Reuse dan Refill: Budaya Lama yang Kian Relevan di Tengah Krisis Sampah

Praktik reuse dan refill telah lama menjadi bagian hidup masyarakat Indonesia. Dari jamu keliling hingga botol kaca, inilah budaya lama yang relevan sebagai solusi krisis sampah modern.

Jan 28, 2026 - 21:03
 0  2
Reuse dan Refill: Budaya Lama yang Kian Relevan di Tengah Krisis Sampah
Sumber foto : Istock

Eksplora.id - Jauh sebelum istilah zero waste, sustainability, atau ekonomi sirkular populer, masyarakat Indonesia sudah akrab dengan praktik reuse (pakai ulang) dan refill (isi ulang). Sayangnya, kebiasaan ini perlahan tergerus oleh gaya hidup serba praktis dan dominasi kemasan sekali pakai.

Padahal, praktik reuse dan refill bukan sekadar kebiasaan lama, melainkan solusi nyata untuk mengurangi sampah, menekan biaya hidup, dan menjaga keseimbangan lingkungan. Tinggal satu pertanyaan penting: apakah praktik ini akan kita kembangkan lewat inovasi, atau justru kita biarkan punah?


Reuse dan Refill Sudah Ada Sejak Dulu

Jika menengok ke belakang, banyak contoh nyata praktik reuse dan refill yang dulu sangat lazim ditemui.

Salah satunya adalah tukang jamu keliling. Mereka membawa jamu dalam botol kaca, menuangkannya ke gelas pelanggan, lalu botol tersebut digunakan kembali keesokan hari. Tidak ada kemasan plastik, tidak ada sampah sekali pakai, dan produknya tetap segar.

Contoh lain adalah air minum dalam kendi. Sebelum galon plastik mendominasi, air minum disimpan dalam kendi tanah liat yang diisi ulang secara berkala. Selain ramah lingkungan, kendi juga menjaga suhu air tetap sejuk secara alami.

Di pasar tradisional, praktik serupa juga mudah ditemukan. Masyarakat membeli beras, minyak goreng, gula, atau kacang-kacangan dengan membawa wadah sendiri. Penjual tinggal menakar sesuai kebutuhan, tanpa tambahan plastik atau kemasan berlapis.


Botol Kaca dan Sistem Krat: Efisien dan Berkelanjutan

Industri minuman tempo dulu juga mengenal sistem botol kaca dalam krat. Botol bekas tidak dibuang, melainkan dikembalikan ke produsen untuk dicuci dan digunakan kembali. Sistem ini bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga menciptakan siklus ekonomi tertutup yang efisien.

Berbeda dengan botol plastik sekali pakai yang langsung menjadi limbah, botol kaca bisa digunakan berkali-kali tanpa kehilangan kualitas. Bahkan, sistem deposit botol mendorong konsumen untuk ikut bertanggung jawab terhadap kemasan yang mereka gunakan.

Ironisnya, sistem yang sudah terbukti efisien ini justru banyak ditinggalkan karena dianggap kurang praktis.


Ketika Kemasan Sekali Pakai Mengambil Alih

Masuknya plastik dan kemasan sekali pakai memang membawa kemudahan. Produk menjadi lebih ringan, higienis, dan mudah didistribusikan. Namun, kemudahan ini datang dengan harga mahal: ledakan sampah.

Indonesia kini menghadapi persoalan serius terkait sampah plastik, terutama yang sulit terurai. Banyak di antaranya berasal dari kemasan produk sehari-hari yang sebenarnya dulu bisa dibeli secara isi ulang.

Praktik reuse dan refill pun perlahan dianggap kuno, padahal justru lebih relevan dari sebelumnya.


Reuse dan Refill di Era Modern: Bisa dan Perlu Dikembangkan

Kabar baiknya, praktik lama ini tidak harus kembali dalam bentuk lama. Justru, inovasi modern bisa menjadi jembatan antara kebiasaan tradisional dan gaya hidup masa kini.

Beberapa contohnya antara lain:

  • Toko refill station untuk sabun, sampo, dan deterjen

  • Layanan isi ulang air minum dengan standar higienis tinggi

  • Kemasan returnable berbasis deposit

  • Aplikasi digital untuk mendukung sistem isi ulang dan pelacakan wadah

Dengan sentuhan teknologi, reuse dan refill bisa tampil lebih praktis, modern, dan tetap sesuai dengan gaya hidup urban.


Lebih dari Sekadar Lingkungan, Ini Soal Budaya

Reuse dan refill bukan hanya tentang mengurangi sampah. Ini adalah bagian dari budaya hidup hemat, bijak, dan bertanggung jawab. Kebiasaan membawa wadah sendiri mengajarkan kita untuk membeli sesuai kebutuhan, bukan impulsif.

Selain itu, praktik ini juga membuka peluang ekonomi lokal, mulai dari pedagang pasar, UMKM, hingga startup berbasis ekonomi sirkular.


Pilihan Ada di Tangan Kita

Pada akhirnya, praktik reuse dan refill sudah lama ada dalam kehidupan kita. Yang dipertaruhkan sekarang bukan apakah kita mampu melakukannya, tetapi apakah kita mau mempertahankannya.

Akankah budaya ini kita kembangkan dengan inovasi dan dukungan kebijakan, atau kita biarkan tergantikan sepenuhnya oleh kemasan sekali pakai yang meninggalkan beban lingkungan bagi generasi mendatang?

Jawabannya dimulai dari keputusan kecil: membawa wadah sendiri, memilih isi ulang, dan menghargai kebiasaan lama yang ternyata jauh lebih berkelanjutan.**DS

Baca juga artikel lainnya :

sampah-plastik-disulap-jadi-meja-dan-kursi-di-sma-pangudi-luhur