Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Sumba Timur: Ruang Belajar Multikultural yang Menjaga Toleransi Sejak Dini

MIN 3 Sumba Timur menjadi contoh nyata toleransi di Indonesia dengan menerima siswa Kristen dan Katolik di lingkungan madrasah Islam. Pendidikan multikultural ini menunjukkan keberagaman dapat tumbuh harmonis sejak usia dini.

Jan 22, 2026 - 19:12
 0  3
Madrasah Ibtidaiyah Negeri 3 Sumba Timur: Ruang Belajar Multikultural yang Menjaga Toleransi Sejak Dini
sumber foto : gg

Eksplora.id - Di tengah maraknya perbincangan tentang intoleransi dan sekat identitas, sebuah kisah dari Sumba Timur justru menghadirkan harapan. Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Sumba Timur, yang secara struktural merupakan sekolah berbasis pendidikan Islam, menjadi ruang belajar bersama bagi anak-anak lintas agama.

Dari total 217 peserta didik, tercatat 34 siswa beragama Kristen dan 23 siswa beragama Katolik menimba ilmu di madrasah tersebut. Kehadiran mereka bukan sekadar angka statistik, melainkan bukti nyata bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan keberagaman, bukan tembok pemisah.

Madrasah Islam, Rumah Bersama untuk Semua

Secara umum, madrasah sering dipersepsikan sebagai lembaga pendidikan eksklusif bagi siswa Muslim. Namun MIN 3 Sumba Timur mematahkan stigma tersebut. Sekolah ini membuka pintu selebar-lebarnya bagi anak-anak dari latar belakang agama yang berbeda, tanpa menghilangkan identitas dasar madrasah sebagai institusi pendidikan Islam.

Praktik ini bukanlah kebijakan simbolik semata, melainkan telah berjalan secara alami dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Para siswa belajar bersama, bermain bersama, dan tumbuh dalam suasana saling menghormati sejak usia dini.

Bukan “Non-Muslim”, Tapi Anak-anak Multikultural

Salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah pendekatan bahasa dan cara pandang pihak sekolah. Kepala Madrasah MIN 3 Sumba Timur, Siti Aminah, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menyebut siswa Kristen dan Katolik sebagai “siswa non-Muslim”.

“Kami memilih menyebut mereka sebagai anak-anak multikultural, karena sejak awal mereka adalah bagian utuh dari keluarga besar madrasah ini,” ujar Siti Aminah pada 16 Januari 2026.

Pilihan istilah ini bukan tanpa makna. Bahasa membentuk cara berpikir, dan cara berpikir membentuk perilaku. Dengan menempatkan semua siswa dalam bingkai multikultural, sekolah menanamkan nilai kesetaraan sejak awal, tanpa label yang berpotensi menciptakan jarak sosial.

Pendidikan Toleransi yang Hidup, Bukan Sekadar Teori

Di MIN 3 Sumba Timur, toleransi tidak diajarkan hanya lewat slogan atau materi pelajaran, tetapi dipraktikkan secara langsung. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang memperlihatkan bahwa perbedaan agama bukan penghalang untuk belajar, berteman, dan saling menghargai.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pendekatan seperti ini memiliki nilai strategis. Pendidikan dasar menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter generasi masa depan. Ketika anak-anak terbiasa hidup berdampingan dengan perbedaan, potensi konflik berbasis identitas dapat ditekan sejak dini.

Contoh Nyata Keberagaman Indonesia

Kisah MIN 3 Sumba Timur memperlihatkan wajah Indonesia yang sesungguhnya: beragam, inklusif, dan mampu hidup dalam harmoni. Madrasah ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan berbasis agama tidak harus tertutup, dan keberagaman tidak selalu berujung pada benturan.

Justru sebaliknya, ketika keberagaman dikelola dengan kesadaran dan empati, ia menjadi kekuatan sosial yang memperkaya proses belajar-mengajar. Anak-anak tidak hanya diajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga belajar tentang hidup bersama dalam perbedaan.

Menanam Masa Depan Lewat Pendidikan Inklusif

Apa yang dilakukan MIN 3 Sumba Timur layak menjadi contoh nasional. Di saat banyak pihak sibuk memperdebatkan toleransi di ruang publik, madrasah ini telah mempraktikkannya secara nyata dan konsisten.

Pendidikan multikultural seperti ini bukan hanya tentang menerima perbedaan, tetapi tentang membangun rasa memiliki bersama. Ketika anak-anak merasa diakui sebagai bagian utuh dari sebuah komunitas, mereka tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan empati terhadap sesama.

Dari ruang kelas sederhana di Sumba Timur, Indonesia belajar satu hal penting: toleransi paling kuat bukan yang paling lantang disuarakan, melainkan yang diam-diam dipraktikkan setiap hari.**DS

Baca juga artikel lainnya :

program-makan-bergizi-gratis-tingkatkan-kehadiran-pelajar-di-jayapura