya “apa yang bisa kita impor”, dan mulai bertanya, apa yang sebenarnya sudah kita miliki sejak ribuan tahun lalu.**DS
Baca juga artikel lainnya :
sukun-pohon-perenial-kaya-karbohidrat-dengan-segudang-manfaat-untuk-masa-depan

